tribunindonesia

Archive for the ‘PORPROV II/ JATIM’ Category

Penyelenggaraan Porprov II Jatim Menyalahi UU Keolahragaan

In PORPROV II/ JATIM on 14 Oktober 2009 at 4:00 PM

oleh Prima Sp Vardhana

TRIBUN, Surabaya – KONI Jawa Timur “kebakaan jenggot” mendengar KONI Surabaya mengkritisi penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Kota Malang pada 5-10 Oktober 2009. Kritik yang dilontakan Sekretaris Umum KONI Kota Surabaya Hoslih Abdullah, menyangkut penyelewengan SK Gubernur Jatim soal kegiatan Porprov II yang menghabiskan dana APBD sekitar Rp8,5 miliar.

Kepanitiaan Porprov II Jatim tahun 2009, menuru dia, ditetapkan melalui SK Ketua Umum KONI Jatim Imam Utomo. Bukan berdasar SK Gubernur Jatim seperti yang diamanatkan dalam UU nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Pada pasal 48 UU itu disebutkan, pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pelaksanaan pekan olahraga daerah.

“Artinya, gubernur sebagai kepala daerah tetap sebagai penyelenggara Porprov, bukan KONI Jatim. Untuk melaksanakan Porprov, Gubernur harus mengeluarkan SK kepada KONI Jatim. Faktanya, SK Gubernur Jatim tidak pernah ada sampai Porprov II berakhir,” kata Hoslih saat dihubungi ponselnya.

Dalam pertemuan terakhir KONI kabupaten / kota sebelum pelaksanaan Porprov II, KONI Surabaya sempat mempertanyakan kembali masalah SK Gubernur Jatim yang menetapkan struktur kepanitian Porprov II tersebut. Ironisnya KONI Jatim tak pernah menggubris dan seakan-akan cenderung menutup-nutui kebenaran yang harus dilaksanakan.

“Jauh sebelum itu, kami sudah mengingatkan KONI Jatim, tapi tidak pernah ditanggapi. Kami bukan mencari-cari masalah, tapi sekadar ingin meluruskan hal-hal yang kurang benar. Sikap kami ini demi kepentingan bersama dan menyelamatkan dana APBD dai kebocoran dengan kedok penyelenggaraan Porprov II,” kata Hoslih menegaskan.

Sikap kritis yang dilakukan KONI Surabaya itu ada benarnya, bahwa dalam pelaksanaan Porprov II terjadi banyak kebocoran dana APBD yang sengaja dilakukan oleh PB Porprov II yang terdiri dari para pengurus KONI Jatim, yang secara rakts kurang profesional. Misalnya, di sektor upacara pembukaan dan penutupan Porprov II yang ditangani Gatot Tantre. Untuk upacara pembukaan dan penutupan yang terselenggara dala GOR Ken Arok, Malang, menurut sumber di KONI Jatim, dana yang dihabiskan sekitar Rp. 800 juta. Padahal upacara pembukaan dan penutupan tersebut jauh dari kemeriahan, sehngga dana yang dihabiskan tak akan lebih dari Rp 400 juta.

Penyelewengan lain yang terlihat mencolok terjadi pada penyelenggaraan cabang olahraga Pencak Silat yang menelan dana sekitar Rp 180 juta. Padahal peserta yang bertanding kurang dari peserta Kejurda Penca Silat Jatim, yang rata-rata menelan dana penyelenggraan maksimal sekitar Rp 70 juta. Artinya secara teknik ada selisih Rp 110 juta dalam penyelengaraan cabor tersebut.

Selan itu, cabor yang digelar oleh pengurus KONI Jatim H. Fanan Hasanudin itu diselenggarakantanpa mengajukan rancangan anggaraan biaya secara rinci sebagaimana yang dilakukan cabor-cabor lain. Dalam fotocopy buku rencana anggaran pembiayaan yang dimiliki Tribun Online, rencana anggaran biaya cabor pencak silat hanya tertulis Rincian I Rp 165 juta (bukti telah menerima suntikan dana dari KONI Jatim), tambahan Rp 15 juta, sehingga menerima total dana Rp 180 juta. Tak pelak lagi halaman rencana biaya cabor pencak silat itu tidak ditandatangani oleh Koordinator Panitia Pelaksana Drs. Heru Widijoto, MS., Ketua Pelaksana Ds. Eddy Pitarn, Tim Verifikasi Dana Drs. Imam Buchori, MM., dan Ketua Bidang Pertandingan Drs. Irmantara Subagio, M.Kes.

Kendati demikian, secara hukum pihak KONI Jatim harus mempertanggungjawabkan. Pasalnya pihak KONI Jatim sebagaimana Nota Dinas yang dikirimkan Tim Verifikasi Drs. Ima Buchori, MM. pada Ketua Harian KONI Jatim Soekarno Marsaid per tanggal 29 September 2009 tentang pengajuan dana pelaksanaan pertandingan Porprv Jatim II per cabor itu, mencantumkan catatan item satu, bahwa tim verifikasi tidak merekomendasi penelenggaraan cabor Pencak Silat.Pasalnya sampai Nota Dinas itu dibuat, cabor Pencak Silat beum menyeahkan RAB (Rencana Anggaran Biaya) untuk diverifikasi.

Uniknya, walau belum menyerahkan RAB, tapi panpel cabor Pencak Silat telah menerima kucuran dana dari KONI Jatim, masing-masing sebesar Rp. 165 juta dan lewat Koordinator Panpel Drs. Heru Widijoto, MS., sebesar Rp 2 juta. Artinya, walau tanpa mengajuan RAB sebagaimana aturan yang dietapkan dan dilaksanakan 19 panpel cabor lain, ternyata panpel cabor Pencak Silat sudahmenerima kucuran dana segar Rp 167 juta.

SESUAI MEKANISME

Walau data yang dimiliki Tribun Online membuktikan, bahwa terjadi penyelewengan penggunaan dana APBD Jatim sekitar Rp 8,5 Miliar dalam penyelenggaraan Porprov II Jatim 2009. Demikian pula dalam menetapkan Kepanitiaan Porprov II Jatim yang menyalahi UU nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN), khususnya pada pasal 48, ternyata Ketua Harian KONI Jatim Soekarno Marsaid dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Rabu (14/10) siang, tetap ngotot jika pelaksanaan Porprov II tersebut tidak melanggar undang-undang dan sudah sesuai mekanisme yang berlaku.

“Secara yuridis formal, penyelenggaraan Porprov II tidak menyimpang dan melanggar UU. Penyelenggaraannya sudah sesuai payung hukum,” kata mantan Bupti Sumenep yang kita tercatat sebaga politkus dari Partai Hanura ini.

Soekarno Marsaid mengutip Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2007 pasal 16, yang menyebutkan ayat (1) Penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota, ayat (2) Pelaksanaan penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditugaskan kepada komite olahraga provinsi atau komite olahraga kabupaten/kota, ayat (3) Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota selaku penanggungjawab penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota menetapkan tempat penyelenggaraan dengan memperhatikan: poin a. kemampuan dan potensi calon tuan rumah; b. ketersediaan prasarana dan sarana; c. dukungan masyarakat setempat; d. pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga calon tempat penyelenggaraan; dan poin e. usulan dari komite olahraga provinsi atau komite olahraga kabupaten/kota.

Kemudian Soekarno juga menegaskan, bahwa KONI Jatim telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) Gubernur yang memberi mandat sebagai penyelenggara dan kepanitiaan. “Kami segera melaporkan hasil Porprov ini kepada gubernur, termasuk penggunaan anggarannya,” tambah Soekarno Marsaid tanpa menunjukkan SK Gubernur yang dimaksud. (rim) 

’Raja tak Bermahkota’

In PORPROV II/ JATIM on 10 Oktober 2009 at 4:16 PM

oleh Boim Mahendra/ Prima Sp Vardhana

USAI sudah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Jawa Timur di Malang. Sebanyak 20 cabang olahraga dipertandingkan dan 188 medali emas 188 perak dan 239 perunggu diperebutkan. Dengan regulasi penyelenggaraan yang berkonsep penggalian bibit atlet untuk Jawa Timur, persaingan mencari yang tercepat terkuat dan tertinggi itu masih mengukukan juara bertahan Kontingen Surabaya kembali memboyong predikat prestisus juara umum.

Ibukota provinsi Jatim itu memang lebih unggul dibandingkan peserta kabupaten atau kotamadya yang lain. Kendati demikian, banyak catatan khusus yang mewarnai pelaksanaan Porprov II selama sepekan ini, 5-10 Oktober.

Predikat prestise juara umum yang memiliki arti gramatikal harus selalu juara dalam segala hal, ternyata predikat itu gagal dilengkapi Kontingen Surabaya. Salah satunya adalah kegagalan mempertahankan medali emas cabang olahraga tergengsi dan terpopuler di dunia ini, yaitu sepak bola. Dalam pertempuran yang banyak menyedot minat itu, Surabaya gagal mengoleksi salah satu medali yang diperebutkan.

Kondisi ini bolehlah disebut sangat memalukan. Sebab dalam Porprov I di Surabaya dua tahun lalu, tim Surabaya dengan jumawanya mampu memboyong medali emas dengan membungkam tim Gresik. Namun yang terjadi dalam Porprov II ini sangat antiklimaks. Surabaya tak mengail sebuah kepingan medali, karena di partai perebutan perunggu harus tertunduk lesu dibungkam tim anak bawang Kab. Jombang dengan kedudukan 3-2.

Sebuah catatan yang perlu diperhatikan PSSI Surabaya, karena sejak kedatangan di Malang, tim yang ditangani Hally Maura ini telah sesumbar mampu merebut emas. Alih-alih merebut emas, untuk mengais perunggu pun tak mampu. Tak pelak lagi, di babak final para pemain Surabaya hanya terduduk lesu di tribun penonton sembari merenungi nasibnya.

Kegagalan di cabang sepak bola ini pun menempatkan Kontingen Surabaya bak seorang “Raja tak Bermahkota”. Sehingga sang juara umum ini tak seperti juara sejati adalah kegagalan memenuhi target perolehan medali. Kendati menjadi juara umum, target 60 emas yang diusung Surabaya gagal terpenuhi.

Ke depannya target ini harus dievaluasi, seiring dengan semakin meningkatnya pembinaan cabang olahraga di setiap kota dan kabupaten di Jatim. Banyak yang mengatakan beberapa cabang olahraga sudah hampir merata di setiap daerah.

Dengan kondisi ini tentunya sangat kondusif dalam mendukung peningkatan prestasi di Jatim, khususnya untuk mempersiapkan amunisi-amunisi baru di jenjang yang lebih tinggi, ala Pekan Olahraga Nasional (PON). “’Prinsipnya, yang mau membina olahraga dengan baik akan maju. Itu sudah dibuktikan oleh beberapa daerah yang selama ini menjadi daerah minor. Di antaranya, Batu yang ternyata berhasil merebut emas di cabor selam,” tutur Kabid Pembinaan dan Prestasi KONI Jatim Irmantara Subagio.

Jadi siapa yang mau total untuk memajukan pembinaan olahraga di daerahnya masing-masing, maka akan memetik hasilnya di kemudian hari.

Marilah kita tunggu dalam Porprov III/ 2011 mendatang.

Partai Final Catur Membuktikan Kekuatan Merata

In PORPROV II/ JATIM on 10 Oktober 2009 at 12:30 PM

oleh Zainn Al-Farisy

TRIBUN, MALANG – Pengurus Provinsi (Pengprov) cabang olahraga (cabor) patut berbangga dengan pelaksanaan Porprov tahun ini. Pasalnya, dengan digelarnya even dua tahunan ini ternyata semangat membina yang dilakukan daerah-daerah di Jawa Timur (Jatim) sungguh luar biasa.

Artinya, dari olahraga olah pikir ini banyak bermunculan atlet-atlet berpotensi bagus. Kemampuan mereka pun tidak kalah dibanding mereka yang selama ini mendominasi percaturan di Jatim. Bahkan, karena kualitas atlet di daerah juga bagus, tidak sedikit mereka yang populer sebelumnya lalu kandas di tengah jalan karena kalah.

Sebut saja, misalnya, Christine Damayanti asal Kota Kediri. Nasib serupa juga dialami Aay Aisyah Anisah dari kontingen Kabupaten Malang. Kehebatan dan nama besar mereka tidak membantu sama sekali. Mereka jeblok dalam upaya mempersembahkan yang terbaik buat daerah yang membesarkannya.

“Peta kekuatan di cabor catur merata. Belum ada satu daerah pun mendominasi perolehan medali. Ini membuktikan bahwa kualitas para atlet menyebar di mana-mana,” jelas Yusuf Satriono, tehnical delegate cabor catur.

Kekalahan Christine dan Aay, menurut Yusuf, bukan karena permainan mereka jelek. Namun, kemampuan lawannya juga seimbang dan bisa mengantisipasi setiap manuver yang dilakukannya. Nasib tak kalah menyesakkan juga dialami Siswiana Devi berasal dari Kota Pasuruan.

Juara kejuaraan antar mahasiswa di Jakarta beberapa waktu lalu itu pun tumbang. Obsesinya memboyong medali emas untuk daerahnya juga kandas. Padahal, dia juga digadang-gadang naik ke podium paling atas sekaligus mempersembahkan medali emas buat Kota Pasuruan.

Dari empat medali emas yang diperebutkan hingga Sabtu (9/10), semuanya dibagi rata. Yakni, milik Sidoarjo, Sampang, Kota Malang, dan Kabupaten Lumajang. Surabaya yang sering menggelar even belum berhasil mengoleksi emas. Daerah ini sangat berharap bisa mencuri satu atau dari empat emas tersisa siang ini (10/10).
Menurut Yusuf, pelaksanaan Porprov II kali ini benar-benar mendapat perhatian lebih serius dari Pengprov Percasi Jatim. Itu terlihat dengan diterjunkannya lima dewan hakim fairplay untuk memantau setiap jalannya pertandingan yang dimungkinkan muncul adanya ‘permainan’.

“Mereka punya ruangan khusus yang steril dari setiap anggota kontingen. Mereka selalu kontrol kemampuan setiap atlet,” katanya.

Tuan Rumah Rebut 2 Emas Circuit Race

In PORPROV II/ JATIM on 10 Oktober 2009 at 11:20 AM

oleh Arief Limbat

TRIBUN, MALANG – Tuan rumah Kota malang membuat kejutan dalam partai terakhir cabang balap sepeda Porprov II di depan Balai Kota, Jln Tugu Malang. Dua partai final nomor Circuit Race yang digelar di hari terakhir, Sabtu (10/10), dengan mengejutkan berhasil dikuasai. Dua medali emas pun menambah pundi-pundi Kota Malang lewat Elga Kharisma di kategori puteri dengan catatan waktu 48 menit 39,00 detik, sementara emas putera direbut Aris Putu Yasin dengan catatan waktu 1 jam 9 menit 29 detik.

Sukses kedua pembalap tuan rumah itu sekaligus menggagalkan ambisi tim Surabaya untuk memenuhi target menambah satu keping dari nomor puter. Ini karena para pembalap andalan kota pahlawan itu hanya mampu menambah satu keping perunggu di kategori puteri lewat kaki Yessika Novayanti menyentuh finish diposisi ketiga dengan catatan waktu 52 menit 44 detik. Sedangkan dua pembalap terdepan, Elga Kharisma dan Tri Kurniasari menyentuh finish dengan catatan waktu sama, 48’39” yang menempuh lintasan 30 km.

Pelatih road race Surabaya H.Tarwi mengaku puas dengan hasil ini. Meski sebetulnya hasil ini kurang memuaskan, karena Surabaya ditarget satu emas di kelompok putra. “Dua perunggu yang kami dapat dibagian putri sudah melegakan. Padahal kami memiliki persiapan hanya tujuh bulan,” aku Tarwi.

Nasib apes harus dipetik kelompok putra. Andalan Surabaya M.Saifullah gagal memenuhi target satu emas. Dia sempat mengalami masalah ban dan terjatuh selama balapan berlangsung. Selain itu Satrio Inggil Adi Cahya sempat meninggalkan rombongan hingga 200 m dua lap menjelang finish.

Karena kurang dukungan, dari rekan-rekannya, dia tertangkap rombongan dan gagal masuk 10 besar. Dikelompok putra, Aris Putu Yasin dan Dwi Edi Kurniawan (Malang) berbagi emas dan perak. Keduanya memiliki catatan waktu sama, 1.09’29” yang menempuh lintasan 48 km. Pembalap Kota Mojokerto Jimmy Pranata merebut perunggu dengan catatan waktu sama.

Balapan putra jauh lebih seru, lantaran menyuguhkan persaingan sengit. Sejak bendera flying start dikibarkan, seluruh pembalap langsung melakukan serangan. Silih berganti memimpin rombongan dan Aris Putu bisa berhasil merebut emas. Sedangkan kelompok putri, Tri Kurniasari dan Elga Kharisma langsung meninggalkan rombongan. Keduanya silih berganti memimpin dan tak tersentuh hingga finish.

Hasil ini menempatkan Kota Malang sebagai juara umum balap sepeda. Sebelumnya Malang sudah memiliki empat emas, dari nomor MTB Cross Country Putra, BMX putri, dan road race putra-putri. Total emas yang dimiliki Kota Malang 6 keping, 6 perak dan 3 perunggu.

“Alhamdulillah kami bisa melewati target. Memang di dua nomor road race dan circuit race putra-putri kita tidak pasang target, dan berharap di nomor MTB dan BMX Cross,” terang pelatih sepeda Malang Zainul Siswanto. Namun yang terjadi, dua nomor harapan lepas dan mendapat ganti di nomor road race dan circuit race putra-putri. (rif)

Bola Voli Banyuwangi Putri Kembali Berkibar

In PORPROV II/ JATIM on 10 Oktober 2009 at 10:38 AM

oleh Zanun Al-Farizy

TRIBUN, MALANG – Seperti di duga semula, peta kekuatan di cabor bola voli Jatim masih belum bergeser dari daerah-daerah yang sebelumnya selalu mendominasi setiap even. Di tim putri, kemampuan tim putri dari Banyuwanig, kota dan kabupaten Blitar belum tergusur oleh daerah lainnya.

Surabaya yang dalam tiga tahun terakhir moncer setelah munculnya klub bola voli profesional Bank Jatim, ternyata belum banyak membantu. Padahal, banyak pemain binaan Bank Jatim memperkuat kontingen Surabaya. Tapi, kemampuan mereka belum membantu keinginan pengcab PBVSI Surabaya. Hanya medali perunggu yang bisa mereka persembahkan. Sedangkan medali emas dan perak diperebutkan antara Banyuwangi dan Kota Blitar, yang selama ini selalu mendominasi.

Di bagian pria, Surabaya mulai diperhitungkan. Walaupun punya klub sebesar Samator, kemampuan para atlet voli Surabaya baru terangkat sekarang. Justru Sidoarjo yang keteteran. Juara musim lalu itu tersendat. Namun, kemampuan tim voli asal Kota Probolinggo, Lumajang, dan Kediri tetap konsisten.

Pembinaan di daerah-daerah yang begitu bagus membuat persaingan meningkat. Tuban yang sebelumnya tidak diperhitungkan, ternyata pembinaannya juga menjanjikan. Meski kandas di perempatfinal, tapi Tuban sudah membuat kejutan dengan mengalahkan Surabaya di babak awal.

“Jujur, Porprov sangat membantu buat Jatim dari cabang bola voli dalam ruangan. Dari even ini, ada banyak potensi atlet yang terlihat untuk ditingkatkan ke level lebih tinggi lagi,” jelas Masyhudi, mantan pelatih tim PON Jatim.

Menurut Masyhudi, dari segi skilll individu dan tim, plus postur tubuh, semuanya sangat mendukung terciptanya kekuatan besar bagi Jatim kedepannya. Pasalnya, Jatim yang sudah sejak lama dikenal sebagai pusat pembinaan atlet bola voli putra di level nasional akan terus terjaga.

Yang jelas, daerah-daerah di seluruh Jatim bakal terus membina untuk menyiapkan atletnya menyongsong Porprov III 2011 mendatang. “Geliat daerah-daerah di Jatim sudah mulai kelihatan sekarang. Kita patut waspada di Porprov dua tahun lagi,” ungkap Hoslih Abdullah, Sekum KONI Surabaya. –NUN

Dessy Hanya Sumbang Satu Emas Untuk Sidoarjo

In PORPROV II/ JATIM on 8 Oktober 2009 at 2:38 PM

oleh Prima Sp Vardhana

TRIBUN, Malang – Atlet panahan asal Kabupaten Sidoarjo Dessy Anggrani hanya mampu menyumbang satu medali emas untuk Kab. Sidoarjo dari nomor Ronde Nasional, pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Jawa Timur 2009, Kamis (08/10).
 
Dessy yang turun di tiga nomor, meraih medali emas di jarak 30 meter, sementara di jarak 40 dan 50 meter hanya mampu merebut medali perak. Untuk jarak 30 meter, Dessy mendapat saingan kuat dari pemanah Kota Blitar Aminatus Sholihah karena sama-sama membukukan skor 310.

Namun, setelah dilakukan aduan untuk menentukan juara, Dessy berhasil mengungguli Aminatus. Sementara medali perunggu direbut Triyastika (Surabaya).

Pada jarak 50 meter, Dessy Anggrani mencetak skor 253 dan tertinggal jauh dari pemanah Kabupaten Ponorogo Ariska Dewi yang meraih skor 299. Triyastika kembali harus puas dengan perunggu.

Triyastika baru berhasil meraih emas di jarak 40 meter saat berhasil mengukir skor 292, unggul tipis dari Dessy Anggraini dengan 288. Pemanah Kabupaten Ponorogo Melia Nur Farida meraih perunggu di nomor ini. Sementara itu di kelompok putra, Kota Surabaya kembali menambah satu medali emas melalui Eko Darmawan di jarak 50 meter dengan skor 268. Ia menang tipis atas rekannya Raha Saifudin (267) dan pemanah tuan rumah Agung Setiyono (262).

R. Panjiaji dari Kabupaten Lamongan sukses memenangi perlombaan jarak 40 meter melalui skor tertinggi 305, diikuti Imam Suhaji (Kota Blitar) dengan 302 dan Agung Setiyono dengan 301.

Hasil ketat terjadi di jarak 30 meter, ketika tiga pemanah masing-masing Agung Setiyono, Raha Saifudin dan Yoevanata (Kabupaten Bojonegoro) sama-sama mencatat skor akhir 323.

Setelah melalui babak aduan, pemanah tuan rumah Agung Setiyono berhasil unggul dan merebut emas, sementara perak dan perunggu menjadi milik Raha Saifudin dan Yoevanata. (rim)

Hasil Final Ronde Nasional:
Putri

– Jarak 50 meter: 1. Ariska Dewi (Ponorogo) 299, 2. Dessy Anggrani (Sidoarjo) 253, 3. Triyastika Kurnia (Surabaya) 252
Jarak 40 meter: 1. Triyastika Kurnia (Surabaya) 292, 2. Dessy Anggrani (Sidoarjo) 288, 3. Melia Nur Farida (Ponorogo) 285
Jarak 30 meter: 1. Dessy Anggrani (Sidoarjo) 310, 2. Aminatus Sholihah (Kota Blitar) 310, 3. Triyastika Kurnia (Surabaya) 308

Putra

Jarak 50 meter: 1. Eko Darmawan (Surabaya) 268, 2. Raha Saifudin (Surabaya) 267, 3. Agung Setiyono (Kota Malang) 262
Jarak 40 meter: 1. R. Panjiaji (Lamongan) 305, 2. Imam Suhaji (Kota Blitar) 302, 3. Agung Setiyono (Kota Malang) 301
Jarak 30 meter: 1. Agung Setiyono (Kota Malang) 323, 2. Raha Saifudin (Surabaya) 323, 3. Yoevanata (Bojonegoro) 323