tribunindonesia

Bertengkar Membuat Tambah Mesra?

In RELATIONSHIP on 11 Oktober 2009 at 9:19 PM
Siapapun orangnya, pasti pernah bertengkar dengan pasangan. Meskipun terkadang menyesakkan, ternyata acara bertengkar pun bisa membuat hubungan berpasangan semakin mesra, lho!



Anda pasti pernah bertengkar dengan pasangan gara-gara hal sepele, dan pergi meninggalkannya saat masih dalam keadaan marah. Pertengkaran bisa terjadi, misalnya, saat Anda dikerling seorang pria tampan, meski tak berarti Anda menanggapi kerlinganya. Atau, Anda suka berbohong kepada pasangan dengan mengatakan, kepala botaknya justru semakin menambah keseksiannya. Terdengar lumrah, bukan? 
 
Bagi orangtua jaman dulu, bertengkar, menggoda, digoda, atau berbohong merupakan kebiasaan yang tak dapat diterima di dalam suatu hubungan. Namun, beberapa pasangan terkadang melakukannya, bahkan pada pasangan yang tampaknya sangat serasi sekalipun. Berita baiknya, kebiasaan yang tak baik ini justru dapat memberikan pengaruh baik bagi hubungan jangka panjang Anda.

Bila Anda ingin tahu bagaimana kebiasaan yang kurang baik ini dapat memberikan pengaruh yang baik bagi hubungan Anda, bacalah beberapa ‘penyalahgunaan’ cinta yang dapat memperkokoh hubungan Anda berikut ini!

1. Menggoda atau Digoda
Percaya tidak, sedikit menggoda orang yang bukan pasangan sendiri, justru bisa memberikan manfaat pada hubungan Anda berdua. Ego menggoda orang lain bisa membuat Anda merasa seksi dan bersemangat, sama seperti saat pertama kali Anda bertemu dengan pasangan dulu.
Ingat, seiring berjalannya waktu, tak ada lagi hal-hal yang menggetarkan antara Anda dan pasangan. Anda berdua sudah saling terbiasa satu sama lain. Sehingga, menggoda atau digoda orang lain bisa membuat Anda merasa seksi, bergairah, pede, dan menarik.
Manfaat lainnya, Anda bisa membawa perasaan seksi itu ke rumah dan menggunakannya di tempat tidur bersama pasangan. Lagipula, bila pasangan melihat ada orang lain yang mengerling ke arah Anda, akan membuatnya tersadar, Anda merupakan seorang yang menarik. Sekaligus mengingatkannya, betapa beruntungnya dia memiliki Anda.

Namun, kapan acara menggoda atau digoda ini melewati batas? Kuncinya, Anda harus menyadari, bila yang Anda lakukan tak berhasil, bahkan membuat pasangan sangat marah, malu, dan menganggap Anda tak bisa dipercaya, jangan lakukan! Dan jujur kepada diri sendiri, bila Anda menggoda atau digoda, jangan menanggapinya dengan serius. Bila Anda melakukannya dengan serius dan konstan, berarti Anda dalam bahaya.

2. Egois
Berkompromi bukan berarti menemukan jalan tengah yang tepat atas setiap kondisi. Bila ada kata bijak dari suatu hubungan yang kerap kita dengar, pastilah kata “kompromi”. Jadi, bagaimana mungkin kita boleh bersikap egois? Kuncinya, kompromi juga bisa berarti saat ini Anda melakukannya 100 persen dengan cara Anda, dan lain kali Anda melakukannya 100 persen dengan cara pasangan Anda. Saat melakukannya dengan cara

Anda, jangan sampai Anda merasa tak nyaman terhadap pasangan.
Sering kali pasangan berpikir, kita harus memberikan bobot yang sama dalam segala hal. Masalahnya, Anda tak memiliki batasan atas apa yang diberikan pasangan. Tentu saja, idealnya masing-masing saling memberikan segala yang dibutuhkan pasangannya. Sering kali apa yang dibutuhkan tak selalu jelas dan pasangan tak selalu mampu membaca jalan pikiran Anda. Itu sebabnya Anda harus menetapkan batasan, apakah pasangan memberikan yang Anda butuhkan ketika Anda memerlukannya atau tidak. Jika ya, terima hal itu sebagai kebahagiaan.

Nikmati juga kesendirian untuk beberapa saat atau mendapat perhatian dan rasa sayang yang tak harus selalu berarti berhubungan seks. Ini bisa menjadi resep atas perasaan kesal dan marah yang muncul pada Anda berdua. Anda bisa memulainya dari sekarang dan tak harus selalu menunggu pasangan memberikan apa yang Anda butuhkan. Mulailah dari hal-hal yang kecil untuk bisa membuat perubahan besar.
Misalnya, bila pasangan tak bisa menemani Anda menghadiri acara ulang tahun teman, pergilah sendiri. Bila pasangan Anda tak bisa memperbaiki keran yang bocor, panggillah tukang ledeng untuk memperbaikinya. Melakukan semuanya sendirian, bisa memberikan rasa puas. Ini jauh lebih baik daripada mengomel atau menggerutu karena pasangan tak bisa melakukannya. Bahkan, ini juga bisa membuat Anda lebih mencintai pasangan, bahagia, dan hubungan menjadi lebih langgeng.

3. Bertengkar
Bertengkar ternyata merupakan salah satu hal tersehat yang bisa Anda lakukan bersama pasangan untuk memupuk kemesraan. Memang betul, pertengkaran yang terjadi terus menerus tak baik bagi cinta Anda berdua. Sebab, tak jarang pasangan khawatir akan kemungkinan efek negatifnya. Mereka khawatir hubungan cintanya akan retak atau takut merasa dirinya menjadi tidak penting lagi bagi pasangannya. Namun, ada satu penelitian yang cukup mengejutkan: “Tidak pernah bertengkar sama buruknya dengan konflik yang konstan”. Pada kenyataannya, berdebat merupakan salah satu hal tersehat yang dapat dilakukan Anda berdua.

Memikirkan pertengkaran sama halnya seperti kaca. Terkadang Anda harus membersihkan kaca-kaca itu dari kotoran. Tentu akan tampak berbeda, tetapi setelahnya akan berjalan lebih lancar. Bila Anda menahan rasa marah hingga menumpuk, bisa menyabotase kekuatan hubungan Anda berdua. Harus disadari, setiap pasangan tidak diciptakan sama persis. Salah paham bisa terjadi setiap saat dan tak bisa dihindari. Bahkan, kemarahan yang ditahan-tahan, justru bisa memisahkan Anda berdua. Jadi, lakukan pertengkaran dengan benar.

Bertengkar bisa menjadi alat untuk mempercepat penyelesaian masalah antara Anda berdua. Bertengkar tak selalu menghasilkan kata sepakat, tapi berguna untuk hubungan Anda. Sebab, bisa memperjelas perbedaan yang Anda berdua miliki, sekaligus memberikan solusi. Kunci untuk berargumentasi yang baik, Anda berhak untuk tidak setuju, tetapi harus tetap menghormati pasangan. Penelitian menunjukkan, pasangan yang bertengkar dengan cara mengkritik dan menghina pasangannya, punya kemungkinan lebih besar untuk berpisah atau bercerai. Jadi, Anda hanya harus berargumentasi mengenai masalah yang sama-sama dimengerti oleh Anda berdua, lalu mencari solusinya.

4. Pergi dari Pertengkaran
Ketika Anda bertengkar dengan pasangan, awalnya tampak seperti pertengkaran yang sehat, tapi kemudian jadi memanas. Anda marah dengan suara menggelegar dan mengatakan hal yang sama berulang kali. Jika begitu, hentikan dan tinggalkan! Apalagi, bila pertengkaran semakin memanas, detak jantung dan hormon stres meningkat. Sisi emosional otak Anda menjadi tinggi dan menutup sisi logika, sehingga Anda tak sanggup lagi bertengkar dengan emosi yang terkendali.

Bila salah satu dari Anda sangat marah, pertengkaran bisa jadi salah kaprah dan akhirnya merusak. Begitu Anda mulai membahas masa lalu, luka lama akan terungkit kembali. Di saat-saat seperti ini, Anda tak akan bisa berbicara tenang atau berpikir jernih. Untuk menghindari kata-kata kasar atau melakukan kekerasan fisik, sadari segera dan tenangkan diri Anda. Begitu juga sebaliknya, bila Anda melihat pasangan sangat emosi, sebaiknya Anda bersikap lebih tenang dan minta time out, alias waktu jeda.

Bila pertengkaran Anda sering cepat menghebat, cobalah untuk meredamnya. Buat aturan, bila salah satu dari Anda memberikan tanda time out, hentikan pertengkaran. Tak perlu bertanya kenapa, cukup tenangkan diri saja. Bila sudah larut malam dan Anda merasa sudah waktunya tidur, ya tidurlah. Memang, terkadang Anda berdua jadi harus pergi tidur dalam keadaan marah.

Bila Anda pergi dari suatu pertengkaran, jangan pergi untuk selamanya. Masalah bagi kebanyakan pasangan, bukan karena pertengkaran yang terlalu panjang, tapi justru pertengkaran yang terlalu pendek. Mereka meninggalkan pertengkaran karena sangat marah, tetapi tidak membahasnya lebih lanjut dengan alasan merasa tak nyaman untuk memulainya kembali. Buat komitmen, Anda akan membahas masalahnya lagi bila keduanya sudah tenang dan membicarakannya dengan kepala dingin.

5. “White Lies”
Terkadang, lebih mudah mengatakan white lies, alias bohong halus, daripada mengatakan kebenaran. Namun, hati-hati, kebohongan yang tampaknya baik-baik saja pada awalnya, bisa meledak di kemudian hari. Pasangan Anda mungkin mengatakan, “Tidak, kok, potongan rambut kamu tidak jelek.” Atau, “Saya suka sekali masakan kamu, Sayang.” Ya, white lies memang lebih mudah diucapkan daripada mengatakan yang sebenarnya. Jika melakukan white lies, Anda tak boleh merasa bersalah, bila ini berhubungan dengan cinta. Toh, kejujuran tak selalu merupakan cara yang terbaik.

Tapi ingat, Anda harus memperhatikan kebohongan yang tadinya tampak baik-baik saja, bisa meledak di kemudian hari. Tidak dibenarkan Anda berbohong untuk menghindari konfrontasi yang memang harus terjadi. Misalnya, Anda berbohong tentang pengeluaran pribadi ketika Anda berdua justru sedang memperketat keuangan, sebab sedang menyicil rumah.

Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Bukan saja masalah akan meledak, tetapi kecurangan juga akan terjadi. Ini merupakan bagian yang terburuk dalam hubungan Anda berdua. Kecurangan bisa membuat pasangan ragu-ragu dan menganggap Anda tak bisa lagi dipercaya. Jika ingin berbohong, pikirkan saja apa yang layak didengar pasangan dan lakukan dengan “benar” untuknya.(Nova/vd)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: