tribunindonesia

Archive for the ‘DAERAH’ Category

Demi SUCI, PPKB dan Garda Bangsa Siapkan Relawan

In DAERAH on 12 April 2010 at 4:24 PM
oleh Nico Miftahurahman/ Prima Sp Vardhana
Sidoarjo, TRIBUNTurunnya Rekom DPP PKB untuk H. Saiful Ilah – Hadi Sutjipto sebagai pasangan Cabup-Cawabup yang diusung PKB Sidoarjo dalam Pemilukada 2010, ternyata menyedot dukungan para simpatisan atau pun mesin politik PKB yang sebelumnya terpecah-pecah.
Dukungan pertama atas Rekom tersebut ditunjukkan oleh Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB) sebagai salah satu Badan Otonomi (Banom) di bawah naungan PKB. Sikap itu ditunjukkan oleh Ketua DPC PPKB Sidoarjo Hj Anik Maslacah. Wanita berjilbab itu menegaskan, dukungan yang diberikan kepada pasangan H. Saiful Ilah-H. Hadi Sutjipto akan diperkuat dengan mengerahkan para relawan yang terdiri dari Muslimat, Fatayat, PKK dan IPPNU secara personal.
“Kita akan kerahkan 5000 relawan dari berbagai unsur untuk mengamankan dan mendukung rekomendasi itu,” kata Anik Maslacah yang juga kordinator tim relawan ini, Senin (12/4).
Tim relawan tingkat kabupaten, menurut anggota komisi C DPRD Sidoarjo ini, sudah terbentuk beberapa hari lalu. Kedepan, akan segera dibentuk tim relawan hingga tingkat RT. “Tim relawan ini, khusus membidik pemilih khusus perempuan,” ujarnya.
PPKB sendiri saat ini sudah terbentuk hingga tingkat ranting, dengan perkiraan jumlah konstituen sebanyak 20.000 kader.  Jumlah struktur ketua ranting kita sebanyak 353 ranting yang masing masing ranting terisi 25 pengurus. Jumlah ini dikalikan 18 kecamatan ditambah 50 pengurus DPC. Jadi Jumlah anggota PPKB terbilang cukup banyak dan solid,” katanya
Selain itu, Garda Bangsa Sidoarjo memastikan siap mengawal Rekom DPP PKB. Sikap itu ditegaskan Ketua Dewan Kordinasi Cabang (DKC) Garda Bangsa Kabupaten Sidoarjo Achmad Amir Aslickhin. Menurut ia, sebagai salah satu motor penggerak dan Badan Otonomi PKB, sudah semestinya Garda Bangsa mengawal dan mengamankan intruksi Partai, yang mengusung H.Saiful Ilah dan MG Hadi Sutjipto sebagai pasangan calon Bupati-wakil bupati Sidoarjo periode 2010-2015.
Sebagai langkah sosialisasi sikap DKC Garda Bangsa Sidoarjo ini,  kedepan akan dilakukan konsolidasi hingga tingkat bawah. “Kita akan  menggelar rapat pleno untuk mengamankan Rekom DPP ini. Rencana ini berkaitan untuk mensatukan visi organisasi dalam mengawal kebijakan partai dalam Pemilukada 2010 mendatang,” katanya.
Jumlah anggota Garda Bangsa Sidoarjo, diakui, saat ini mencapai ribuan. Mereka tersebar di tiap kecamatan melalui satgassatgasnya. Secara struktural, jumlah kepengurusan di tingkat ranting mencapai empat ribu anggota. Jumla itu belum termasuk yang tersebar pada tingkatan satgas yang menjadi bagian dari divisi Garda Bangsa.
Secara organisatoris, menurut pria yang juga ketua fraksi PKB ini, sangat mustahil jika Garda Bangsa berbeda sikap dalam Pemilukada 2010. Pasalnya Garda Bangsa dibuat sebagai Banom yang bertugas mengawal setiap kebijakan partai. (ico/vd)
Iklan

Saiful Ilah–Hadi Sutjipto Tak Terpengaruh Gosip

In DAERAH on 7 April 2010 at 4:00 PM

oleh Nico Miftahurahman / Prima Sp Vardhana

GOSIP keakraban politis Cabup Sidoarjo H. Syaiful Ilah dengan Komisaris PT. Minarak Lapindo Jaya, Gesang Budianto menuju Pemilukada Sidoarjo 2010-2015, ternyata tidak seluruhnya benar. Hubungan Syaiful Ilah dan Gesang hanya sebatas teman.
Sedangkan pasangan yang digandeng Ketua Umum PKB Sidoarjo itu menuju Pemilukada, tetap sesuai komitmen awal. Syaiful Iluh tetap akan menggandeng Asisten I Sekdakab Bidang Pemerintahan dan Kesra Hadi Sutjipto.
Tetapnya komitmen itu ditunjukkan dengan sikap mesra Syaiful Ilah dan Hadi Sutjipto, usai prosesi pelantikan pejabat teras pemkab Sidoarjo Rabu (7/4/2010). Keakraban itu muncul saat Syaiful Ilah dikonfirmasi Tribun Indonesia tentang sikapnya yang bersalaman dengan Gesang di lokasi area pusat semburan titik 25 saat mendampingi kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 29 Maret.
“Mana wartawan, ayo ambil gambar saya dengan pak Tjip. Biar nggak ada yang bingung,” kata Syaifl Ilah sambil memanggil MG Hadi Sutjipto yang saat itu tengah menuju ke mobilnya.
Mendengar namanya dipanggil Wakil Bpati Sidoarjo, Hadi Sutjipto pun dengan wajah semringah  menghampiri Saiful Ilah. Keduanya pun dengan mesranya saling bersalaman, bahkan usai salaman Syaiful Ilah terlihat berbisik pada Hadi Sutjipto yang ditanggapi dengan senyum.
Prosesi keakraban yang ditunjukan Syaiful Ilah bersalaman dengan Had Sutjipto itu, secara otomatis mematakan banyaknya rumor beredar dilapangan, bahwa Saiful Ilah seolah-olah memastikan diri menggandeng Sekretaris DPD Golkar Jatim, Gesang Budiarso untuk dijadikan wakilnya.
Sementara itu ketua PAC PKB Gedangan, M Kalim, menegaskan bahwa pasangan Saiful-Tjip  sudah tidak tergoyahkan lagi. Bahkan secara organisatoris PKB sudah memberikan kewenangan pada para Kyai PKB untuk memilihkan pasangan Saiful Ilah melalui shalat Istikhoro. Apalagi menurut Rais Syuriah PC NU Sidoarjo KH Rofiq Siroj, menunjuk pada cawabup (Calon Wakil Bupati) H. MG Hadi Sutjipto. Sampai tiga kali Istikhoroh yang dilakukan para ulama, ternyata hasilnya tetap. Sehingga para kyai sepakat menyimplkan, bahwa sosok Ketua Takmir Masjid Agung, Kab. Sidoarjo itu merupakan calon pasangan Syaiful Ilah pilihan Allah Swt.
”Sejak awal, secara pribadi para Kyai NU di Sidoarjo sudah yakin, bahwa Pak Tjip (panggilan populer Hadi Sutjipto, red.) sangat layak dan pas untuk mendampingi Pak Syaiful. Namun, kami tidak berani mengumumkan, karena kami takut pada Allah,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah dan Al Hidayah, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, tersebut.
Berpasangan dengan Hadi Sutjipto, menurut dia, Syaiful Ilah secara politis memiliki peluang besar untuk berkibar dalam Pemilukada Sidoarjo. Ini karena secara individu, manta Kadindik (Kepala Dinas Pendidikan) Kab. Sidoarjo itu memiliki pendukung fanatik yang siap mensukseskan, baik di lingkungan PNS Pemkab Sidoarjo, Para Guru tetap dan honorer, juga pendukung dari lingkungan lain. Selain itu, memiliki pengalaman di pemerintahan yang sangat banyak, sehingga arah kebijakan pasangan Bupati dan Wakil Bupati akan lebih terfokus dan sesuai dengan amanah yang diharapkan oleh masyarakat Sidoarjo.
Tak dipungkiri kyai yang akrab dengan wartawan itu, ia nekad membuka hasil istikhoroh para kyai tersebut lantaran ingin bersikap transparan pada masyaraka Sidoarjo. Ia ingin menunjukkan, bahwa para Kyai NU sudah melaksanakan janji untuk istikhoroh atas cawabup, yang layak mendampingi Syaiful Ilah untuk maju dalam Pemilukada Sidoarjo.
Hasil Istikhoro para Kyai PKB yang menunjuk Hadi Sutjipto sebagai Cawabup. Dikatakan M Kalim, merupakan lampu hijau yang tidak bisa diingkari siapa pun juga politisi PKB Sidoarjo dan Jatim. Pasalnya hasil Istikhoroh itu membuktikan, bahwa Allah sudah memilihkan H. Syaiful Ilah sebagai pasangannya.  

”Jika Pak Syaiful oleh Allah dipasangkan dengan Pk Tjip, saya yakin Pak Syaiful sebagai seorang muslin akan menerimanya dengan lapang dan besa hati. Pak Syaiful dan Pak Tjip pasti akan maju sebagai pasangan,” katanya dengan yakin. (ico/vd) 

Syaifu Ilah – Hadi Sutjipto ’Direstui’ Muhaimin

In DAERAH on 12 Maret 2010 at 10:00 AM
oleh Zulfikar Hisbulrahman / Prima Sp Vardhana
 
Sidoarjo,  TRIBUNPerjalanan pasangan Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) H.Syaiful Ilah dan H. MG Hadi Sutjipto maju dalam Pemilukada Sidoarjo 2010 dengan kendaraan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), dapat dipastikan akan menjadi kenyataan. Ini karena Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB, Drs. H. Muhaimin Iskandar, MSi sudah memberikan restu secara lisan. Tidak hanya itu, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) itu sudah menugaskan asistennya untuk membuatan Surat Rekomendasi yang akan dikirimkan ke PKB Sidoarjo.
Demikian informasi yang dberikan Gus Rachmat, ustad muda dari Surabaya yang mempunyai hubungan khusus dengan beberapa pengurus DPP PKB, Jumat (12/03).
Pertemuan khusus antara pasangan Syaiful Ilah dan Had Sutjipto (Suci) dengan Muhamin Iskandar, menurut Gus Rachmat, terjadi di Jakarta. Namun, pertemuan itu berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang pertama Muhaimin bertemu Syaiful Ilah dan para Kyai PKB dan NU Sidoarjo, yang datang ke Jakarta untuk menyampaikan hasil Istikhoroh para Kyai PKB dan NU yang menghasilkan H. Hadi Sutjipto sebagai cawabup pilihan Allah Swt.
Melihat hasil laporan tersebut, Muhaimin pun tertarik untuk bertemu dengan Hadi Sutjipto yang juga Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekwildakab Sidoarjo. Selain ingin berkenalan, keponakan almarhum Gus Dur itu juga ingin menyampaikan pesan agar Pak Tjip (panggilan akrab HadiSutjipto, red.) bersikap totalitas dalam membantu Syaiful Ilah maju ke Pemilukada dan membangun Sidoarjo yang kini perekonomiannya berada pada titik nadir.
Melihat Muhaimin memberi sambutan hangat dan menerima dengan tangan terbuka atas sosok Hadi Sutjipto sebagai Cawabup hasil Istikhoroh para Kyai, maka Syaiful Ilah pun sibuk menghubungi Pak Tjip untuk terbang ke Jakarta untuk dipertemukan dengan Muhaimin. Setelah berkali-kali gagal menghubungungi, maka saat berhasil menghubungi Pak Tjip. Dengan antusian Wakil Bupti Sidoarjo itu pun meminta Pak Tjip terbang ke Jakarta dan dijemput di Bandara Soekarno-Hatta, sembari mengantar rombongan para Kyai PKB dan NU Sidoarjo kembali.
”Saat bertemu di Bandara itu, Pak Syaiful langsung mengajak Pak Tjip untuk bertemu dengan Muhaimin. Menjelang Magrib, pasangan Cabup dan Cawabup itu pun bertemu dengan Muhaimin. Melihat waktu petemuan mereka yang ditadirkan Allah menjelang Magrib, saya yakin jika Pak Syaiful dan Pak Tjip merupakan pasangan yang mendapat amanah Allah untuk memimpin Sidarjo,” kata ustad muda yang senang bicara ceplas-ceplos ini.
Pertemuan Syaiful Ilah – Hadi Sutjipto dengan Muhaimin, diakui sumbernya di DPP PKB, berlangsung denga gayeng dan penuh canda tawa. Muhaimin seakan kenal akrab dengan Hadi Sutjipto, meski keduanya baru pertama kali itu bertemu. Dalam pertemuan itu, Muhaimin memberikan garansi ”akherat” jika pasangan Cabup-Cawabup dari PKB Sidoarjo yang maju ke Pemilukada Sidoarjo 2010 adalah Syaiful Ilah dan Hadi Sutjipto.
Sikap terbuka yang ditunjukkan politikus muda yang lemah dalam berbahasa Inggris, karena keberadaan Pak Tjip sebagai Cawabup dari Desk Pemilukada PKB merupakan hasil istikhoroh para Kyai PKB dan NU di Sidoarjo. Sehingga sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB, ia berkewajban untuk memuluskan sosok pilihan Allah itu.

”Saya ini hanyalah umat Allah Swt yang kebetulan mendapat amanah memimpin PKB. Karena itu, saya harus mendukung sosok pilihan Allah. Saya takut dengan amarah Allah jika mengambil keputusan yang bertentangan dengan keputusan Allah,” kata Gus Rahmat menirukan ucapan Muhaimin yang didengar dari sahabatnya di DPP PKB. (rza/vd

Hadi Sutjipto Hasil Istikhoroh Kyai

In DAERAH on 4 Maret 2010 at 6:19 AM
oleh Nicolay Miftahurrachman/ Prima Sp Vardhana
Sidoarjo, TRIBUN –Shalat istikhoro para Kyai PC NU Sidoarjo, tenyata tidak jauh dari prediksi. Wakil Bupati Sidoarjo, H. Syaiful Ilah yang maju dalam Pemilukada Sidoarjo 2010 sebagai Calon Bupati, akhirnya mendapatkan pasangan yang berpeluang memuluskan langkahnya untuk merebut tahta W-1.
Hasil istikhoroh para Kyai PKB dan NU Sidoarjo, menurut Rais Syuriah PC NU Sidoarjo KH Rofiq Siroj, menunjuk pada cawabup (Calon Wakil Bupati) H. MG Hadi Sutjipto. Sampai tiga kali Istikhoroh yang dilakukan para ulama, ternyata hasilnya tetap. Sehingga para kyai sepakat menyimplkan, bahwa sosok Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekwilda Kab. Sidoarjo itu merupakan calon pasangan pilihan Allah Swt yang layak mendampingi Saiful Ilah.
”Sejak awal, secara pribadi para Kyai NU di Sidoarjo sudah yakin, bahwa Pak Tjip (panggilan populer Hadi Sutjipto, red.) sangat layak dan pas untuk mendampingi Pak Syaiful. Namun, kami tidak berani mengumumkan, karena kami takut pada Allah,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah dan Al Hidayah, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, tersebut.
Berpasangan dengan Hadi Sutjipto, menurut dia, Syaiful Ilah secara politis memiliki peluang besar untuk berkibar dalam Pemilukada Sidoarjo. Ini karena secara individu, manta Kadindik (Kepala Dinas Pendidikan) Kab. Sidoarjo itu memiliki pendukung fanatik yang siap mensukseskan, baik di lingkungan PNS Pemkab Sidoarjo, Para Guru tetap dan honorer, juga pendukung dari lingkungan lain. Selain itu, memiliki pengalaman di pemerintahan yang sangat banyak, sehingga arah kebijakan pasangan Bupati dan Wakil Bupati akan lebih terfokus dan sesuai dengan amanah yang diharapkan oleh masyarakat Sidoarjo.
Tak dipungkiri kyai yang akrab dengan wartawan itu, ia nekad membuka hasil istikhoroh para kyai tersebut lantaran ingin bersikap transparan pada masyaraka Sidoarjo. Ia ingin menunjukkan, bahwa para Kyai NU sudah melaksanakan janji untuk istikhoroh atas cawabup, yang layak mendampingi Syaiful Ilah untuk maju dalam Pemilukada Sidoarjo.
”Namun, kalau nantinya Pak Syaiful memilih pasangan yang bukan pasangan hasil istikhoroh para Kyai NU. Hal itu merupakan kebijakan Pak Syaiful sebagai Calon Bupati, sehingga kalau pun nanti dalam perjalanannya mengikuti Pemilukada ataupun memerintah Sidoarjo terjadi musibah akibat amarah Allah, itu juga menjadi tanggungjawab Pak Syaiful,” ujarnya. (ico/vd)

Wiwied Soewandi Menebar Janji Menuai Kecaman

In DAERAH on 25 Februari 2010 at 10:00 AM

oleh Prima Sp Vardhana / Profil Serie-2 Habis

SEPANJANG mengikuti kampanye pencitraan diri yang dilakukan Bambang Prasetyo Widodo atau karib disapa Wiwied Soewandi, sepintas lalu sosok putra mantan Bupati Sidoarjo, Soewandi ini mampu memagis sebagian masyarakat yang dikunjungi. Sehingga dirinya pun jadi sosok calon bupati yang menjanjikan untuk membawa kemakmuran pada Kab. Sidoarjo.
Padahal semua janji-janjinya yang bernuansa keberpihakan pada wong cilik dengan wacana Tilik Deso, Noto Deso, Mbangun Kuto itu, hanyalah sebuah orasi politik hasil kecerdikan tim suksesnya. Targetnya kecilnya sekadar sebagai magis pengumpul suara dukungan untuk memuluskan ambisi pribadi dan golongan untuk menguasai Kab. Sidoarjo. Sedangkan target utamanya adalah “mengamankan” bisnis keluarga Bakrie yang terancam akibat tragedi sumur Banjar Panji (populer sebagai Tragedi Lumpur Lapindo, red.).
Strategi ambisius yang mendorong Wiwied dalam perebutan tahta W-1 itu terlihat dari skenario yang menggiringnya tampil. Kendati dia menegaskan, bahwa majunya sebagai Calon Bupati dalam Pemilukada 2010 murni dari dorongan pribadi, yang ingin mempebaiki kondisi Sidoarjo yang tersuruk pada titik nadir perekonomian nasional itu.Secara psikologis sangatlah kontroversi dengan fakta yang mencengkeram dirinya saat ini.
Sebagai seorang pribadi, Wiwied adalah pejabat Direktur Operasional PT. Minarak Lapindo Jaya yang bertanggung jawab dalam proses pelunasan tanah dan bangunan milik para korban Lumpur Lapindo. Namun fakta membuktikan, hingga saat ini perusahaan juru bayar PT Lapindo Brantas itu tak mampu memenuhi kewajibannya. Pembayaran yang dilakukan selalu diulur-ulur tanpa rasa bersalah dan dosa. Padahal banyak korban Lumpur Lapindo itu kini menjadi keluarga mbabungan (keluarga yang hidup dengan status fakir miskin dan tak punya tempat tinggal).
TUJUH TURUNAN
Karena itu, beberapa korban Lumpur Lapindo lewat Kus Laksono, Koordinator Tim 16 korban lumpur dari Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) I, menilai Wiwied Soewandi tidak pantas memimpin Sidoarjo. Sebab dia dinilai gagal mengurusi persoalan jual beli aset warga korban Lapindo.
“Bagaimana Pak Wiwied mampu mengurus masyrakat Sidoarjo yang jumlahnya jutaan jiwa. Mengurus hak ganti rugi korban Lumpur Lapindo yang jumlahnya ratusan orang saja tidak becus. Kalau ada masyarakat Sidoaro yang mendukungnya itu keblinger tuju tujuh turunan,” katanya dengan senyum sinis.
Hal senada juga disampaikan Muhamad Irsyad, warga Besuki Timur yang tidak masuk peta terdampak. Menurut dia, siapapun sosok yang jadi bupati hasil Pemilukada 2010 tidak akan mampu memberikan perubahan pada nasib korban Lapindo, apalagi terhadap warga yang ada di luar peta seperti warga Besuki Timur. “Lebih-lebih petinggi Minarak juga nanti mencalonkan diri. Peristiwa ini sebuah penghinaan terhadap warga korban Lapindo. Selama 4 tahun kasus Lapindo, mereka tidak memberikan perbaikan, kok mau jadi bupati,” ujar Irsyad meragukan komitmen Wiwied sebagai Calon Bupati yang pro-rakyat.
Sedangkan Muhammad Zainal, warga Renokenongo yang masih belum terbayar sisa pembayaran 80 persen, berpendapat sama. Terhadap semua calon bupati Sidoarjo yang nanti maju, Zainal sangat pesimis. Ia meragkan, bupati terpilih itu akan membawa perubahan bagi Sidoarjo, apalagi untuk masyarakat korban lumpur Lapindo.
“Kalau Pk Wiwied punya komitmen untuk membawa perubahan bagi Sidoarjo umumnya dan warga korban Lumpur Lapindo khususnya, kenapa tidak ditunjukkan dari dulu untuk memberikan bantuan. Sebagai orang awam, saya yakin majunya Pak Wiwied karena pesanan keluarga Bakrie untuk mengamankan bisnisnya di Sidoarjo,” ujarnya.
Berkaitan dengan penyelesaian pembayaran aset korban lumpur Lapindo sendiri, setidaknya masih ada 20 warga Desa Gempolsari yang belum menerima pembayaran, baik 20 persen maupun 80 persen. Selain itu, ada sekitar 59 berkas warga Desa Jatirejo belum menerima sepeser pun. Sedangkan sekitar 300 lebih warga dari 4 desa terdampak masih terkatung-katung soal sisa pelunasan 80 persen. Selain itu, pemerintah hingga saat ini tidak memiliki program khusus terhadap pemulihan pendidikan dan perekonomian korban Lumpur Lapindo selama hampir 4 tahun.
Masalah lain yang berpeluang menggagalkan ambisi Wiwied adalah persoalan kredit macet di Bank Jatim Cabang Sidoarjo. Kredit macet sekitar Rp 3 miliar itu terkait profesi Wiwied sebagai developer salah satu perumahan di daerah Candi. Dengan ambisi sebagai Bupati Sidoarjo, menurut Mbah Ponidi -sesepuh masyarakat Tulangan, seharusnya Wiwied merupakan sosok yang sempurna dan taat hukum.
”Saat ini saja, belum menjadi seorang bupati sudah mengantongi predikat pengkredit macet. Bagaimana nanti nasib masyarakat Sidoarjo ke depannya, kalau Pak Wiwied sudah memiliki kekuasaan. Wah bisa-bisa nasib msyaakat Sidoarjo lebih menderita dari kondisi saat ini,” ujarnya.
Berpijak dari ambisi Wiwied Soewandi yang ingin merebut tahtah W-1 dengan ketidakmampuan dalam membantu korban Lumpur Lapindo. Juga, beragam kekurangannya sebagai seorang pribadi dan pengusaha. Tak pelak lagi, para korban Lumpu Lapindo bersama masyarakat Tulangan, Krian, Wonoayu, Porong, Tanggulangin dan kecamatan lain yang akan merapat sepakat melakukan penghadangan terhadap ambisi Wiwied untuk menjadi Bupati Sidoarjo.(pvardhana88@gmail.com)

Wiwied Soewandi ‘Boneka Bisnis’ Grup Bakrie di Sidoarjo

In DAERAH on 24 Februari 2010 at 6:00 PM
oleh Prima Sp Vardhana / Profil Serie-1
GAGAL memenuhi janji melunasi komitmen cash and carry pada mayoritas korban lumpur Lapindo, ternyata tidak membuat PT. Minarak Lapindo Jaya terserang rasa malu dan pekiwuh. Perusahaan juru bayar PT Lapindo Brantas yang menangani urusan jual beli aset tanah dan bangunan korban luapan lumpur sumur Banjar Panji ini, justru bersikap kurang simpati dan miskin empati.
Sikap itu ditunjukkan dengan ambisi anak perusahaan keluarga  Grup Bakrie ini dengan mengikuti perebutan tahta Bupati Sidoarjo lewat Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), yang rencananya diselenggarakan April 2010 mendatang. Besarnya ambisi tersebut diproyeksikan dengan menurunkan dua calon andalan mereka, yang dilengkapi dana puluhan miliar rupiah sebagai stimulus merebut tahta W-1.
Sosok pertama yang dibiayai adalah Komisaris Utama PT Minarak Lapindo Jaya Gesang Budiarso. Kendaran politik yang rencananya akan ditunggangi adalah Partai Golkar. Ini karena posisi pria berpostur tinggi langsing ini sebagai Sekretaris DPD Golkar Jatim. Kendati demikian, ternyata pria yang gagal dalam Pemilihan Legislatif 2008 ini belum juga berani unjuk gigi secara terus terang. Sikap hati-hati dan menempatkan posisi diri sebagai “kuda hitam” itu dilakukan, karena tertebas hasil survey DPD Golkar Sidoarjo untuk mengetahui tingkat popularitas dan elektabilita tokoh yang akan dijagokan.
Hasil survey dengan metode kuesioner yang dipaparkan Ketua Golkar Sidoarjo, Warih Andono pada pertengahan Januari silam, menunjukkan, Gesang hanya menempati posisi ketiga diikuti Emy Susanty –istri Bupati Win Hendrarso- di posisi keempat. Sedangkan posisi dua besar terpopuler di masyarakat Sidoarjo, adalah Wakil Bupati H. Syaiful Ilah dan Ketua DPW PKB Jatim H. Imam Nahrawi.
Dengan posisi yang tidak menjanjikan itu, maka PT. Minarak Lapindo Jaya mengubah strateginya untuk proyek perebutan tahta W-1. Kali ini sosok yang diharapkan mampu menandingi kepopuleran Syaiful Ilah adalah Direktur Operasional PT Minarak Lapindo Jaya Bambang Prasetyo Widodo. Pria bernama populer Wiwied Soewandi ini diyakini mampu menjadi boneka koalisi perusahaan Keluarga Bakrie, karena secara kebetulan dia anak dari Soewandi, mantan Bupati Sidoarjo pada era 1975-1985. Target kendaraan poltiknya adalah koalisi Partai Golkar, Gerindra, dan PKNU.
Skenario pencitraan sosok Wiwied Soewandi pun digeber tim suksesnya. Proyek pertama yang digelar dengan kemasan dramaturgi, adalah melakukan tebar pesona dan janji manis pada masyarakat papan bawah yang buta ”skenario politik” yang nantinya akan berakhir dengan pepesan kosong. Jadwal yang disiapkan tim suksesnya sangat padat. Bagaimana tidak. Sejak tanggal 16 hingga 24 Februari, pria berkacamata ini harus berakting dalam beragam peran. Berakting sebagai sosok politikus, ia menghadiri acara intern konsolidasi DPC Gerindra Sidoarjo menghadapi Pilkada Sidoarjo 2010 dan Pemilu 2014 di Hotel Sun City, Sidoarjo, Selasa (16/2) sore.
Malam harinya, berakting sebagai muslim yang (maaf, red) taat dan empati pada masyarakat kelas bawah, Wiwied dengan baju batik dan celana gelap dengan songkok yang kian rutin dikenakan menghadiri pengajian warga di Jl. Airlangga. Pertemuan yang kental atmosfer beribadah itu, dengan liciknya dimanfaatkan untuk menebar pesona dan janji manis untuk meraih dukungan suara dalam pencalonan dirinya.
Setelah itu, berjibun jadwal pencitraan pada masyarakat kecil dilakukan kubu Wiwied. Misalnya dengan melakukan tebar pesona dan janji-janji politik pada masyarakat cilik di daerah Krembung, Tulangan, Wonoayu, dan Kureksari – Waru. Juga, menemui tokoh masyarakat wilayah Krian, Balongbendo dan Tarik di Balai Desa Balongbendo. Selain itu, ia juga melakukan kunjungan mohon restu dan dukungan dengan sowan pada mantan Bupati Sidoarjo, Soegondo.
Kubu Wiwied juga berusaha menarik simpati pada bolamania Sidoarjo, dengan memberikan bantuan sekitar Rp 300 juta pada tim profesional Deltras. Di lain saat, tim suksesnya mengantar Wiwied sowan pada pengurus Paguyuban Mantan Kepala Desa (PMKD) Kab. Sidoarjo di Wonoayu, yang mengklaim diri beranggotakan 650 mantan Kades. Berselang sehari, Wiwied bertemu dengan para tokoh masyarakat dan petani tebu dan guru di gedung Pepabri Krembung.

Setelah disibukkan jadwal tebar pesona, pada 24 Februari posko pemenangan pun di perumahan Pondok Mutiara blok I no 11 Sidoarjo diresmikan. Posko yang diberi nama Media Center Wiwied Soewandi itu tak tanggung-tanggung, peresmiannya dihadiri KH Ali Mustawa, pengasuh Ponpes Sabilul Rosyad Bareng Krajan Krian, yang sekaligus didapuk untuk membacakan doa. (pvardhana88@gmail.com)