tribunindonesia

Archive for the ‘NASIONAL’ Category

Menteri Keuangan Paparkan Bukti Rekaman

In NASIONAL on 13 Desember 2009 at 5:37 PM
SKANDAL BANK CENTURY

JAKARTA, TRIBUN – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak berkomunikasi dengan pemegang saham Bank Century, Robert Tantular, saat memimpin rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK pada 21 November 2008.
Bukti tersebut diungkapkan dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (13/12), yang menghadirkan semua peserta rapat KSSK dari Departemen Keuangan, ditambah konsultan hukum yang ditunjuk Menteri Keuangan, Arif Surowijoyo, Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi Marsillam Simanjuntak, dan mantan Sekretaris KSSK Raden Pardede.
Konferensi pers di Departemen Keuangan ini dimoderatori pihak luar Departemen Keuangan, yakni Wimar Witoelar.
Keterangan pers disampaikan Menteri Keuangan untuk membantah pernyataan anggota Panitia Khusus Hak Angket Bank Century DPR dari Fraksi Partai Golongan Karya, Bambang Soesatyo, beberapa hari sebelumnya.

Bambang mengaku memiliki bukti bahwa Sri Mulyani berkomunikasi dengan pemegang saham Bank Century yang saat ini sudah menjadi terpidana dalam penggelapan uang nasabah Bank Century, Robert Tantular. Bukti yang dimaksud Bambang adalah rekaman suara yang di dalamnya terdapat suara Menteri Keuangan dan suara lain yang dianggapnya sebagai suara Robert Tantular (Kompas, 12/12).

Iklan

Tragedi Lapindo, Noda dan PR Pemeritahan SBY II

In NASIONAL on 20 Oktober 2009 at 10:42 AM

oleh Prima Sp Vardhana

BANYAK permasalahan hukum dan HAM (Hak Asazi Manusia) tinggalan masa pemerintahan SBY pertama, yang berpeluang nyrimpeti kelancaran pemerintahan SBY kedua kalinya yang Selasa (20/10) pagi dilantik di Gedung MPR. 

Kasus Lumpur Lapindo (KLL) yang melibatkan Taipan pribumi Abu Rizal Bakrie, misalnya. Tampaknya kasus ini semakin berat tatkala sebagian besar masyarakat, termasuk para pemilih SBY-Boediono saat Pilpres 2009, merasa tidak yakin SBY bisa menyelesaikan KLL.

Demikian yang disampaian Fajar Nursahid, Kepala Divisi Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dalam penyampaian hasil survei Pesan Publik untuk SBY-Boediono di kantornya, Jakarta, Selasa (20/10). Menurut dia, hasil survei yang dirilis LP3ES menunjukkan sebanyak 52 persen responden tidak yakin KLL akan selesai dalam 5 tahun pemerintahan SBY ke depan. Sedangkan 38 persen merasa yakin dan hanya 10 persen responden yang tidak menentukan sikap. Ketidakyakinan itu, juga dilihat dari pandangan masyarakat para pemilih 3 pasangan kadidat presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2009 lalu.

Masih dari hasil survei, 47 persen para pemilih SBY-Boediono menyatakan ketidakyakinannya bahwa pilihan mereka akan dapat menyelesaikan KLL. Sedangkan 43 persen responden merasa yakin dan 10 persen tidak tahu.

Bagaimana dengan para pemilih Mega-Prabowo dan JK-Wiranto? Ternyata besaran simpangannya sangat besar. Sebanyak 67 persen para pemilih Mega-Prabowo tidak yakin SBY dapat menyelesaikan KLL, dan hanya 29 persen yang yakin.

Lebih heboh lagi, para pemilih JK-Wiranto yang sebanyak 76 persen mengambil sikap tidak yakin dan hanya 19 persen yang yakin bahwa SBY akan menyelesaikan KLL. Lebih lanjut, LP3ES sendiri merasa prihatin dengan persoalan ini karena sudah lebih dari 3 tahun KLL tidak kunjung selesai.

“Fakta menunjukkan bahwa pemerintah tidak pro-aktif untuk menyelesaikan soal ini. Menganggap masalah Lapindo tidak penting,” ungkap Suhardi Suryadi, Direktur LP3ES, dalam kesempatan yang sama. Survei ini merupakan hasil wawancara melalui telepon pada 14 dan 15 Oktober 2009.

Jumlah sampel 1.990 orang yang ditentukan secara sistematis berdasarkan buku telepon residential yang diterbitkan PT Telkom yang mewakili masyarakat pengguna telepon di 33 ibu kota provinsi. Sebesar 50:50 perempuan dan laki-laki yang mayoritasnya berusia 36-50 tahun dengan tingkat pendidikan akhir perguruan tinggi dan SMA. Margin of error lebih kurang 2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

“Soal biaya (dari kami) sendiri,” demikian Suhardi Suryadi, Direktur LP3ES. (pvardhana88@gmal.com)

Pimpinan Sementara KPK Harus Penuhi Lima Kriteria

In NASIONAL on 23 September 2009 at 4:11 PM


PENANDATANGANAN Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Perubahan UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengatur penggantian tiga pimpinan KPK yang telah dinonaktifkan, sepaket dengan pembentukan Tim Lima untuk memilih penggantinya.

Menhuk dan HAM Andi Matalatta, Menko Polhukam Widodo AS, Wantimpres Adnan Buyung Nasution, pengacara Todung Mulya Lubis, dan mantan pimpinan KPK Taufiequrahman Ruki ditunjuk untuk merekomendasi para calon pengganti sementara.

Belum ada kriteria khusus yang dilansir Tim Lima, tetapi Indonesian Corruption Watch (ICW) mengajukan sejumlah kriteria sebagai masukan untuk Tim Lima. “Pertama, pimpinan tidak dari kalangan dekat presiden. Kedua, tidak boleh diintervensi langsung secara politik, atau merupakan bagian dari parpol atau simpatisan parpol yang akan membahayakan independensi KPK,” tutur Koordinator Bidang Hukum ICW Febri Diansyah dalam keterangan pers, Rabu (29/3).

Ketiga, ICW menolak pimpinan pengganti yang berasal dari jaksa atau pejabat polisi yang masih aktif karena pada awalnya, KPK sendiri dibentuk dengan latar belakang kegagalan dalam penegakan hukum oleh keduanya.

Keempat, jika pimpinan KPK berasal dari kalangan advokat maka ICW menolak calon yang pernah menjadi pembela terdakwa kasus korupsi. Kriteria kelima adalah syarat-syarat utama yang harus dipenuhi, ungkap Febri, yaitu memiliki integritas sepanjang rekam jejaknya sebelum mencalonkan diri, tidak pernah melanggar UU, bersifat kompromi terhadap koruptor atau tidak tegas dengan advokasi umum.

“Ini bisa dilakukan dengan pengamatan masyarakat atau investigasi rekam jejak oleh Tim Lima,” ujar Febri. Yang tak kalah pentingnya, lanjut Febri, adalah harta kekayaan si calon. Calon lebih baik tak memiliki kekayaan yang lebih dari level jabatannya. (vd/kom)

Kapolri: Teroris Itu Anggota Al Qaeda Asia Tenggara

In NASIONAL on 17 September 2009 at 6:40 PM

SELAIN berhasil membekuk lima teroris di Solo, Jawa Tengah, Kepolisian Republik Indonesia juga mengamankan sejumlah dokumen dan dua laptop. Dokumen tersebut menerangkan jaringan teroris di Indonesia yang diburu beberapa waktu ini merupakan jaringan Al Qaeda Asia Tenggara.

“Itu semua dalam dokumen mereka. Jadi tidak serta-merta anak-anak di lapangan atau saya sendiri yang menentukan ini. Tapi dokumen mereka yang berbicara tentang kedudukan mereka sebagai qaid (pemimpin) dari tanzim Al Qaeda wilayah Asia Tenggara,” ujar Kepala Polri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (17/9).

Menurut dia, dalam dokumen itu juga terdapat nama Boim yang tercantum sebagai pejabat penting dari Al Qaeda Asia Tenggara. “Kemudian termasuk di dalamnya Syarifuddin Zuhri yang memang dilatih bersama dengan mereka di sana,” jelasnya.

Namun, Kapolri tidak mau menyebutkan berapa jumlah anggota Al Qaeda di Indonesia. Pastinya, lanjut Bambang, Kapolri menegaskan tidak akan berhenti dalam mengusut. Oleh karena itu, Polri memilah informasi untuk disampaikan ke masyarakat agar target tidak lolos.

Peran Korban

Empat tersangka terorisme tewas dalam baku tembak dengan Densus 88 dalam penggerebekan di Kepuhsari, Mojosongo, Jebres, Solo. Keempat pelaku terorisme yang tewas memiliki peran penting dalam kasus-kasus terorisme di Indonesia. 

Berikut empat tersangka terorisme yang tewas dan perannya, sesuai keterangan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD): 

1. Bagus Budi Pranoto alias Urwah. 
– Dia merupakan pelaku bom Kedubes Australia tahun 2004 yang sudah divonis 7 tahun penjara dan mendapat pembebasan bersyarat selama 4 tahun. Setelah bebas, Urwah bermain lagi, termasuk terlibat dalam penyiapan bom bunuh diri di Jatiasih. 
– Urwah sempat menjadi target di Solo pada 16 Agustus 2009 lalu, tapi lepas, karena pemberitaan media massa. Urwah diketahui sebagai ahli pembuat bom. 

2. Hadi Susilo alias Adib. 
Pria berumur 24 tahun, suami dari Munawaroh. Dia berperan sebagai penyewa rumah untuk persembunyian Noordin, Urwah, dan Aji. 

3. Ario Sudarso alias Aji

Dia murid langsung ahli bom Dr Azahari. Dia sangat lihai dalam merakit bom. 

4. Noordin M Top. 
Buron kelas kakap, yang selama ini selalu lepas dari penggerebekan. Dia adalah Qoid Tandzim Al Qaeda Asia Tenggara. Dia dipastikan tewas setelah melalui pemeriksaan antemortem dan sidik jari. Pemeriksaan sidik jenazah terhadap sidik jari Noordin yang dikirim Polisi Diraja Malaysia cocok.  

“Alhamdulillah ini kebesaran Allah SWT sekali lagi di Bulan Ramadan. Ada 14 titik kesamaan (sidik jari) yang bisa dipertanggungjawabkan secara yuridis formal. Ini identik dengan DPO sembilan tahun yang kita jadikan target untuk ditangkap,” kata Kapolri sambil memperlihatkan print out hasil sidik jari. (vd/kompas,detikcom)

Mayat Noordin Dibuktikan 14 Titik Sidik Jari

In NASIONAL on 17 September 2009 at 4:30 PM

KAPOLRI Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memastikan salah satu korban tewas dalam penggerebekan tim Detasemen Khusus 88 di Kampung Kepuh Sari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojo Songo, Kecamatan Jebres, Solo, adalah Noordin M Top.

“Berdasar sidik jari, terdapat kesamaan pada 14 titik, baik jari kiri maupun kanan identik dengan DPO yang sembilan tahun kita jadikan target untuk kita tangkap. Dan dia adalah Noordin M Top,” ujar Kapolri di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (17/9). Pernyataan Kapolri itu langsung disambut tepuk tangan semua yang hadir di sana.

Menurut Kapolri, keberhasilan Densus 88 melumpuhkan empat teroris dalam penggerebekan Kamis pagi itu merupakan berkah bagi bangsa Indonesia. “Ini adalah berkah di bulan Ramadhan bagi seluruh bangsa Indonesia.”

Dikatakan Kapolri, selain Noordin, korban yang tewas adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah, pelaku pengeboman Kedubes Australia tahun 2003, lalu Susilo alias Abid (24), yang menghuni rumah di Jebres, Ario Sudarso alias Aji alias Suparjo Dwi Anggoro alias Dayat alias Mistam Husamudin. Sementara korban luka adalah Putri Munawaroh yang dirawat di RS Polri Kramat Jati, istri Susilo.

Tidak Meledakkan Diri

Gembong teroris yang paling dicari di Indonesia, yaitu Noordin M Top, tewas karena tembakan polisi dalam penggerebekan di sebuah rumah di Jebres, Solo, Jawa Tengah, Rabu (16/9). Noordin tidak meledakkan dirinya sendiri.

“Untuk Noordin, terjadi tembak-menembak. Mereka berhasil kita lumpuhkan. Noordin meninggal karena tindakan tegas, tidak karena mereka meledakkan diri,” jelas Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dalam keterangan persnya kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (17/9).

Kapolri menjelaskan, tim Densus 88 telah beberapa kali menyerukan agar para teroris yang berada di dalam rumah menyerah. Seruan polisi ini dijawab dengan tembakan dari dalam rumah. Polisi pun mengambil tindakan tegas.

Dijelaskan Kapolri, para teroris memiliki bom di dalam rumah yang siap untuk meledak. Tim Densus berhasil meledakkan bom-bom itu. “Jadi suara yang meledak keras dalam penggerebekan semalam itu berasal dari bom mereka yang berhasil kami atasi,” jelas Bambang.

Dalam penggerebekan itu empat orang tewas dan tiga lainnya berhasil dibekuk hidup-hidup. Selain Noordin, korban tewas lain adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Susilo alias Adik, dan Ario Sudarso alias Aji.

Munawaroh Tertembak

Satu dari lima orang yang berada di rumah di Kampung Kepoh Sari RT 03 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, saat terjadi baku tembak antara Detasemen Khusus 88 dan tersangka teroris dikabarkan selamat. Dia adalah istri Adib Susilo, Putri Munawaroh, yang dikabarkan tengah hamil.

Munawaroh dikabarkan berada dalam keadaan kritis dan saat ini dirawat di sebuah rumah sakit di Solo. Saat dikonfirmasi tentang hal itu, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Nanan Sukarna membenarkan Munawaroh sedang dirawat di rumah sakit karena luka tembak. Namun, dia tidak berkomentar tentang keadaan Munawaroh yang dikabarkan kritis.

“Dari lima orang dalam rumah, empat tewas di tempat kejadian perkara karena melakukan perlawanan menembak. Istri Susilo luka, sekarang dalam perawatan,” kata dia dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Jakarta, Kamis (17/9).

Menurut dia, dalam baku tembak tersebut satu anggota Polri ikut terluka. Anggota tersebut juga terkena tembakan. “Satu anggota luka tembak,” kata dia. (vd/Kompas)

Polri Temukan Delapan Karung Bahan Peledak

In NASIONAL on 17 September 2009 at 12:00 PM

TIM Densus 88 menemukan delapan karung bahan peledak dalam penggerebekan sebuah rumah warga di Kampung Kepoh Sari RT 03 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, sejak Rabu (16/9) pukul 22.00. 

“Ada delapan karung bahan peledak,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Nanan Sukarna kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (17/9). 

Selain itu, ujarnya, ditemukan sejumlah granat dan senjata di rumah yang disewa selama lima bulan oleh pasangan Adib Susilo dan Putri Munawaroh tersebut. Namun, Nanan mengaku belum mengetahui tentang jenis senjata, granat, dan bahan peledak itu. 

“Ada beberapa senjata, ada granat, dan bahan peledak. Nanti tim dari Solo akan segera datang dan kami akan coba identifikasi secara forensik sehingga data itu bisa dipertanggungjawabkan,” tuturnya. 

Termasuk, katanya, identitas semua jenazah yang tewas dalam penggerebekan itu. Nanan belum dapat memastikan identitas mereka. Beredar kabar, salah satu dari mereka adalah Urwah, buronan pengebom JW Marriott dan Ritz-Carlton. Dia membenarkan penggerebekan ini merupakan rangkaian dari pengeboman kedua hotel bintang lima itu. 

Nanan mengatakan, Polri akan memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait penggerebekan rumah persinggahan itu sekitar Kamis sore setelah mendapat data dari keforensikan.

Senjata Aktif

Dalam penggerebekan rumah yang diduga dijadikan tempat persembunyian teroris di Jebres, Solo, polisi menemukan sebuah laptop, satu pistol jenis FN, satu peledak dalam bentuk pipa, dan 8 kilogram bahan peledak.

Menurut informasi dari petugas intelejen di lokasi, barang-barang itu ditemukan dalam rumah yang dihuni pasangan suami istri Susilo alias Abid (24) dan Putri Munawaroh (20) di Kampung Kepuh Sari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojo Songo, Kecamatan Jebres, Solo, yang menjadi sasaran pengepungan tim Detasemen Khusus 88.

Saat ini polisi masih berusaha menjinakkan bahan peledak dan menyisir daerah sekitarnya. Sementara itu, dalam pengamatan Kompas, rumah yang dijadikan persembunyian tersangka teroris mulai ditutup dengan menggunakan seng.

Seperti diberitakan sebelumnya, penyerbuan terhadap rumah di Jebres itu mengakibatkan empat orang tewas. Mereka disebut-sebut sebagai Susilo alias Abid, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Maruto, dan Putri Munawaroh. Namun, identitas ini masih samar karena polisi belum memberikan pernyataan resmi terkait penggerebekan tersebut. (vd/kompas)