tribunindonesia

Archive for the ‘KONI’ Category

Pokja Wartawan Olahraga Mencari Kriteria Ketua KONI Jatim

In KONI on 15 April 2010 at 3:21 PM
oleh Prim Sp Vardhana
Surabaya, TRIBUN – Dua bulan lagi kepemimpinan H. Imam Utomo Soeparno sebagai Ketua Umum KONI Jatim periode 2006-2010 akan berakhir. Proses suksesinya akan berlangsung dalam Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) yang renacananya digelar pertenghan Mei mendatang. Ironisnya sampai saat ini sosok yang layak menduduki posisi top leader itu, masih belum dapat digariskan. Sehingga dapat diprediksikan sosok yang dibutuhkan KONI Jati sebagai pemimpin.
Empati terhadap kondisi memprihatinkan ini, maka Kelompok Kerja (Pokja) wartawan olahraga yang ngepos di KONI Jatim, terdorong melakukan penjaringan kriteria sosok ideal yang layak menempati Tahta Ketua Umum KONI Jatim 2010-2014 itu. Teknik yang digunakan adalah menggelar seminar sehari bertemakan ” Mengupas Pembinaan Kepemimpinan dan Regulasi Olahraga Jatim” di Hotel Simpang Surabaya, Sabtu (17/4) pagi.
“Dari seminar tersebut, kami harapkan muncul figur yang pas untuk menjadi ketua umum KONI Jatim periode 2010-2014 nanti. Figur tersebut harus mampu mempertahankan Jatim sebagai juara umum dalam PON 2012. Selain itu, mampu meningkatkan prestasi di tingkat nasional atau internasional,” kata Arifin Hamid, penanggung jawab seminar di  ruang rapat KONI Jatim, Kamis (15/4) siang.

KONI Sidoarjo Diharapkan Rangkul Bapak Angkat Buat Cabor

In KONI on 22 Oktober 2009 at 4:59 PM

oleh Prima Sp Vardhana

TRIBUN, SidoarjoPekan olahraga Provinsi (Porprov) II Jatim di Malang telah berakhir 10 Oktober lalu. Kontingen Kota Surabaya berhasil mempertahankan prestasinya sebagai juara umum dengan 47 emas, sementara posisi kedua hingga kelima ditempati kontingen tuan rumah Kota Malang, Kab. Sidoarjo, Kab. Malang, dan Kota Kediri.

Dalam perebutan kursi lima besar itu, prestasi yang ditunjukkan kontingen Kab. Sidoarjo sangat luar biasa. Pasukan yang hanya menggelar pemusatan latihan daerah (Puslatda) hanya lima hari mulai 27 September hingga 1 Oktober itu, ternyata berhasil memperbaiki prestasi yang diraih dalam Porprov I/2007 di Surabaya. Kontingen yang hanya berlaga dalam 17 cabang olahraga (cabor) dari 20 cabor yang dipertandingkan itu, dengan mengejutkan menggusur posisi kontingen Kota Kediri dari posisi ketiga.

Sukses yang didulang para atlet Sidoarjo itu secara prestise sangat membanggakan Bupati Sidoarjo H. Win Hendrarso saat dihubungi di ruang kerjanya, beberapa hari lalu. Menurut orang nomor satu di Kota Delta itu, karena sukses memperbaiki posisi itu secara prestasi membuktikan keberhasilan sistem pembinaan olahraga yang dilakukan pengurus cabang (pengcab) olahraga di Sidoarjo.

Sedangkan kucuran medali yang dijanjikan KONI Sidoarjo akan diberikan terhadap atlet yang berhasil mendulang medali Porprov II dilakukan pada 19 Oktober. Peraih medali emas mendapat Rp 2 juta. Peraih medai Perak dan Perunggu, masing-masing diganjar Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta. Untuk atlet yang tidak mendapat medali, masing-masing memper­oleh Rp 200 ribu.

Kebahagiaan yang ditunjukkan Win kian memuncak, setelah diketahui dalam pertempuran perebutan medali Porprov II di Malang, ternyata ada beberapa tim cabor mampu membukukan medali melebihi target yang ditetapkan KONI Sidoarjo. Tim karate, misalnya.

”Saya berharap kedepannya KONI harus memberikan perhatian spesial terhadap cabor-cabor yang mampu mendulang medali melebihi target, sehingga prestasi para atletnya mengalami peningkatan pesat dan bermanfaat untuk Jatim dan nasional,” ujarnya.

Sikap sama juga dilontarkan Wakil Bupati Sidoarjo H. Syaiful Ilah, bahkan kandidat kuat pengganti Win Hendrarso untuk periode 2010-2014 ini menyarankan, keberhasiln kontingen kota petis dalam Porprov II itu perlu ditindaklanjuti dengan peningkatan sistem pembinaan olahraga seluruhnya, khususnya terhadap cabor-cabor yang berhasil membuktikan hasil pembinaan atletnya dengan mendulang medali Porprov II.

Perhatian peningkatan sistem pembinaan atlet, menurut ketua PKB Sidoarjo ini, secara manajerial sangat beragam. Namun yang paling penting dan perlu ditindaklanjuti KONI Sidoarjo adalah menjadi mediator pencab-pengcab cabor, untuk mendapatkan bapak angkat yang siap mendukung pembinaan atlet-atlet Sidoarjo.

”Di Sidoarjo ini ada 700 lebih pengusaha mapan sebagaimana catatan Kadin Sidoarjo, masa merangkul satu pengusaha atau lebih untuk satu cabor tidak bisa dilakukan KONI. Kalau pun kesulitan ini yang terjadi, maka Pemkab siap memberikan dukungan dalam program KONI merangkul pengusaha sebagai bapa angkat cabor,” ujarnya.
 

TOLERANSI KEGAGALAN

Sukses Kab. Sidoarjo masuk tiga besar juara umum dengan mendulang 11 medali emas, 12 perak, dan 13 perunggu, secara prestise belum layak disebut sebagai sebuah keberhasilan kontingen. Pasalnya 260 atlet dan ofisial yang diturunkan dalam 17 cabor Porprov II, ternyata 5 cabor seperti bola voli, basket, bridge, silat, dan tenis meja mengalami kegagalan.

Dengan gagalnya 5 cabor tersebut dalam mendulang medali, maka asupan dana APBD Sidoarjo sebesar Rp 1,4 miliar yang diterima KONI dari Pemkab Sidoarjo yang sebagian besar untuk pengiriman tim ke Porprov II, secara prestise tidak mendapatkan imbalan seimbang dari kontingen yang dikirimkan dalam Porprov II.

Tolok ukur kegagalan memberikan imbalan seimbang dari asupan dana APBD untuk KONI Sidoarjo itu, adalah kegagalan lima tim cabor yang dikirimkan. Fakta itu menunjukkan, bahwa kontingen yang dikirimkan mengalami kegagalan 30%. Prosentase kegagalan tersebut secara prestasi, dinilai Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jatim Irmantara Subagya di Stadion Gajayana, melebihi standart toleransi kegagalan pengiriman sebuah kotingen olahraga.

Batas toleransi kegagalan sebuah kontingen olahraga dalam mendulang medali, menurut mantan petenis nasional ini, secara teknik sebesar 20%. Sehingga sebuah kontingen yang tampil dalam 20 cabor Porprov II ini, dikategorikan mengalami kegagalan prestasi umum saat lebih dari 4 tim cabor yang diturunkan gagal mendulang medali. Demikian pula terhadap pengiriman kontingen cabor yang berlaga dalam Kejurcab, Kejurda dan Kejurnas.

”Batas toleransi kegagalan ini wajib menjadi pegangan sebuah kontingen olahraga daerah yang tampil dalam even olahraga, karena terkait dana keberangkatan mereka yang berasal dari APBD dan haus dipertanggungjawabkan dengan prestasi,” ujarnya.  

Berdasar batas toleransi kegagalan tim olahraga yang dipaparkan Ibaq (panggilan akrab Irmantara Subagya), maka tim cabor yang diturunkan Kab. Sidoarjo seharusnya tak lebih dari tiga cabor. Karena itu, KONI Sidoarjo pun ”menyemprit” pengurus cabang lima cabor yang gagal mendulang medali Porprov II. Mereka diminta meningkatkan sistem pembinaan atlet yang dilakukan selama ini. Tolok ukur peningkatan sistem pembinaan itu harus mereka buktikan dalam Kejurprov masing-masing cabor yang akan berlangsung di sisa tahun 2009 dan 2010.
 
”KONI akan mengambil sikap tegas jika dalam Kejurprov mendatang, ternyata diantara 5 cabor itu ada yang gagal mendulang medali. Cabor bersangkutan tidak akan diproyeksikan berpartisipasi dalam Porprov III tahun 2011,” kata Ketua Harian KONI Sidoarjo H. MG Hadi Sutjipto di ruang kerjanya.

Karena itu, pejabat Asisten I Bidang Tata Pemerintahan dan Kesra Pemkab Sidoarjo ini berharap, kegagalan berprestasi dalam Porprov II itu tidak perlu lagi disesali yang secara psikologis akan bedampak dalam kejiwaan para atlet. Sebaliknya kegagalan tersebut cukup dinilai sebagai prestasi yang tertunda, sehingga dimanfaatkan sebagai momen motivasi pada masing-masing cabor untuk merebut prestasinya yang tertunda.

Selain itu, pria yang piawai beladiri pencak silat ini, juga berharap agar cabor yang sukses mendulang medali tidak terlenah dengan prestasinya dalam Porprov II. Prestasi yang berhasil dibukukan justru harus menjadi motivasi pembinaan, sehingga prestasinya dalam Kejurpro dan Porprov III mendatang mengalami peningkatan yang signifikan.

”Saya yakin sekali peta persaingan dalam Porprov III akan lebih ketat dan merata. Karena itu, semua pengcab olahaga di Sidoarjo mulai melakukan pembinaan berjenjang, sehingga menjelang Porprov tidak mengalami kesulitan dalam menjaring atlet potensial sebagaimana regulasi Porprov yang ditetapkan,” katanya. (vd)

 

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah ‘Murni’ Porprov 2011

In KONI on 22 Oktober 2009 at 4:37 PM

oleh Prima Sp Vardhana

TRIBUN, Surabaya – Sukses mempertahankan predikat juara umum dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Jatim di Malang, 5 -10 Oktober, memantapkan KONI Surabaya untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah pesta olahraga paling prestisius se-Jatim III/2011 mendatang. Bahkan kesiapan menjadi tuan rumah itu sudah dilaporkan dan disetujui Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono.
 
Kendati demikian, kesiapan yang disampaikan komite olahraga Kota Pahlawan yang dipimpin Heroe Poernomohadi itu, tidak sekadar strategi untuk mempertahankan predikat juara umum Porprov yang ketiga kalinya. Namun lebih bersifat keinginan melaksanakan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2007 pasal 16 tentang sistem penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota, khususnya ayat 2 dan 3.  
 
Sikap ini terlihat dari kesiapan KONI Surabaya sebagai tuan rumah Porprov III/2011 dengan dua catatan persyaratan, yang selaras dalam penafsiran PP No.17/2007 pasal 16 ayat 2 dan 2. Dua persyaratan yang berintikan pada keinginan menjadi tuan rumah secara murni dalam menggelar seluruh nomor pertandingan di wilayah sendiri itu, adalah pertama pengelolaan seluruh dana penyelenggaraan dari Pemprov Jatim untuk Porprov diserahkan dan menjadi tanggung jawab KONI Surabaya. Kedua, kepanitiaan juga menjadi tanggung jawab penuh daerah, bukan lagi dipegang KONI Jatim.
 
“Dua persyaatan yang melengkapi kesiapan kami sebagai tuan rumah Porprov 2011, sesungguhnya bukan sebuah persyaratan baru. Pasalnya persyaratan itu pernah disodorkan KONI Surabaya saat ditunjuk KONI Jatim untuk menjadi tuan ruma Porprov I,” kata Heroe di ruang kerjanya.
 
Namun, dua persyaratan tersebut ditolak KONI Jatim dengan alasan persyaratan tersebut dinilai membuat peran serta KONI Jatim dalam penyelenggaraan Porprov menjadi hilang. Dampak penolakan itu membuat KONI Surabaya memutuskan mundur dan menolak dilibatkan dalam kepanitiaan Porprov I.
 
Tak pelak lagi posisi KONI Surabaya dalam Porprov I, diakui mantan pesilat andalan Jatim itu, murni sebagai peserta. Kota Surabaya hanya bersifat sebagai salah satu lokasi pertandingan bersama Gresik dan Sidoarjo, sementara porsi tuan rumah ditangani langsung oleh KONI Jatim.

RANSUM BASI
 

Sikap kesiapan menjadi tuan rumah Porprov III yang dilengkapi persyaratan itu. Menurut Heroe, terinspirasi dari fakta lapangan dalam penyelenggaraan Porprov II di Malang yang menelan APBD sebesar Rp 8,5 milyar lebih itu. Dengan sistem penyelenggaraan yang masih dikendalikan sepenuhnya oleh KONI Jatim, teryata penyelenggaraannya secara prestise lebih buruk dari Porprov I. Banyaknya kekurangan pada sektor-sektor vital, yang secara pesikologis mempengaruhi penampilan atlet yang diturunkan semua daerah.
 
Sektor akomodasi penginapan peserta, misalnya. Dengan penjatahan penginapan bersistem ”sama rata sama rasa” sebagaiman diakui Bidang Akomodasi PB Porprov II Ir Arief Sosiawan, saat berdiskusi dengan monev tim bola voli Kontingen Surabaya Irwan Setiadi di media centre GOR Gajayana, 5 Oktober malam. Dinilai Heroe, sistem tersebut justru menjadi bumerang yang membabit pencitraan KONI Jatim sebagai penyelenggara. Pasalnya banyak tim cabor daerah memilih pindah penginapan dengan resiko mengeluarkan dana tambahan, karena kondisi penginapan yang dinilai tak layak untuk atlet tim.
 
Kalau pun ada tim cabor yang tidak pindah, itu pun dilakukan dengan hati yang masgul. Atau diakibatkan oleh tipisnya dana keberangkatan kontingen daerah. ”Bukti banyaknya tim cabor yang pindah penginapan atau mengikuti penjatahan PB, sudah menjadi rahasia umum yang diketahui semua wartawan. Sebab kondisi penginapan sering menjadi bahan gibah antar ofisial sepanjang penyelenggaraan pertandingan cabor,” ujarnya.
 
Kekurangan lainnya terjadi pada jatah ransum atlet dan panitia, khususnya untuk pertandinga sore dan malam hari. Berdasar laporan para ofisial tim cabor, tim monev, konfirmasi dari daerah lain, serta fakta yang dilihat sendiri oleh Heroe. Jatah ransum peserta dan panitia untuk sore hari, rata-rata sudah basih dan berbauh saat akan disantap. Sehingga ofisial cabor daerah kembali mengeluarkan dana tambahan untuk membelikan konsumsi atletnya.
 
Selain itu, pada sektor alokasi dana penyelenggaraan pertandingan cabor yang mayoritas menunjukkan jumlah sangat fantastis dan bernuansa mark-up. Pada penyelenggaraan pertandingan cabor pencak silat, misalnya. Dana yang harus dikeluarkan KONI Jatim mencapai jumlah sekitar Rp 170 juta lebih. Jumlah dana tersebut dua kali lipat biaya yang dibutuhkan untuk menggelar Kejurda Pencak Silat yang rata-rata tak leih dari Rp 80 juta. Padahal jumlah pesilat yang tampil dalam Kejurda hampir lima kali lebih banyak dari Porprov II.
 
SARANA PROMOSI
 

Demikian pula dari sektor gebyarnya penyelenggaraan. Untuk Porprov II yang menelan dana Rp 8,5 milyar, ternyata gaungnya di Kota Malang seakan tidak terdengar. Masyarakat kota apel itu seakan tidak mengetahui, bahwa kotanya sedang menjadi tuan rumah sebuah PON mini. Ini terjadi lantaran di jalanan kota tidak ditemukan sarana promosi berupa umbul-umbul atau spanduk seperti saat Porprov I di Surabaya.
 
”Saya menjadi heran, Porprov II senilai milyaran rupiah mengapa gaung penyelenggaraannya tidak terasakan Saya tidak menemukan selembar umbul-umbul atau spanduk yang menunjukkan kota Malang tengah menjadi tuan rumah PON mini,” kelakar Sekretaris Umum KONI Surabaya Hoslich Abdullah.
 
Banyaknya kekurangan dalam penyelenggaraan Porprov II itu, dikatakan Heroe, sebagai bukti adanya ketidak harmonisan antara KONI Jatim sebagai penyelenggara dan KONI Kota Malang sebagai tuan rumah. Semua kekurangan itu diyakini tidak akan terjadi, kalau saja KONI Jatim menyerahkan sepenuhnya sistem penyelenggaraan dan pengelolaan Porprov II pada tuan rumah. Pasalnya tuan rumah pasti sangat tahu akan kondisi yang terkait di semua sektor penyelenggaraan, sehingga kebocoran dana penyelenggaraan dapat ditekan.
 
”Harapan saya untuk penyelenggaraan Porprov III nanti, KONI Jatim belajar pada sistem penyelenggaraan KONI Jabar yang sudah menggelar sepuluh kali Porprov,” kata Heroe kembali.
 
Sistem penyelenggaraan Porprov yang diterapkan KONI Jabar, sebagaimana penjelasan Humas KONI Jabar Mursyid WK saat mengunjugi Media Centre di Stadion Gajayana, 8 Oktober sore. Menurut ia, sistem penyelenggaraan Porprov Jabar mirip yang dilakukan KONI Pusat dalam menyelenggarakan PON di daerah. Pengelolaan sistem penyelenggaraan sepenuhnya diserahkan pada kota/ kabupaten yang ditunjuk sebagai tuan rumah, sementara KONI Jabar menempatkan diri sebagai steering comite (SC), yang tinggal menilai dan membenarkan sistem penyelenggaraan yang keliru.
 
Sistem penyelenggaraan yang dilakukan KONI Jabar itu juga sangatbermanfaat dalam menekan alokasi dana APBD untuk Porprov. Sebab dana penyelenggaraan Porprov Jabar yang dikucurkan Pemprov Jabar rata-rata jumlahnya 40% dari biaya yang dibutuhkan, sementara pemenuhn kekurangan dana tersebut menjadi tanggung jawab tuan rumah dengan sistem pengadaan dana yan diajarkan KONI Jabar.
 
”Kalau saja penyelenggaraan Porprov Jatim mulai yang ketiga hingga seterusnya sepeti yang dilakukan KONI Jabar, saya yakin penyelenggaraan Porprov akan sesuai dengan PP No. 17 tahun 2007 pasal 16. Selain itu, APBD Pemprov yang berasal dari uang rakyat itu tidak teralu terkuras sebesar dana penyelenggaraan Porprov II di Malang,” kata Heroe.  (vd)

KONI Sidorajo Rencanakan TC Atlet Porprov II

In KONI on 7 September 2009 at 11:31 PM


KONI Sidoarjo hanya membutuhkan waktu lima hari untuk mengadakan training center (TC/pemusatan latihan) terhadap para atletnya. Padahal, banyak pesaing mereka dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Malang pada 5-10 Oktober mendatang yang melakukan program serupa dengan waktu lebih lama.

Tapi, itu tidak berarti KONI Sidoarjo tak berusaha membuat persiapan maksimal. Selama ini KONI sudah menyerahkan persiapan kepada setiap cabor. Bahkan, ada cabor yang sudah lama menggembleng atletnya. 

Rencananya, sentralisasi TC KONI Sidoarjo berlangsung mulai 27 September hingga 1 Oktober mendatang. Kenapa cuma lima hari? Hal tersebut tak lain terkait dengan ketersediaan dana yang tidak banyak. “Selama lima hari itu, latihan akan dilakukan seintensif mungkin agar begitu bertanding di porprov, para atlet bisa meraih hasil maksimal,” kata Sekum KONI Sidoarjo Sunardi.

Selama TC, para atlet akan dikarantina di kompleks SMANOR Sidoarjo. Tapi, latihan tetap diadakan di tempat pengcab masing-masing.

Untuk keperluan Porprov II, KONI Sidoarjo menganggarkan dana sekitar Rp 1,4 miliar. Dana itu dipergunakan, antara lain, untuk uang saku atlet dan pelatih. Selama TC, kabarnya, setiap atlet akan mendapatkan uang saku Rp 50 ribu dan pelatih Rp 100 ribu perhari. 

Pada Porprov II Malang, Sidoarjo akan berpartisipasi di 17 cabor. Total atlet dan ofisial yang dikirimkan berjumlah 260. Pada Porprov I/2007 di Surabaya, Sidoarjo mengirimkan 187 atlet dan ofisial dari sepuluh cabor. 

Pada Porprov II mendatang, Sidoarjo tidak mematok jumlah medali emas yang harus dibawa pulang. Tapi, target wajibnya adalah harus lebih baik daripada perolehan porprov edisi pertama dua tahun lalu. Saat itu kontingen Kota Udang hanya bisa meraih 2 keping medali emas (voli pria dan jalan cepat wanita 5.000 meter), 3 perak, dan 5 perunggu. 

Meski KONI Sidoarjo tidak memasang target medali, semua pengcab yang turut berlaga menyatakan siap mempersembahkan yang terbaik. Pengcab Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) optimistis Wulansari Ramadhani bisa mempertahankan medali emas yang diraihnya di nomor jalan cepat 5.000 meter pada Porprov I. Saat menjadi juara, siswi kelas III SMANOR tersebut mencatat waktu 30 menit 23 detik. Setelah digembleng latihan keras, pada kejurnas junior bulan lalu, catatan Wulan naik signifikan menjadi 27 menit 58 detik. 

Pengcab Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) bahkan optimistis setidaknya bisa meraih empat emas. Hal itu didasarkan pada prestasi para atletnya saat turut di beberapa kejuaraan terakhir. (vd/jap)

KONI Surabaya Siap Coret Atlet Porprov

In KONI on 7 September 2009 at 7:53 PM


KONI Surabaya tak akan segan-segan untuk mencoret atlet Surabaya yang akan diterjukan ke arena Porprov II di Malang, 5-10 Oktober, meski nama atlet tersebut sudah didaftarkan ke KONI Jatim. Sikap tegas itu akan dilakukan, karena rasa tanggungjawab pada Pemkot Surabaya yang membenani. Salah satunya, tanggungjawab untuk merebut medali emas untuk mempertahankan peringkt Surabaya sebagai juara umum Porprov I/2007 di Surabaya.

“Atlet yang akan kami coret namanya sebagai peserta kontingen adalah atlet yang tidak mampu membuktikan peningkatan prestasinya. Daripada penampilannya di Porprov menjadi noda untuk kontingen Surabaya, lebih baik atlet tersebut dicoret dan atmosfer dalam kontingen tetap sehat,” kata Ketua umum KONI Surabaya, Heroe Poernomohadi di sekretriat Surabaya Bangkit, Senin (7/9) sore.

Sikap KONI Surabaya itu tekait, menurut mantan pesilat Jatim ini, sebagai bagian dari rencana perampingan umlah kontingen Surabaya yang terlalu tambun. Sikap itu juga telah dikoordinasikan dengan pengurus 20 cabor yang dipertandingkan di Porprov. Langkah ini, nantinya akan didasarkan pada potensi raihan medali dari masing-masing atlet. Bisa saja, atlet Surabaya tak ambil bagian di semua nomor karena pertimbangan tipisnya kans meraih medali. 

Diakui, pihaknya belum bisa menentukan cabor mana saja yang kuotanya akan dikurangi. Semua masih akan dibahas secara marathon oleh Binpres KONI Surabaya, dan pengurus masing-masing cabor. “Tentunya dengan memperhatikan peluang kita dan kekuatan para kompetitor,” katanya. 

Kendati demikian, Heroe memastikan, bahwa perampingan koningen itu tidak berpenaruh pada jumlah cabor yang akan diikuti. Cabor yang diikuti tetap 20 buah. “Kebijakan ini tidak berpengaruh pada jumlah cabor, karena ini bagian dari komitmen kami sejak awal mendukung pelaksanaan Porprov. Hanya saja, mungkin ada beberapa nomor yang kita lepas, karena potensi menuai medalinya kecil sekali,” ujarnya. 

Surabaya bakal mengirim sebanyak 306 atlet yang terdiri dari 171 atlet putra, serta 135 atlet putri. Mereka didukung 129 ofisial. Drumband yang ditarget dua medali emas mengisi kuota terbanyak dengan 25 atlet. Disusul voli indoor dengan 24 atlet. Atletik yang memperebutkan 26 medali emas, akan diikuti 18 atlet Surabaya. Heroe menambahkan, perampingan ini tak akan mengubah target raihan medali di Porprov nanti. Surabaya tetap membidik koleksi 60 medali emas yang dinilai cukup sebagai bekal mempertahankan juara umum. 

“Tak ada revisi target. Seperti amanat Pak Bambang DH, walikota Surabaya, kita harus pertahankan juara umum. Medali sebanyak itu ( 60 keping, red) kita nilai cukup untuk mengamankannya,” tegasnya

Sebagai imbalan atas sikap tegas yang akan dilakukan itu, menurut ia, KONI Surabaya akan melobi Pemkot Surbaya untuk memberikan tambahan bonus bagi peraih medali di Porprov II/2009 . Ini karena KONI sendiri sudah memberikan suntikan dana yang membengkat dari rencana awal sebesar Rp 219 juta meningkat menjadi Rp 750 juta. Kelebihan dana tersebut diambilkan dari dna operasional beberapa bagian di KONI Surabaya. 

Seandainya upaya KONI Surabaya tak membuahkan hasil, Heroe memastikan para atlet peraih medali tetap akan menerima reward. Nominalnya sama dengan Porprov I/2007. Saat itu, peraih emas mendapatkan Rp 1 juta, perak Rp 750 ribu, dan perunggu Rp 500 ribu. (vd)

Perang Bonus Medali Porprov II Gelitik KONI Sidoarjo

In KONI on 29 Juli 2009 at 11:48 AM

oleh Prima sp Vardhana

PETA persaingan dalam arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Malang, 5-10 Oktober, dapat dipastikan berlangsung ketat. Perebutan medali pun akan menjadi sebuah perjuangan keras yang menguras tenaga dan fikiran. Karena itu, banyak daerah mulai mengibarkan psywar dengan iming-iming bonus, untuk atlet mereka yang berhasil mendulang medali emas.

Kondisi tersebut awalnya tidak terlalu menarik KONI Sidoarjo. Para pengurus komisi olahraga kota udang itu menilai, iming-iming bonus itu hanyalah sebuah akal-akalan daerah lain untuk memotivasi para atlet mereka yang akan turun di Porprov lebih berlatih keras. Sementara soal realisasi kucuran bonus untuk peraih medali emas, akan ditentukan pasca Porprov.

“Setelah Batu, Kota dan Kabupaten Malang mengumumkan nilai bonus yang akan diberikan buat atlet peraih emas, kami menilai perang bonus ini bukan main-main lagi. Karena itu, KONI Sidoarjo juga perlu ikut arus untuk menjaga kualitas mental atlet kami,” kata Ketua Harian KONI Sidoarjo, MG Hadi Sutjipto SH MM di ruang ker­janya.

Kucuran bonus untuk atlet peraih emas Porprov II. Menurut ia, sesungguhnya sudah menjadi program pengurus KONI sejak rencana pengiriman kontingen ke PON kecil itu. Namun pengurus belum berani mengumumkan, karena khawatir akan menjadi bumerang bagi sistem pembinaan yang tengah diselenggarakan para pengkab cabang olahraga (cabor). 

Kekhawatiran lainnya, takut mendapat teguran dari KONI Jatim. Pasalnya penyelenggaraan Porprov bermisi peningkatan pembibitan atlet. Juga pembangunan sistem fair-play dalam rekrutmen atlet untuk tim pelapis dalam penyelenggaran Puslatda 100/II, yang diproyeksikan untuk PON 2012.

“Karena Pak Karno Marsaid, ternyata tidak menyemprit terhadap konsisi perang bonus yang berkembang saat ini, maka kami pun memastikan jika atlet Sidoarjo peraih medali emas akan mendapat bonus,” ujarnya dengan tersenyum.

Berapa nilai yang akan diberikan untuk setiap keping medali emas. Hadi sutjipto yang juga Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo itu menolak secara halus, untuk menyebutkan besarnya nilai bonus tersebut. “Besarnya bonus untuk peraih emas Porprov tak etis saya sebutkan dan diumumkan di media, tapi kami akan membisikkan nilainya pada para pengurus cabor untuk disampaikan pada atlet yang berlatih,” kilahnya berdiplomasi.

Sikap tertutup pilihan KONI Sidoarjo terhadap besarnya nilai bonus yang akan dikucurkan, diakui pria yang juga Ketua Takmir Masjid Agung Sidoarjo ini, takut menyinggung perasaan daerah lain yang hingga saat ini belum memastikan untuk memberi bonus atau tidak pada atletnya yang meraih medali emas.

Dana Pembinaan

Alokasi dana yang rencananya akan digunakan untuk memberikan bonus medali emas itu. Menurut ia, kemungkinan besar akan diambilkan dari dana yang digelontorkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, yang besarnya Rp 5 miliar. Juklak penggunaan dana tersebut untuk pembiayaan pembinaan dan pengiriman kontingen ke Porprov II di Malang. Juga, operasional dari sebua pengkab cabor yang bernaung dibawah KONI Sidoarjo.

Sistem penggunaan dana tersebut, sebesar Rp 1,2 miliar untuk pembiayaan pembinaan dan pengiriman kontingen ke Porprov II di Malang. Sedangkan yang Rp 3,8 miliar akan diberikan pada pengkab cabor. “Sedangkan alokasi pengadaan dana bonus saat ini tengah kami fikirkan. Diambil dari dana untuk pembiayaan dan pengiriman kontingen. Atau nantinya KONI akan mengajukan lagi pada Pemkab, karena nantinya yang memberikan bonus itu adalah Pak Bupati dalam sebuah acara seremonial resmi,” ujarnya.

Sedangkan mekanisme pengucuran dana Porprov pada pengkab cabor, dipastikan, akan berlangsung secara transparan dan memanfaatkan jasa perbankan. Karena itu, para pengkab cabor sudah diminta untuk menyerahkan rekening bank masing-masing, sehingga bendahara KONI dapat segera mengalirkan dana yang menjadi jatah mereka.

“Walau mekanismenya menggunakan jasa perbankan, tapi KONI menjamin setiap cabor dapat melihat nilai dana yang diterima satu dan lainnya,” ujarnya.

Nilai dana pembinaan untuk atlet Porprov itu, diakui, besarnya berdasar pada besarnya kebutuhan dana pembinaan yang sudah diajukan masing-masing cabor pada KONI. Hadi Sutjipto menjamin, bahwa sebelum awal Agustus semua cabor sudah menerima transfer dana yang dibutuhkan itu. (pvardhana88@gmail.com)