tribunindonesia

Archive for the ‘FEATURES’ Category

2011 Akhir Era Oprah Winfrey?

In FEATURES on 21 November 2009 at 8:15 PM
oleh
Ketika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis yang berpengaruh. 
 
Namun ketika perusahaan itu bernama Opran, Inc, berita itu disampaikan dengan air mata dan jelas dengan pernyataan yang menyentuh perasaan didepan kamera. 
Kita diberi waktu cukup untuk menyiapkan diri bagi satu perubahan di masa mendatang.
Edisi terakhir dari acara yang dipasarkan lewat sindikasi ke 200 pasar diseluruh Amerika dan 140 negara diseluruh dunia, akan disiarkan akhir musim 2011. 
Oprah mengatakan kepada para pemirsanya bahwa setelah berfikir masak-masak dan berdoa, rasanya “25 tahunnya sudah cukup”.
Memang pengumuman ini tidak terlalu mengguncang seperti digambarkan dalam dunia blog, tetapi kalau anda menonton pengumuman ini, anda bisa merasakan bahwa anda sedang menyaksikan peristiwa besar dalam sejarah pertelevisian Amerika. 
Begitu dalam dan intens hubungan Amerika dengan Oprah, keputusan ini disebut-sebut oleh media sebagai akhir sebuah era. 
Para pemirsa mengingat acara ini dimana dia pernah memberi setiap pemirsa sebuah mobil baru atau cara dia merayakan ulangtahun ke-20 program ini dengan membawa seribu stafnya berlibur ke Hawaii. 
Sebenarnya yang terjadi adalah perubahan teknologi dan model bisnis dalam dunia penyiaran. 
Oprah menjadi kaya dengan memegang hak sindikasi siaran programnya yang dijual ke banyak stasiun televisi. Namun dimasa depan, cara mencapai pemirsa sudah sangat berbeda.
Oprah sudah punya usaha baru dengan Discovery, salah satu pemain besar dalam industri penyiaran Amerika, dan proyek ini akan diluncurkan tahun 2011. 
Jadi sangat masuk akal untuk menduga bahwa dia akan muncul dalam televisi kabel yang baru, The Oprah Winfrey Network, untuk memastikan saluran ini berawal dengan baik dalam peta televisi Amerika yang begitu padat. 
Jika perempuan terkaya dalam dunia penyiaran Amerika berpendapat inilah saatnya masuk ke dunia televisi kabel, maka industri penyiaran harus berdiri dan mencatatnya. 
Bicara secara terbuka
Penonton, memang berdiri dan mencatat hal ini karena Oprah menjadikan dirinya sebagai bagian dari hidup mereka yang bisa diduga dan nyaman selama 25 tahun belakangan. 
Perubahan ini menjadi kesempatan bagi penonton Amerika untuk merefleksikan apa maksud Oprah, kira-kira sama seperti ulang tahun kerabat kesayangan anda dimana kerabat tersebut memberikan kesempatan kepada anda untuk menyatakan rasa sayang anda.
Riwayat hidupnya yang panjang dan berwarna, penderma, penerbit majalah, penyiar, kritikus sastra, produser dan aktris yang pernah dicalonkan mendapat Oscar, hanya sebagian dari cerita. 
Kekayaannya yang luar biasa juga tidak bisa menggambarkan Oprah secara keseluruhan, walaupun dia dijuluki sebagai wanita kulit hitam satu-satunya di dunia yang menjadi milyuner dan selama beberapa tahun tercatat sebagai satu-satunya milyuner warga kulit hitam Amerika. 
“Pengaruhnya begitu besar sehingga seperti berkuasa”
Sebagian kekuasaannya terletak pada fakta bahwa kisah hidup dia bergaung di telinga para pemirsanya, seperti mimpi Amerika tetapi versi yang diperbesar. 
Dia lahir di desa miskin di Amerika bagian Selatan dan masa kecilnya sulit serta diwarnai pelecehan dan hamil ketika remaja, sehingga akhirnya punya karir yang sukses luar biasa di televisi. 
Dia menjadi bintang karena cara dia membuka diri atas persoalan-persoalannya kepada para pemirsa. Ada sesuatu dalam kejujurannya dan kadang-kadang sikapnya yang terus terang padahal sangat menyakitkan secara emosi yang merebut hati satu kalangan tertentu di Amerika. 
Oprah berbicara mengenai pelecehan yang dialaminya, sehingga ketika dia berbicara mengenai contohnya, kasus pelecehan, dia berbicara sangat terbuka dan nyata sehingga tidak mungkin penyiar lain bisa menandinginya dalam soal-soal seperti itu. 
Para pemirsanya berbagi kegembiraan dan kesedihannya. Para penontonnya juga membaca buku yang direkomendasi oleh Oprah dan penontonnya juga berempati pada perjuangannya melawan kegemukan, karena berat badannya memang naik turun. Mereka juga membentuk pandangan mereka tentang dunia lewat acara-acara Oprah. 
Pengaruh politik 
Pengaruhnya begitu besar sehingga mirip dengan kekuasaan. Keputusannya untuk mendukung Barack Obama menjadi presiden, jauh sebelum Obama difavoritkan menang merupakan kunci penting dalam kampanye Obama. 
Obama sendiri punya sejarah hidup yang memberikan inspirasi pada orang-orang lain, tetapi dengan mendukung Obama, Oprah juga berhasil membuat hidupnya memberikan inspirasi juga. 
Itu adalah momen yang membuktikan Oprah memang unik. Coba bayangkan calon-calon presiden Amerika mencari dukungan dari seorang presenter televisi. 
Oprah tentu saja dipandang sebagai lambang keberhasilan kaum kulit hitam, dan memang dia adalah ikon. 
Kebanyakan tulisan mengenai Oprah membuat anda yakin bahwa dia akan segera keluar dari pentas nasional. Hal itu kemungkinan besar tidak akan terjadi. Saluran baru Oprah akan memperkuat posisinya sebagai salah satu wiraswasta yang paling penting di industri penyiaran Amerika. 

Ini mungkin akhir dari sebuah era siaran televisi, tetapi Oprah masih akan berkibar. (bbc/vd)

Iklan

Pembatik di Jember Turun Temurun

In FEATURES on 21 Oktober 2009 at 12:28 AM

editor Prima Sp Vardhana

WARGA yang membuat batik (pembatik) di Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur, merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun di kecamatan setempat.

“Saya belajar batik dari ibu saya, sedangkan ibu saya juga belajar batik dari nenek saya,” kata Sumiati (31), salah seorang pembatik di Kecamatan Sumberjambe.

Menurut dia, pekerjaan membatik cukup sulit karena memerlukan ketekunan dan ketelitian untuk membatik di sebuah kain putih yang sudah diberi pola batik tersebut. “Sebagian besar pembatik di sini juga belajar membatik secara turun temurun,” katanya.

Sebagian warga yang belajar untuk membatik, kata dia, tidak bertahan lama, apabila tidak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar membatik.

“Ada beberapa warga yang mengeluh setelah beberapa hari belajar membatik di sini karena pekerjaan membatik memerlukan ketekunan dan kesabaran,” katanya.

Ia mengemukakan, untuk membatik pada sepotong kain biasanya diperlukan waktu selama 1-2 hari sesuai dengan pola yang diinginkan oleh pemesan. “Kami harus berhati-hati untuk membatik di sepotong kain supaya hasilnya tidak mengecewakan konsumen,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, anak keduanya sudah mulai membantu dirinya membatik di sepotong kain, namun motifnya tidak terlalu rumit. “Hanya anak kedua saya yang mau belajar membatik seperti saya, sedangkan yang lain tidak mau belajar membatik,” katanya.

Pembatik lainnya, Mahfidatul, mengaku belajar batik Sumberjambe dari ibunya sejak kecil karena pekerjaan ibunya sehari-hari adalah membatik di sebuah industri rumah tangga batik di Jember.

“Memang pekerjaan membatik adalah pekerjaan yang turun temurun yang harus dilestarikan oleh masyarakat Jember,” katanya.

Ia menjelaskan, seorang pembatik harus memiliki kesabaran yang cukup tinggi karena pekerjaan membatik tidak seperti pekerjaan lainnya yang harus cepat. “Saya tidak menyesal bekerja sebagai pembatik, meski penghasilanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Untuk membatik tulis, kata dia, upah yang diterimanya sebesar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per potong kain, padahal membatik tersebut membutuhkan waktu sehari untuk menyelesaikan motof batik sesuai dengan pesanan. “Kalau sehari penuh, saya bisa menyelesaikan batik tulis hanya dua potong kain saja,” katanya.

Ia menjelaskan, biasanya batik yang paling laris di Sumberjambe adalah batik bermotif daun tembakau yang dikenal dengan batik Labako yang merupakan batik khas Jember. (nta)

Batik Khas Jember Terinspiasi Corak Daun Tembakau

In FEATURES on 21 Oktober 2009 at 12:21 AM

editor Prima Sp Vardhana

DUNIA melalui UNESCO sudah mengakui batik Indonesia sebagai budaya tak-benda warisan manusia, sehingga pengakuan tersebut membuat bangga masyarakat Indonesia yang sudah turun-temurun membuat batik.

Beragam motif dan corak batik ditorehkan dalam sebuah kain putih, sehingga ribuan corak batik dengan berbagai keunikan sudah dihasilkan oleh masyarakat yang notabene sebagai perajin batik di Nusantara.

Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, perajin batik mulai berbenah untuk mencari motif sesuai dengan selera pasar di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam industri batik.

Namun, tidak sedikit perajin batik yang berusaha mempertahankan motif batik yang diyakini bisa menjadi ciri khas suatu daerah tertentu, sehingga masyarakat luas mudah mengenali kain batik tersebut dari corak dan motifnya.

Seperti yang dilakukan Mawardi, seorang perajin batik asal Desa Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jatim, selama beberapa tahun terakhir ini, ia mencoba mempertahankan motif daun tembakau yang diyakini sebagai motif batik khas Jember.

“Jember merupakan salah satu kabupaten yang dikenal sebagai produsen tembakau, sehingga tidak heran para perajin batik di kabupaten ini berusaha mempertahankan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember,” kata Mawardi yang sudah menyukai batik sejak kecil ini.

KAYA MOTIF 

Sekilas, batik Sumberjambe terlihat hampir sama dengan batik di daerah lainnya yang kaya dengan motif dan penuh dengan sentuhan seni para pembatiknya, sehingga kain batik memiliki pesona tersendiri bagi pemakainya.

Dengan cekatan dan tangan terampilnya, Mawardi mencoba membuat berbagai motif batik sesuai dengan pesanan konsumen, namun apa pun motif batik yang dibuatnya, ia tidak pernah lupa untuk memadukannya dengan motif daun termbakau.

Ia mengakui, masyarakat tidak banyak yang mengenal batik Jember karena batik Solo, Yogyakarta dan Madura lebih terkenal dibandingkan batik yang sederhana di kabupaten yang kecil di kawasan Besuki ini.

“Beberapa daerah di Jatim ternyata kaya akan budaya batik yang menjadi khas di daerah setempat, termasuk Kabupaten Jember, ” kata pria yang memiliki dua anak yang sudah beranjak dewasa ini.

Sejak turun temurun, kata dia, motif daun tembakau dari ukuran kecil hingga ukuran besar selalu menjadi salah satu motif andalan bagi perajin batik di Kecamatan Sumberjambe tersebut.

“Sejak dulu motif batik berupa daun tembakau sudah menjadi ciri khas batik Jember, meski motif itu belum tidak pernah diajarkan secara turun temurun oleh para perajin batik,” ujarnya mengungkapkan.

Harga batik Jember juga terjangkau, batik cap dengan bahan kain katun dijual sebesar Rp65 ribu-Rp80 ribu per-potong, batik tulis yang menggunakan bahan kain katun dijual dengan Rp85 ribu-Rp150 ribu perpotong.

Untuk batik dari bahan kain sutera dijual dengan harga Rp300 ribu perpotong, apabila menggunakan batik cap harganya sekitar Rp125 ribu per-potong. Harga ini lebih murah dibandingkan sejumlah harga kain batik di beberapa daerah.

Menurut dia, banyak warga Jember dan luar Jember yang memesan batik dengan motif daun tembakau karena sudah menjadi ciri khas Kabupaten Jember, yang dikenal sebagai kota tembakau.

“Kami berusaha mengikuti selera pasar terkait dengan motif batik yang ada, namun kreasi motif baru itu selalu dipadukan dengan motif daun tembakau,” katanya.

MOTIF DAUN

Ia menjelaskan, hampir sebagian besar warga Jember dan luar Jember memilih motif tembakau yang dikombinasikan dengan motif bunga, parang dan tumbuhan yang dibuat semenarik mungkin, sehingga kombinasi coraknya serasi.

Sejauh ini, kata dia, perajin batik di Kecamatan Sumberjambe berusaha mempertahankan motif daun tembakau sebagai motif yang khas Jember, meski beberapa perajin batik di luar Jember menggunakan motif daun tembakau.

“Kami tidak bisa melarang perajin batik lain yang menggunakan motif tembakau karena pembuatan motif batik merupakan kreasi pembatik untuk menarik konsumen. Alhamdulillah di sini, masih banyak yang memesan batik dengan motif daun tembakau,” paparnya.

Imbauan Presiden untuk menggunakan baju batik dalam acara resmi, kata dia, memiliki dampak yang luar biasa yang dirasakan para perajin batik di Jember, yakni meningkatnya jumlah pesanan kain batik sebagai sebagai seragam sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta.

“Para pembatik di sini sempat kewalahan dan harus kerja ekstra keras untuk menyelesaikan berbagai pesanan batik tulis dan batik cap,” tuturnya.

Buruh pembatik di UD Bintang Timur, Sofia, mengaku, gembira dengan banyaknya pesanan batik di Kecamatan Sumberjambe, sehingga para buruh pembatik juga mendapatkan upah yang lumayan banyak seiring dengan banyaknya jumlah pesanan.

Sebagian besar perempuan di Desa Sumberpakem menjadi buruh pembatik di beberapa perajin batik di desa setempat untuk menambah penghasilan suami mereka yang sehari-hari menjadi buruh tani.

“Tidak semua warga di sini bisa membatik, namun membatik adalah warisan secara turun temurun. Saya belajar membatik dari ibu saya dan akan saya teruskan kepada anak perempuan saya,” katanya.

Sebagian besar motif kain batik tulis yang dikerjakan, lanjut Sofia, adalah motif daun tembakau dengan berbagai ukuran dan kombinasi motif lain yang dipadukan secara serasi, sehingga motif khas Jember selalu ada dalam setiap potong kain batik.

BELUM MENGENAL

Belum dikenalnya batik Jember dan pangsa pasar yang masih sulit membuat sejumlah pihak khawatir akan perkembangan batik tulis dengan motif tembakau yang terkesan sederhana dan kurang diminati.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jember, Mirfano, mengatakan, masyarakat luas belum mengenal batik khas Jember karena masih banyak warga Jember yang enggan menggunakan batik lokal buatan perajin batik Sumberpakem, sehingga hal itu yang menjadikan promosi batik dengan motif tembakau kurang dikenal di tingkat lokal, nasional dan internasional.

“Sebagai warga Jember seharusnya bangga menggunakan baju batik lokal yang kualitasnya tidak kalah dengan batik di beberapa daerah di Tanah Air,” katanya.

Ia optimistis dengan promosi yang dilakukan secara serentak dan massif oleh masyarakat Jember dengan cara menggunakan batik lokal dalam acara resmi di luar daerah Jember, secara tidak langsung warga Jember ikut mempromosikan batik yang memiliki motif tembakau tersebut.

“Kami sudah mengedarkan surat imbauan kepada seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan perusahaan swasta untuk menggunakan batik lokal, minimal sehari dalam enam hari kerja,” ujarnya.

KESULITAN MODAL 

Selain promosi yang kurang, lanjut dia, kesulitan mendorong pertumbuhan ekonomi di bidang industri batik juga menjadi kendala tersendiri bagi perajin batik untuk mengembangkan industri batik yang ada di Kabupaten Jember.

Menurut dia, pihaknya berupaya membantu memberikan modal melalui Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) kepada sejumlah perajin batik yang kabarnya kesulitan modal untuk mengembangkan industri batik supaya pertumbuhan “home industry” batik di Desa Sumberpakem tidak gulung tikar.

“Kami berusaha untuk membantu usaha batik mereka dengan mengucurkan sejumlah program bantuan modal dari Perbankan dengan bunga rendah,” katanya.

Sejauh ini, teknologi untuk membatik di Jember masih sangat sederhana, sehingga belum memenuhi standar yang layak untuk bersaing di pasar tingkat nasional dan internasional.

“Perajin batik harus mengembangkan wawasan sedemikian rupa untuk mengembangkan motif batik yang diminati pasar, tanpa meninggalkan motif khas Jember berupa daun tembakau,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Penanaman Modal Jember, Hariyanto, mengemukakan, batik Jember memang belum dikenal oleh masyarakat luas karena motifnya hanya monoton, sehingga kurang diminati oleh konsumen.

“Kalau dulu motifnya itu-itu saja (monoton) dan variasi corak kurang, sehingga tidak layak jual ke pasar baik tingkat lokal maupun nasional” katanya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya berupaya memberikan pelatihan dan ketrampilan tambahan kepada perajin batik supaya bisa mengembangkan kreasi motif tembakau dan membuat sebuah terobosan inovatif untuk memajukan industri batik.

“Sebanyak 20 perajin batik pernah diberangkatkan untuk mengikuti ‘workshop’ terkait dengan inovasi batik, sehingga mereka memiliki wawasan tambahan dalam mengembangkan batik lokal,” paparnya.

Di Jember, ada tiga kelompok industri rumah tangga yang mengembangkan usaha batik yang memiliki puluhan buruh pembatik yang berasal dari warga desa setempat.

“Kami meminta kepada perajin batik untuk mengembangkan kreasi motif batik yang diminati pasar, tanpa meninggalkan motif daun tembakau yang menjadi ikon Kabupaten Jember,” ucapnya.

MENGENALKAN BATIK

Keterbatasan wawasan yang dimiliki perajin batik dan modal usaha menjadi kendala tersendiri bagi perkembangan batik Jember, sehingga sejumlah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) berusaha untuk mengatasi persoalan tersebut dan mencoba mencari solusinya.

Untuk mempromosikan batik Jember, lanjut dia, pihaknya selalu berpartisipasi dalam pameran batik di tingkat lokal dan nasional untuk mengenalkan batik Jember kepada masyarakat luas.

“Beberapa kali kami ikut pameran produk Indonesia, minat warga luar Jember terhadap batik yang bermotif daun tembakau cukup besar,” katanya.

Kendati motif daun tembakau menjadi ciri khas batik Jember, pihak pemkab setempat tidak memiliki keinginan untuk mematenkan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember.

“Kami pikir tidak perlu mematenkan motif daun tembakau sebagai motif khas Jember, karena batik secara umum sudah ditetapkan sebagai budaya Indonesia oleh UNESCO,” katanya.

Pemkab Jember, kata dia, memiliki sebuah gerai di kawasan wisata Bali, sebagai upaya mengenalkan batik Jember kepada warga negara asing yang sedang berlibur di Pulau Dewata.

“Kami sudah menjalin kerja sama dengan beberapa toko kerajinan di Amerika Serikat (AS), Belanda, Jerman, Australia dan India untuk memasarkan batik dengan dominasi motif tembakau,” katanya.

Sejumlah negara tersebut terkadang mengirimkan pola motif batik yang diminati oleh warga di sana ke perajin batik di Jember untuk dibuat kain batik tulis dengan corak dan motif sesuai dengan pesanan warga di sana.

“Dengan kerja sama seperti itu, perajin batik di Jember bisa mempelajari sejumlah corak yang diminati warga negara asing,” katanya.

Sementara anggota DPRD Jember, Ahmad Halim, mengaku bangga terhadap batik Jember yang memiliki ciri khas tertentu, yakni dengan motif tembakau yang terkesan sederhana namun eksotik, apabila dikombinasikan dengan beragam motif.

“Memang benar banyak warga Jember yang belum menggunakan baju batik lokal, sehingga promosi hanya dilakukan oleh pihak perajin batik dan kurang maksimal,” katanya.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan pembinaan khusus kepada para perajin batik, terutama yang telah banyak memberikan kontribusi dalam mengurangi pengangguran dan ikut melestarikan batik tulis Sumberjambe.

“Pemkab seharusnya mematenkan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember, supaya perajin batik bisa termotivasi untuk mengembangkan motif kreasi tembakau yang lebih mempesona,” kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Apabila dunia sudah mengakui batik sebagai budaya Indonesia, tentu masyarakat harus menjaga warisan nenek moyang tersebut dengan melestarikan batik di masing-masing daerah, yang memiliki ciri khas tertentu. (nta)

Batik Mangrove Simbol Kepedulian Lingkungan Warga Surabaya

In FEATURES on 20 Oktober 2009 at 11:58 PM

editor Prima Sp Vardhana


SIAPA menyangka munculnya batik Mangrove (bakau) asal Kota Pahlawan atau yang dikenal dengan batik “SeRU” (Seni batik Mangrove Rungkut) berawal dari keprihatinan salah satu warga di Wisma Kedung Asem Indah J 28 Surabaya, Lulut Sri Yuliani atas rusaknya lingkungan yang ada di kawasan konservasi pantai Timur Surabaya.

Banyaknya tanaman mangrove yang ditebang secara liar oleh anggota masyarakat yang tidak bertanggung jawab, sehingga berakibat lingkungan kawasan konservasi pantai Timur Surabaya menjadi rusak. Dampak lainnya, banyak satwa terancam punah dan mengkibatkan abrasi dan erosi di sekitar pantai.



Kondisi tersebut membuat Lulut yang juga koordinator batik SeRU tergerak hatinya. Ia pun mulai memutar otak untuk melakukan tindakan pencegahan penebangan mangrove secara liar. Kebetulan Lulut sendiri adalah salah satu aktivis lingkungan di Surabaya, sehingga ide untuk itu bisa segera terwujud.

“Salah satu yang bisa saya lakukan untuk lingkungan adalah membuat batik mangrove,” katanya.

Menurut dia, tujuan dari batik mangrove tersebut adalah kampanye lingkungan yakni dengan cara mengenalkan mangrove melalui seni batik.
“Saya kira ini yang paling efektif, daripada cara lainnya,” katanya menegaskan.

Batik mangrove, lanjut dia, pertama kali mulai dicetuskan pada tahun 2007 hingga 2008. Selama dua tahun tersebut, ia belajar membatik
ke sejumlah daerah, salah satunya belajar cara mendesain batik di Bali.

Batik Mangrove Simbol Kepedulian Lingkungan Warga Surabaya

In FEATURES on 20 Oktober 2009 at 11:54 PM

editor Prima Sp Vardhana

SIAPA menyangka munculnya batik Mangrove (bakau) asal Kota Pahlawan atau yang dikenal dengan batik “SeRU” (Seni batik Mangrove Rungkut) berawal dari keprihatinan salah satu warga di Wisma Kedung Asem Indah J 28 Surabaya, Lulut Sri Yuliani atas rusaknya lingkungan yang ada di kawasan konservasi pantai Timur Surabaya.

Banyaknya tanaman mangrove yang ditebang secara liar oleh anggota masyarakat yang tidak bertanggung jawab, sehingga berakibat lingkungan kawasan konservasi pantai Timur Surabaya menjadi rusak. Dampak lainnya, banyak satwa terancam punah dan mengkibatkan abrasi dan erosi di sekitar pantai.

Kondisi tersebut membuat Lulut yang juga koordinator batik SeRU tergerak hatinya. Ia pun mulai memutar otak untuk melakukan tindakan pencegahan penebangan mangrove secara liar. Kebetulan Lulut sendiri adalah salah satu aktivis lingkungan di Surabaya, sehingga ide untuk itu bisa segera terwujud.

“Salah satu yang bisa saya lakukan untuk lingkungan adalah membuat batik mangrove,” katanya.

Menurut dia, tujuan dari batik mangrove tersebut adalah kampanye lingkungan yakni dengan cara mengenalkan mangrove melalui seni batik. “Saya kira ini yang paling efektif, daripada cara lainnya,” katanya menegaskan.

Batik mangrove, lanjut dia, pertama kali mulai dicetuskan pada tahun 2007 hingga 2008. Selama dua tahun tersebut, ia belajar membatik ke sejumlah daerah, salah satunya belajar cara mendesain batik di Bali.

Baru pada bulan Maret 2009, ia mengumpulkan sejumlah warga di Kecamatan Rungkut Surabaya untuk mengikuti pelatihan cara membatik. “Pertama saya bebaskan mereka membuat batik sesuai keinginannya. Namun pada saat saya melihat hasil karya mereka, saya terinspirasi dengan mangrove,” ujarnya.

Lulut sendiri berhasil menampilkan kain batik mangrove dengan beragam motif bunga, buah, akar, binatang dan motif mangrove lainnya.

Namun, batik yang sudah pernah dipamerkan adalah batik dengan beragam motif batik mangrove, antara lain motif “Aegiceras corniculatum, A. floridum, Avicennia alba, Bruguiera cylindrica, Lumnitzera racemosa, “Acanthus ilicifolius, Xylocarpus granatum, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Pemphis acidula, Nypa fruticans, Barringtonia asiatica, Calophyllum inophyllum, Calotropis gigantea, Pandanus tectorius, Acrostichum aureum dan motif Ipomoea pes-caprae.

Desain batik mangrove murni mengadopsi jenis-jenis mangrove yang hidup di rawa-rawa sekitar pantai Wonorejo, seperti baringtonia, tanjang, nipah, nyamplung, dan bogem. Warna yang dipilih adalah warna-warna yang cerah.

Memang ada pengaruh dari Batik Madura, tapi batik mangrove punya kekhasan sulur-sulur mangrovenya dan selalu dalam bentuk batik tulis, bukan cetak.

Sebenarnya, tak hanya batik bermotif mangrove saja yang dihasilkan oleh Lulut dan kelompok binaannya yang berjumlah 11 kelompok. Namun, sabun wangi dari buah Sonneratia juga dibuat dengan tujuan utama untuk memperkenalkan mangrove kepada masyarakat umum.

Beranjak dari pemikiran yang sama bahwa mangrove bukanlah sebuah ekosistem penuh sampah, nyamuk, dan tak berdaya guna, melainkan sebuah ekosistem yang sangat potensial baik secara ekologi dan ekonomi, maka Lulut dan kelompoknya berjuang keras agar mangrove “diakui” dari sisi ekonominya.

Bahkan batik mangrove sendiri juga pernah diikutkan dalam pameran di Jakarta beberapa waktu lalu. Namun, ia sendiri cukup menyadari bahwa produksi mangrove masih sangat terbatas, sehingga belum bisa bersaing dengan batik kelas atas seperti yang ada di Yogyakarta dan Surakarta.

Dengan 11 kelompok yang ada, kata dia, masing-masing kelompok dalam setiap dua pekan menghasilkan enam hingga delapan kain. Satu lembar kain batik mangrove berukuran sekitar tiga meter dijual dengan harga Rp75 ribu hingga Rp200 ribu.

“Batik mangrove baru sebatas dijual ke masyarakat yang ada di Surabaya, tapi responnya bagus. Bahkan tidak hanya kalangan orang tua, tapi juga anak-anak muda,” paparnya.

Ia sendiri juga mempunyai rencana untuk memasarkan produknya ke sejumlah instansi pemerintahan dan swasta di Surabaya. “Hingga saat ini yang sudah memesan batik mangrove baru Kecamatan Rungkut,” katanya.

Untuk menembus pasar batik, kata Lulut, mau tidak mau memang harus dikelola secara industri dan melibatkan banyak tenaga kerja dan modal. “Kami masih bingung soal pemasaran. Selama ini kami menjual produk-produk kami ke instansi-instansi pemerintah. Untuk masuk ke pasar batik, kami masih banyak kendala,” ucapnya lirih.

HAK PATEN DESAIN

Sebelumnya, Sekretaris Kecamatan Rungkut, Ridwan Mubarun yang menjadi fasilitator kelompok batik mangrove di Wonorejo mengatakan, Pemkot Surabaya berusaha mengangkat keberadaan batik mangrove dengan menetapkannya sebagai ikon Kecamatan Rungkut.

Selain itu, batik mangrove juga akan dimasukkan dalam paket ekowisata hutan mangrove yang akhir tahun 2009 akan diresmikan oleh wali kota Surabaya. “Kami juga berupaya untuk memfasilitasi kelompok-kelompok ini mendapatkan hak paten atas desain batik mangrove.

Ia juga mengaku bersyukur atas batik asal Indonesia yang mendapat pengakuan dari Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi masalah kebudayaan, UNESCO sebagai warisan budaya dunia (world heritage) tak benda (intangible). Pengakuan tersebut diberikan UNESCO di Abu Dabi pada Jumat (2/10) malam

“Kami berharap batik tetap eksis, diterima oleh masyarakat dunia, dan perajinnya tetap bisa berkarya lebih baik,” katanya.

Kreativitas membuat batik tersebut rupanya menarik perhatian istri Wakil Wali Kota Surabaya, Arif Afandi yakni Tjahyaning Retno Wilis untuk berkunjung ke pameran batik mangrove yang digelar di Kecamatan Rungkut beberapa waktu lalu.

Bahkan, Tjahyaning Retno yang juga sebagai ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranada) Surabaya memberikan stimulus berupa bantuan modal sebesar Rp2 juta.

“Bantuan ini jangan dilihat besarnya tapi ini merupakan stimulus sekaligus pancingan agar pihak lain juga mau perduli dengan kerajinan tradisional seperti batik ini agar tak punah,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono meminta kepada pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya supaya memakai pakain batik paling tidak dua hingga tiga kali dalam sepekan.

“Jauh sebelum adanya intruksi dari Presiden RI untuk serentak memakai batik pada Jumat(2/10), saya sudah minta agar memakai batik,” katanya.

Menurut dia, memakai pakain batik merupakan salah satu upaya menghargai pusaka budaya bangsa Indonesia. Pasalnya, batik sendiri nyaris diakui oleh negara Malaysia sebagai budayanya.

Selain itu, kata dia, dengan memakai pakain batik, juga memberikan penghasilan bagi para perajin batik yang saat ini mulai marak di Surabaya dan juga memberikan bekal ketrampilan membatik di kalangan ibu-ibu PKK.

“Semakin terampil ibu-ibu PKK, maka semakin banyak industri batik yang ada di Surabaya,” ujarnya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya menyarankan agar seluruh pegawai di Pemkot Surabaya membiasakan dengan memakai batik, paling tidak dalam sekali dalam sepekan.

Kepala Sub Bagian (Kasubag) Liputan berita dan Pers, Bagian Humas Pemkot Surabaya, Eddy Witjayanto menambahkan bahwa kebiasaan memakai pakain batik sudah dilakukan pegawai pemkot setiap hari Jumat. “Meski tidak ada aturan resmi, tapi banyak di antara pegawai yang sudah memakai batik,” katanya.

Namun, kata dia, pihaknya juga tidak memungkiri adanya sejumlah pegawai yang enggan memakai batik pada hari Jumat dengan alasan tertentu. “Tiap orang punya alasan sendiri-sendiri,” katanya.

Namun, pemakaian seragam batik selama sepekan dianjurkan pada saat peringatakan Hari Kebangkitan Nasional. Hal itu merupakan instruksi dari pemerintah pusat. (nta)

Faktor Kesulitan Membuat Batik Tulis Mahal

In FEATURES on 19 Oktober 2009 at 1:14 PM

oleh Neta P. Nasution

SIANG itu, arena pameran Karya Kreatif UKM 2009 di Balai Sidang Jakarta, Minggu (18/10), berjejal manusia. Pengunjung dewasa dan anak-anak berjibun jadi satu. Ada stan pameran yang laris manis diborong pengunjung, ada yang biasa-biasa saja. Namun ada juga yang seret, dengan berbagai penyebabnya.

Stan pameran batik tulis, misalnya. Seorang wanita berpenampilan molek dengan nama  

Farida (35) batal membeli selembar kain batik tulis setelah ia tahu harga yang ditawarkan. Penjual menyebut harga Rp 450.000 untuk selembar kain yang memikat hatinya.


Sebelum menanyakan harga, ia sudah meneliti beberapa kain. Setelah menemukan kain dengan corak yang dirasa pas, baru ia bertanya harganya. ”Tadinya mau buat bawahan kebaya yang beli di sini juga. Enggak jadi beli deh, mahal banget. Heran kenapa harganya bisa begitu,” gumamnya.


Keingintahuannya terjawab sebelum ia keluar dari arena pameran. Penyelenggara pameran menyediakan tempat demo bagi pengunjung. Beberapa perajin menyediakan bahan demo yang bisa digunakan pengunjung. Pengunjung bisa memilih kerajinan tangan di pojok arena demo atau membatik di bagian tengah arena.


Farida memilih tempat demo batik. Ia mencoba menggambar bunga. Belum 10 menit, ia sudah merasa susahnya membuat batik tulis. ”Kadang malam (tinta batik)-nya enggak mau keluar, kadang keluar kebanyakan, keluar sampai meleber ke mana- mana. Bikin batik susah banget, wajar harganya mahal,” ujarnya.


Ibu dua anak itu butuh hampir 20 menit untuk membuat motif kelopak bunga yang kurang memuaskan hasilnya. Tetapi, ia senang karena bisa merasakan pengalaman membuat batik. ”Kalau di televisi kelihatannya mudah sekali, sebentar saja langsung jadi motif. Waktu coba sendiri, susahnya minta ampun. Buat batik cap juga katanya susah dan lama. Kalau batik cetak mudah dan cepat, makanya bisa murah,” ujarnya.


Meski tahu susahnya membuat batik, ia tidak kembali ke gerai penjual kain batik tulis yang sebelumnya didatangi. Ia sudah cukup puas dengan beberapa baju batik yang motifnya hasil cetakan mesin. ”Ini sudah bagus kok, bisa buat ke kantor atau acara biasa,” ujarnya.


CANTING PANAS


Pengunjung lain, Dira (21), juga merasakan susahnya membatik. Kesusahan dirasakan mulai dari memegang canting. Alat untuk menorehkan malam ke kain itu terasa panas karena terus berada di kuali berisi malam. Kuali itu terus dipanaskan agar malam tetap cair dan bisa ditorehkan ke kain. ”Ini cantingnya panas, kelamaan di dalam kuali. Heran kenapa perajin-perajin itu enggak kepanasan,” tuturnya.


Sebelum malam bisa ditorehkan, canting harus ditiup dulu untuk melancarkan saluran ujungnya. Dira butuh melakukan beberapa kali sebelum bisa meniup dengan pas. ”Kalau meniup terlalu keras, malamnya muncrat ke mana-mana. Terus di kain meleber karena malam terlalu lancar mengalir dari canting. Kalau kelewat pelan, malam enggak mau keluar. Perajin-perajin di Pekalongan atau Solo itu sudah tiap hari niup canting, jadi kelihatan enak bener,” ungkapnya.


Uji coba di arena pameran itu membuat mahasiswi salah satu perguruan tingi swasta di Jakarta ini tahu kenapa batik mahal. Baginya, membeli batik bukan sekadar membeli kain. ”Pembeli lebih membayar untuk keahlian para perajin. Keahlian itu perlu latihan bertahun-tahun sebelum bisa membuat batik bagus-bagus,” tuturnya.


Motif-motif batik juga tidak sembarangan dibuat. Tiap motif memiliki landasan filosofi tersendiri. ”Kata teman dari Solo, tiap acara sebenarnya ada motif khusus. Bagi yang muda seperti saya sih, enggak terlalu ngerti. Cuma kalau dipelajari, menarik juga. Tetapi, saya sih belum punya batik tulis,” ujarnya.


Salah seorang teman kuliah Dira yang juga hadir di arena pameran, Arman, mengatakan, seharusnya ada lebih banyak pelajaran soal landasan filosofi dan nilai batik. Pelajaran itu akan mendorong orang mengerti dan menyukai batik. ”Sekarang orang pakai batik karena sedang tren. Kalau tren sudah habis, siapa mau pakai batik? Kan sama waktu sebelum tren, enggak ada orang mau pakai batik. Kesannya cuma orang tua yang pantas pakai batik,” katanya.


Tindak lanjut atas pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia seharusnya tidak berhenti sebatas anjuran memakai saja. Orang Indonesia harus diberi tahu lebih banyak mengapa UNESCO membuat pengakuan itu. ”Mungkin harus ada pelajaran lebih banyak soal sejarah batik pada masa lalu dan sekarang. Pelajarannya jangan kaku, nanti enggak menarik buat yang muda-muda,” ujarnya.


Pelajaran itu juga akan membantu orang Indonesia yakin batik memang dikembangkan bangsa ini. Jadi, orang Indonesia bisa menjelaskan kepada warga asing tentang batik. ”Waktu ada negara lain klaim batik, banyak yang marah. Tetapi, enggak semua ngerti kenapa harus marah karena enggak ngerti soal batik. Itu sebenarnya malah membuat citra Indonesia jadi jelek. Mending buat lebih banyak orang tahu soal batik biar makin banyak yang bisa jelasin soal batik,” ujarnya.


Cara seperti itu akan lebih diterima dan menarik simpati warga negara asing. Warga negara asing akan yakin batik memang warisan budaya asli Indonesia karena banyak orang Indonesia yang bisa menjelaskan soal batik. ”Sama juga dengan kepemilikan benda lain. Mana bisa ngaku punya sesuatu kalau enggak bisa jelasin sesuatu itu seperti apa,” tuturnya.


Namun, seperti Farida dan Dira, Arman belum punya koleksi batik tulis. Faktor harga jadi alasan utama ia belum memiliki busana dari batik tulis. ”Selain itu, rasanya sayang kain bagus dan mahal dipotong-potong buat baju. Mending buat yang lain aja deh,” tuturnya. (kompas cetak/berbagai sumber)