tribunindonesia

Pembatik di Jember Turun Temurun

In FEATURES on 21 Oktober 2009 at 12:28 AM

editor Prima Sp Vardhana

WARGA yang membuat batik (pembatik) di Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur, merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun di kecamatan setempat.

“Saya belajar batik dari ibu saya, sedangkan ibu saya juga belajar batik dari nenek saya,” kata Sumiati (31), salah seorang pembatik di Kecamatan Sumberjambe.

Menurut dia, pekerjaan membatik cukup sulit karena memerlukan ketekunan dan ketelitian untuk membatik di sebuah kain putih yang sudah diberi pola batik tersebut. “Sebagian besar pembatik di sini juga belajar membatik secara turun temurun,” katanya.

Sebagian warga yang belajar untuk membatik, kata dia, tidak bertahan lama, apabila tidak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar membatik.

“Ada beberapa warga yang mengeluh setelah beberapa hari belajar membatik di sini karena pekerjaan membatik memerlukan ketekunan dan kesabaran,” katanya.

Ia mengemukakan, untuk membatik pada sepotong kain biasanya diperlukan waktu selama 1-2 hari sesuai dengan pola yang diinginkan oleh pemesan. “Kami harus berhati-hati untuk membatik di sepotong kain supaya hasilnya tidak mengecewakan konsumen,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, anak keduanya sudah mulai membantu dirinya membatik di sepotong kain, namun motifnya tidak terlalu rumit. “Hanya anak kedua saya yang mau belajar membatik seperti saya, sedangkan yang lain tidak mau belajar membatik,” katanya.

Pembatik lainnya, Mahfidatul, mengaku belajar batik Sumberjambe dari ibunya sejak kecil karena pekerjaan ibunya sehari-hari adalah membatik di sebuah industri rumah tangga batik di Jember.

“Memang pekerjaan membatik adalah pekerjaan yang turun temurun yang harus dilestarikan oleh masyarakat Jember,” katanya.

Ia menjelaskan, seorang pembatik harus memiliki kesabaran yang cukup tinggi karena pekerjaan membatik tidak seperti pekerjaan lainnya yang harus cepat. “Saya tidak menyesal bekerja sebagai pembatik, meski penghasilanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Untuk membatik tulis, kata dia, upah yang diterimanya sebesar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per potong kain, padahal membatik tersebut membutuhkan waktu sehari untuk menyelesaikan motof batik sesuai dengan pesanan. “Kalau sehari penuh, saya bisa menyelesaikan batik tulis hanya dua potong kain saja,” katanya.

Ia menjelaskan, biasanya batik yang paling laris di Sumberjambe adalah batik bermotif daun tembakau yang dikenal dengan batik Labako yang merupakan batik khas Jember. (nta)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: