tribunindonesia

Rasulullah Benci Pemimpin Ambisius

In UBUDIYAH on 5 Maret 2010 at 7:59 AM

oleh H. M.G. Hadi Sujipto *) 

WAKTU penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Sidoarjo 2010, yang Insya Allah berlangsung pada bulan April kian dekat. Itu kalau pencairan anggaran pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) tidak molor, karena Peraturan Daerah (Perda) untuk mengatur pemanfaatan APBD 2010 yang sudah disahkan akhir Januari lalu.
Kendati demikian, ternyata peta calon bupati (Cabup) atapun wakil bupati (Cawabup) kian ramai. Banyak sosok tokoh bermunculan. Latar belakang dan misi mereka dalam memburu tahta Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo, juga sangat variatif.  Satu-satunya persamaannya, mayoritas para calon dari kalangan Islam. Kondisi ini menunjukkan tingkat keinginan tokoh-tokoh umat Islam untuk memakmurkan dan mensejahterakan (dalam tanda petik tentunya) masyarakat sangat tinggi. Di sisi lain, kondisi ini juga sangat berbahaya bagi umat Islam sendiri. Mengapa demikian.
Banyaknya tokoh umat Islam yang minta dipilih, secara keutuhan tidak dapat dipungkiri akan membuat suara umat Islam Sidoarjo terpecah. Artinya, saat para sosok umat Islam itu tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing berambisi maju menjadi pemimpin. Tontonan itu merupakan tanda-tanda kekalahan umat Islam.
Perhitungan matematikanya, kalau saja jumlah umat Islam di Kab. Sidoarjo berjumlah 83%  dari kapasitas warga pemilik suara, maka suara umat Islam yang ada akan tercerai berai seba-nyak jumlah pasangan yang direstui KPU. Me-lihat jumlah sosok-sosok yang bermunculan bak jamur di musim hujan itu, bukan tidak mungkin jumlah pasangan yang akan direstui KPU de-ngan dukungan partai poltik dan independen bi-sa mencapi 3 hingga 5 pasangan.
Dengan ketatnya peta persaingan yang akan ber-langsung, maka para tokoh umat Islam yang ingin maju itu perlu melakukan kajian ulang atas visi dan misinya. Sikap ini demi kemaslahatan umat Islam Sidoarjo. Kepentingan pribadi atau golongan hendaknya disingkirkan jauh-jauh.
Yang perlu direnungkan dan selalu dipertanyakan dalam diri mereka yang ingin maju Pemilu-kada adalah: ”Sudah layakah aku mengajukan diri menjadi pemimpin?
Sebagai tokoh umat Islam, maka tolok ukur ke-layakan dan tidaknya mengajukan diri sebagai calon peminpin, tentu saja harus berpijak pada Al-Qur’an dan Hadits.
Pesan Rasul
Sosok pemimpin menurut Qur’an dan Hadits, sangatlah berat. Pasalnya seorang Umara atau Khalifah merupakan sosok panutan umat. Kare-na itu, para Cabup dan Cawabup hendaknya se-orang muslim yang paripurna dengan 6 karakter dasar sebagaimana yang digariskan Islam dan disyaratkan Rasulullah SAW.
Karakter pertama adalah seorang mukmin sejati yang ditunjukkan tokoh tersebut sejak belum maju Pemilukada. Sebab nilai-nilai luhur kepemimpinan yang diajarkan Islam hanya dapat dilaksanakan secara maksimal seorang pemimpin yang mukmin sejati. Kedua, tokoh tersebut memiliki keahlian. Kemampuan dan keahlian (capability) merupakan syarat mutlak dalam meletakkan amanah di pundak seseorang. Syarat ini disebutkan dalam teori manajemen, the right man on the right place. Islam sudah mengajarkan profesionalisme lewat pesan Rasulullah: Jika sebuah urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat-saat kehancuran akan datang”. (HR. Muslim).
Tokoh tersebut harus diterima ole umat yang a-kan dipimpinnya (acceptable), merupakan sya-rat ketiga. Keahlian yang teruji ditambah integritas pribadi yang terpuji membuat seorang pemimpin mudah diterima umatnya. Pemimpin yang memiliki cacat terlebih telah melukai hati masyarakatnya, tidak layak untuk dipilih. Pemimpin ke depan harus betul-betul bersih, jujur, amanah dan berjiwa reformis sejati.
Karakter keempat yang wajib dipenuhi, adalah tidak arogan, otoriter dan bersedia menerima koreksi. Pemimpin ke depan adalah pemimpin yang menganggap dirinya sebagai pelayan masyarakat. Hidupnya senantiasa dihabiskan untuk kepentingan rakyat bukan sibuk mengenyangkan perut sendiri dan kroninya.
Sedangkan karakter kelima, harus berkualitas. Dari segi fisik, mental dan intelektual. Pengetahuan dan wawasan luas, mental dan fisik yang sehat, akan membantu memecahkan persoalan yang akan dihadapi. Rasulullah bersabda: Seorang mukmin yang lebih kuat, baik dan dicintai Allah, merupakan pilihan yang lebih baik ketimbang mukmin yang lemah”. (HR. Muslim).
Karakter terakhir yang wajib dimiliki seorang cabup dan cawabup, tokoh tersebut harus memiliki tekad untuk mewujudkan kemaslahatan umat.
Segi inilah yang banyak diabaikan para pemimpin saat ini. Orientasi kepemimpinan yang semestinya ditujukan pada kemaslahatan umat berubah ke arah kepentingan pribadi/golongan dan kekuasaan.
Sudahkah karakter-karakter ini dimiliki oleh tokoh-tokoh umat Islam yang akan maju dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo dalam Pemilukada 2010 nanti?
Pandangan Islam
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta dan tidak pula kepada orang yang berharap-harap untuk diangkat.
Senada dengan hadits ini, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Abdur Rahman Ibnu Samurah ra: Wahai Abdur Rahman, janganlah engkau meminta untuk diangkat menjadi pemimpin. Sebab, jika engkau menjadi pemimpin karena permintaanmu, tanggung jawabmu akan besar sekali. Dan jika engkau diangkat tanpa permintaanmu, engkau akan ditolong orang dalam tugasmu. (HR. BukhariMuslim).
Dalam riwayat lain dijelaskan, bahwa Abu Dzar ra. pernah berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak hendak mengangkatku memegang suatu jabatan? Rasulullah SAW menepuk bahuku dan berkata: Wahai Abu Dzar, engkau ini lemah sedangkan jabatan ini amanah yang pada hari kiamat kelak harus dipertanggungjawabkan dengan risiko penuh penghinaan dan penyesalan, kecuali orang yang memenuhi syarat dan dapat memenuhi tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik. (HR. Muslim).
Berdasar pada 4 hadits di atas dapat disimpulkan, bahwa mengajukan diri untuk diangkat menjadi pemimpin adalah sesuatu yang tercela, apalagi jika tidak dibarengi dengan kelayakan diri menjadi pemimpin. Sebaliknya, apabila seseorang diangkat menjadi pemimpin karena dukungan atau permintaan umat, memenuhi syarat dan mampu menjalankan tugas dengan amanah, kondisi seperti ini tidaklah tercela.
Jika Islam memandang, bahwa berharap atau meminta diangkat menjadi pemimpin atau pejabat itu tercela, lalu bagaimana dengan apa yang pernah dilakukan Nabi Yusuf as yang meminta jabatan dan menonjolkan dirinya agar diberikan jabatan. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran: Jadikanlah aku bendaharawan Negara (Mesir). Sesungguhnya aku pandai menjaga lagi berpengetahuan. (Q.S. Yusuf: 55).
Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran: (Di antara sifat hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan) adalah orang-orang yang berkata: Wahai Allah anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Al-Furqan: 75). Nabi Yusuf as meminta dan menonjolkan dirinya untuk diangkat menjadi pemimpin (sebagaimana disebutkan dalam Q.S Yusuf: 55), karena ia melihat tidak ada orang yang teguh memperjuangkan kebenaran dan mengajak umat kepada kebenaran. Apalagi ia merasa mampu untuk itu, tapi ia belum populer.
Selain itu, permintaan Nabi Yusuf ra itu bukan ditujukan pada Raja Mesir. Namun, sebuah doa yang pada Allah SWT. Sehingga kalau pun Yu-suf akhirnya menjadi seorang bendaharawan Negara, maka jabatan itu merupakan sebuah a-manah dan tugas yang diberikan Allah. Karena itu, saat menjabat bendaharawan Negara, maka semua kebijakan yang diputuskan sangat Islami dan demi kemaslahatan umatnya.
Dari deskripsi itu, bisa ditarik beberapa ketentuan, bahwa pada prinsipnya berambisi menjadi pemimpin dengan meminta kepada makhluk adalah sikap yang tercela dalam Islam. Sebab, se-seorang yang meminta pada dasarnya punya latar belakang. Sebagaimana analisis Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya ‘Afatun ‘Ala athThariq, paling tidak ada beberapa faktor yang mendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin, di antaranya ingin menguasai dan mengendalikan orang lain.
Sebagai bahan renungan, hendaknya para Cabup – Cawabup segera melakuan koreksi diri. Se-hingga keberadaannya dalam peta Pemilukada demi kemaslahatan umat Islam dan umat lain-nya. Karena itu, penggalangan kekuatan nanti haruslah mengatasnamakan kemaslahatan umat Islam sebagai ujud kontrak akheratnya. Kalau umat Islam salah melangkah, maka tunggulah kehancurannya. Rasulullah SAW berpesan: Seorang Mukmin tidak akan masuk ke dalam satu lubang yang sama untuk kedua kalinya”. (HR Muslim). Artinya, jangan sampai umat Islam di Sidoarjo kembali menelan pil pahit yang mudharat untuk kesekian kalinya, karena salah memilih tokoh sebagai pemimpin daerah.
Wallahu a’lamu bis ashshawab.
*) Penulis adalah Ketua Takmir Masjid Agung, Sidoarjo, yang ikut maju dalam Pemilukada 2010 sebagai Calon Wakil Bupati.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: