tribunindonesia

Pemimpin Ideal Menurut Qur’an

In UBUDIYAH on 3 Februari 2010 at 7:00 AM

Oleh H. MG Hadi Sutjipto *)
SEPANJANG tahun 2010 ini, Jawa Timur akan menjadi arena suksesi pergantian pimpinan daerah tingkat dua, Kabupaten dan Kotamadya terbanyak di tingkat nasional. Sebanyak 18 daerah tingkat dua teragendakan akan menggelar Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) sebagai aplikasi pesta demokrasi yang sesungguhnya. Ini karena nasib para peserta bursa calon pimpinan daerah ada di tangan warga daerah penyelenggara Pilkada.
Tak pelak lagi, citra setiap masyarakat sedikit terdongkrak. Mereka menjadi sasaran serbu rayuan para peserta bursa calon pimpinan daerah. Sosok yang sebelumnya tak pernah sekalipun menengok, memikirkan, atau berempati pada masyarakat, secara tiba-tiba berbalik 180 derajat. Menjadi sosok yang penuh perhatian pada masyarakat.
Teknik yang mereka tebarkan biasanya sangat klise dan tendensius. Bermodal sedikit ‘angpao’ rupiah, paket sembako, atau lainnya sebagai pintu gerbang mendekati masyarakat, satu dan lain peserta akan adu kecerdikan membual dan menebar rayuan. Rata-rata mereka berjanji akan memperbaiki nasib masyarakat yang didekati jika saja diberi kesempatan berbentuk dukungan suara saat penyelenggaraan Pilkada.
Bagaimana saat calon tersebut benar-benar sukses. Mengantongi dukungan suara mayoritas, sehingga tahta pimpinan daerah berhasil digenggamnya. Jawabannya hanyalah Wallahu a’lam Bish-showwab Pemimpin pilihan masyarakat itu mungkin saja ingat dan memenuhi janji yang ditebarkan semasa kampanye. Namun, bukan tidak mungkin untuk ingkar janji dengan berpura-pura lupa dan mabuk keberhasilan, sehingga menganggap angin lalu pada semua janji yang ditebarkan selama kampanye.
Karena itu, senyampang Pilkada beum diselenggarakan dan masyarakat belum kembali menjadi korban kampanye, maka perlu kiranya konsep berfikir mereka dalam memilih calon pimpinan daerahnya sedikit digeser. Masyarakat tidak perlu lagi memilih seorang calon pemimpin yang dalam kampanyenya getol menebar rayuan. Sebab pemimpin demikian biasanya akan ingkar terhadap janji-janjinya, karena banyaknya janji yang ditebarkan tidak mungkin dapat tepenuhi dalam 5 tahun memimpin sebuah daerah
Lalu calon pemimpin bagaimana yang layak mendapat dukungan? Calon pemimpin yang layak mendapat dukungan sesungguhnya sudah digariskan dalam setiap agama. Dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam, maka bukan sebuah sikap yang berlebihan jika Al-Quran sebagai kitab suci kaum muslim dijadikan sebagai sebuah pertimbangan utama dalam memilih seorang pemimpin yang ideal.
Dari Belakang
Pemimpin ideal yang layak mendapat dukungan, digariskan Quran hanyalah pemimpin yang memiliki karakter seorang Khalifah, Imam, Malik, dan Ulil Amri. Sebab empat istilah untuk menyebut pemimpin sebagaimana termaktub dalam Quran itu, sesungguhnya merupakan pernik-pernik pesan yang ingin disampaikan Allah SWT lewat firman-Nya untuk umat manusia dalam memilih pemimpinnya.
Allah menunjukkan, bahwa masyarakat hendaknya memilih pemimpin yang berkarakter Khalifah sebagaimana dalam Surat Al-Baqoroh ayat 30 dan Shad ayat 26. Kata Khalifah dalam bentuk Mufrod (tunggal), menurut Quraish Shihab dalam buku “Membumikan Alquran” terbitan Mizan, disebut sebanyak dua kali. Sedangkan dalam bentuk jamak (plural), alquran menggunakan dua bentuk. Pertama kata khalaif yang terulang sebanyak empat kali. Dan kata Khulafa’ yang ditulis sebanyak tiga kali. Semua kata kata tersebut berakar dari kata Khulafa’ yang pada awalnya berarti “ Di belakang “.
Dari pengertian ini, kata Khalifah seringkali diartikan sebagai “ Pengganti “, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya, demikian tulis Quraish Shihab.
Sedangkan isi Al-Baqoroh ayat 30 yang menunjukkan tentang yang menyebut pemimpin dengan istilah Khalifah adalah:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi. Mereka berkata : Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.
Adapun dalam Shad ayat 26, istilah Khalifah kembali tersebut  sebagai berikut:
Hai Dawud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu Khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
Berdasaran Surat Al-Baqoroh dan Surat Shad itu, Allah telah meminta umat manusia untuk memilih pemimpin dengan latar belakang yang steril dari perilaku membuat kerusakan di atas bumi, tidak menumpahkan darah, berbuat adil, dan tidak mengikuti hawa nafsu. Artinya, berdasarkan ayat ayat di atas, seorang pemimpin ideal sebaiknya adalah mereka yang memiliki sikap mental yang tersebut di atas.
Kesempurnaan Ilmu
Bagaimanakah dengan kecerdasan intelektual, apakah ikut berperan dalam menentukan idealitas seorang pemimpin? Dalam surat yang sama, Surat Al-Baqoroh dan Surat Shaad, Allah berfirman:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama nama (benda benda) seluruhnya …. (QS. AlBaqoroh ayat 31)
Dan kami kuatkan kerajaannya dan kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (QS. Shad ayat 20)
Pada catatan kaki Al-Quran dan terjemahnya terbitan Mujamma’ Al Malik Fahd, Saudi Arabia, yang dimaksud hikmah di dalam surat Shaad di atas adalah kenabian, kesempurnaan ilmu, dan ketelitian amal perbuatan.
Dua ayat di atas yang masih berbicara tentang kepribadian nabi Adam dan Nabi Dawud sebagai Khalifah jelas sekali menegaskan akan kemampuan intelektualnnya. Dengan kata lain, pemimpin ideal menurut ayatayat ini, disamping memiliki kemampuan emosional dan sikap mental yang baik, juga harus memiliki kecerdasan intelektual yang mumpuni.
Sedangkan calon pemimpin yang layak didukung dan dipilih harus memiliki karakter Imam. Menurut Al Tabrasi dalam kitab tafsirnya, seperti dikutip Quraish Shihab, mempunyai makna yang sama dengan Khalifah. Hanya saja, kata ini di pakai untuk makna keteladanan, karena ia berasal dari sebuah kata yang mengandung arti depan. Berbeda dengan kata Khalifah yang pada awalnya berarti belakang.
Kata Imam dalam Al-Quran disebut sebanyak tujuh kali dengan makna yang berbeda beda. Akan tetapi, kesemuanya itu bermuara pada satu makna sesuatu yang di tuju atau di teladani. Yang lebih mendekati pengertian yang sesuai dengan arti pemimpin adalah surat Al-Baqoroh ayat 124 dan AlFurqon ayat 74 yang artinya:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “ Sesungguhnya aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia “. Ibrahim berkata : “ (Dan saya mohon juga) dari keturunanku “. Allah berfirman : “ Janjiku (ini) tidak mengenai orang orang yang dzalim “. (QS. Al-Baqoroh ayat 124)
Dan orang orang yang berkata : “ Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami Imam bagi orang orang yang bertaqwa. (QS. AlFurqon ayat 74)
Merebut Tahta
Dari gambaran dua ayat itu, muncul satu pemahaman bahwa seorang Imam (pemimpin) terbiasa untuk meneruskan dan mewariskan kepemimpinannya kepada anak cucu. Istilah politik mengungkapkannya dengan sebutan Monarki.
Pada surat Al-Baqoroh ayat 124, nabi Ibrahim sebagai seorang Imam (pemimpin), ingin sekali meneruskan dan mewariskan kepemimpinannya kepada anak cucu. Itu dibuktikan dengan permohonannya kepada Alllah SWT dengan kalimat “ (Dan saya mohon juga) dari keturunanku “. Surat Al-Furqon ayat 74 pun kelihatannya tidak jauh berbeda. Ayat itu berisi permohonan seseorang untuk melanggengkan kepemimpinannya kepada anak cucu dan golongannya sendiri. Hanya saja sistem monarki atau sumber dan pusat kepemimpinan yang selalu berkisar pada golongan tertentu, nampaknya diberi syarat oleh Allah dengan “ Janjiku (ini) tidak mengenai orangorang yang dzalim “. Ungkapan ini menunjukkan, bahwa sifat dzalim atau tidak dapat berbuat adil merupakan watak yang tidak dimaui oleh Tuhan dalam melestarikan, melanggengkan dan merebut tahta kepemimpinan.
Sebenarnya masih ada lagi istilah istilah alquran yang dapat kita masukkan ke dalam pengertian pemimpin, seperti Malik dan Ulul Amri. Untuk mengeksplor dua kata diatas, dibutuhkan penelitan yang lebih mendetail.
Dengan tidak mengurangi pemikiran yang berkembang di masyarakat dan teori teori kepemimpinan yang ada, ayat ayat alquran yang kami sampaikan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, Pemimpin ideal menurut alquran adalah mereka yang memilki sikap emosional yang terkendali, sikap mental yang mapan, dan kecerdasan intelelektual yang mumpuni. Tidak berbuat kerusakan di bumi, tidak menumpahkan darah, berbuat adil, dan tidak menuruti hawa nafsu adalah ungkapan ungkapan Al-Quran dalam menjabarkan hal tersebut.
Sedangkan yang kedua, pemimpin ideal adalah seseorang yang terpilih tidak sekedar karena gen (keturunan), tetapi lebih banyak karena kemampuan diri sendiri, dan Kepemimpinan tidak dapat diturunkan kepada anak cucu.
Dari isi tiga ayat Surat Al-Baqoroh, dua ayat Surat Shad, dan satu ayat Surat Al-Furqon itu, sesungguhnya masyarakat daerah di Jawa Timur dan luar daerah lainnya secara tersurat sudah memiliki pedoman dalam memilih pemimpin masing-masing daerahnya. Sehingga calon pemimpin yang memiliki latar belakang pengrusak dalam arti sesungguhnya atau pun simbolik, berwatak dzalim, miskin rasa adil dan bijaksana, serta jauh dari siap ketaqwaannya pada Allah SWT hendaknya tidak dipilih dan didukung. Pasalnya calon pemimpin yang demikian telah dipastikan Allah akan membuat kerugian pada daerah dan masyarakat yang dipimpinnya.
Sebaliknya jika masyarakat suatu daerah itu tak mengindahkan garis demarkasi sosok pemimpin sebagaimana difirmankn Allah dalam Al-Quran, maka besiap saja pada saatnya nanti Allah akan memberikan sebuah peristiwa memperihatinkan atau tragedi, yang berfungsi sebagai sebuah peringatan Illahi akan kesalahan yang dilakukan umat manusia sebuah daerah atau negara.
*) Penulis adalah Ketua Takmir Masjid Agung, Sidoarjo, yang kini siap maju dalam Pemilukada Sidoarjo 2010 sebagai Calon Wakil Bupati

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: