tribunindonesia

Masjid Ampel, Wisata Religi Buruan Wisatawan

In FEATURES on 11 September 2009 at 8:59 PM

MASJID Sunan Ampel merupakan salah satu tempat wisata religi yang ada di Surabaya. Keberadaan masjid berusia sektar 600 tahun itu sampai sekarang masih dipertahankan keberadaa dan fungsinya. Saat berkunjung ke kawasan tersebut, jangan heran anda bergeliat dengan peziarah lain yang berkunjung dari dalam dan luar kota Surabaya, karena kawasan ini merupakan kawasan makam salah satu Wali Songo yakni Sunan Ampel

Namun, masjid yang dibangun Sunan Ampel itu kini sudah tiga kali mengalami perluasan yakni tahun 1926, 1954, dan 1972. Kini, luas salah satu masjid tua di Indonesia itu mencapai 1.320 meter persegi dengan panjang 120 meter dan lebar 11 meter.

Faktor historis itu agaknya membuat Masjid Ampel juga marak dikunjungi puluhan wisatawan asing dari berbagai negara selama ramadhan dan di luar bulan puasa itu.

“Biasanya hanya 2-3 wisatawan asing yang datang setiap hari, tapi selama ramadhan meningkat hingga puluhan orang asing setiap hari,” kata juru kunci Masjid Ampel Surabaya, H. Abdul Hamid.

Ia mengatakan, wisatawan asing yang datang berasal dari China, Prancis, Belanda, Italia, Malaysia, Arab Saudi, Jepang, Brunei Darussalam, Filipina, Jerman, Yunani, Selandia Baru, dan sebagainya.

Menurut dia, wisatawan asing itu umumnya melihat bentuk bangunan masjid Ampel yang dibangun sejak tahun 1421 M itu, kemudian mereka juga berziarah ke makam Sunan Ampel. “Mereka senang melihat banyaknya masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel, karena hal serupa tidak ada di negaranya, karena itu Masjid Ampel masuk dalam agenda kunjungan wisata internasional, ” katanya.

Agaknya, kendati tidak mengikuti tradisi “maleman” di Masjid Ampel, para wisatawan asing itu tertarik dengan arsitektur masjid yang sudah tua tapi keasliannya tetap terpelihara.

“Tidak hanya itu, mereka juga banyak belajar tentang pengembangan agama ala Sunan Ampel yang mengedepankan jalur pelajaran budi pekerti (akhlak), seperti ajaran ‘Moh Limo’ (Lima Tidak) yakni ‘moh main’ (tidak judi), ‘moh minum’ (tidak mabuk), ‘moh maling’ (tidak mencuri atau korupsi), ‘moh madat’ (tidak candu atau narkoba), dan moh madon (tidak main perempuan atau berzinah),” tuturya.

Gerbang masuk kawasan ini diawali dengan lorong yang berjajar berbagai penjual, mulai dari pakaian muslim, buah-buahan, kurma, minyak wangi, kerudung sampai kaset lagu-lagu islami. Lorong itu dikenal sebagai kampung Qubah. 

Di ujung Lorong itulah terletaklah Masjid Ampel yang Megah. Sudah beberapa renovasi yang dilakukan oleh pemerintah demi kemajuan tempat wisata ini. Di Masjid inilah para peziarah beristirahat dan menghadap Allah DWT. Mereka beriktikaf, membaca al-Qur’an dan beribadah fardlu (wajib) ataupun sunnah.

Di halaman samping masjid itu terletak pemakaman Mbah Bolong, Mbah Soleh dan pusat keramaian ziarahnya yaitu makam Sunan Ampel yang merupakan Sunan Tertua dari Wali Songo.

Di Makam Sunan Yang bernama asli Raden Achmad Rahmatullah ini sayup-sayup terdengar alunan Surat Yaasiin dibacakan para peziarah. Biasanya setelah membaca surat tersebut para peziarah akan berdoa, baik memohon ampunan Allah atas dosa dankesalahan Sunan Ampel serta para santrinya. Juga mohon ampunan atas dosa pribadi dan petunjukNya dalam menjalani hidup di dunia untuk selamat dunia akherat.

Meskipun waktu telah menunjukkan Tengah malam, suasana di kawasan yang terletak di jalan Ampel ini jumlah pengunjung justru semakin bertambah, mereka beranggapan kalau beriktikaf dan berziarah pada malam hari lebih banyah keberkahannya daripada saat matahari bersinar.

Pengunjung akan membludak saat bulan Ramadhan, karena disana juga diadakan Sholat Tarawih berjamaah yang sistemya seperti Masjid Agung Surabaya. Untuk shalat tarawih di Ampel, jumlahnya 20 rakaat dan ditambah 3 rakaat witir. Bedanya, setiap kali shalat tarawih, imam shalat tarawih menghabiskan satu juz Al Quran, sehingga dalam satu bulan ramadhan dapat mengkhatamkan Al Quran sebanyak 30 juz.

“Karena mengkhatamkan satu juz, maka setiap tarawih dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, sehingga kalau shalat tarawih di masjid lain sudah selesai justru di Masjid Ampel baru selesai agak malam, apalagi Masjid Ampel memiliki Lembaga Pendidikan Bahasa Arab,” katanya .

Selain itu, pengurus Yayasan Masjid Ampel juga menyiapkan ratusan bungkus makanan takjil (sajian pembuka untuk mempercepat buka puasa) yang dananya diperoleh dari peziarah yang menyumbang ke Masjid Sunan Ampel.

Perkembangan Wisata Agama tersebut menunjukkan sikap kepedulaian pemerintah kota dalam memajukan wisata religi di Surabaya. Buktinya mereka melakukan beberapa renovasi demi perbaikan Masjid Bersejarah Islami tersebut 

Komplek Makam

Saat Ramadhan seperi saat ini, jumlah pengunjung, peziarah, dan musafir itu pun kian membludak. “Sejak 10 hari menjelang ramadhan, warga Surabaya dan sekitarnya seperti Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, dan Bangkalan, sudah berdatangan ke Makam Sunan Ampel,” kata penjaga Makam Sunan Ampel, Muhammad.

Di komplek Masjid Ampel ada tiga makam utama yang menjadi tujuan ziarah, yakni Makam Sunan Ampel dan makam dua santrinya yakni Makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) dan Mbah Soleh. Di dekat makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) terdapat 182 makam syuhada haji yang tewas dalam musibah jemaah haji Indonesia di Maskalea-Colombo, Sri Lanka pada 4 Desember 1974. 

Lain halnya dengan Mbah Soleh yang dikenal memiliki sembilan nyawa, karena itu makamnya pun berjumlah sembilan makam. Menurut hikayat, dia sempat hidup-mati sebanyak sembilan kali, karena Sunan Ampel sering merasa kehilangan santrinya yang sangat rajin bekerja itu, sehingga Mbah Sholeh pun hidup saat dibutuhkan Sunan Ampel dan tidak hidup lagi setelah Sunan Ampel wafat.

Sunan Ampel atau Raden Mohammad Ali Rahmatullah merupakan penyebar agama Islam pertama di Pulau Jawa, sedangkan Mbah Bolong dan Mbah Sholeh merupakan murid yang membantunya dalam membangun masjid yang sekarang dikenal dengan Masjid Agung Sunan Ampel itu.

“Selama ramadhan, masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel juga meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa yang rata-rata mencapai 2.000 orang. Pada maleman likuran julahnya bisa mencapai 15 ribu penziarah,” katanya.

Menurut dia, pengunjung Masjid Ampel akan semakin banyak lagi pada saat “maleman” (malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 bulan ramadhan). Tradisi “maleman” yang dimaksud adalah pengunjung membaca tahlil, tadarus (membaca Al Quran secara bersama-sama di bulan puasa), shalat sunah, dan iktikaf (berdiam diri di dalam masjid dengan membaca zikir) semalam suntuk.

“Mereka pulang menjelang sahur atau banyak juga yang menginap. Tradisi itu dilakukan terkait dengan ihtiar mencari Malam Lailatul Qadar (malam istimewa yang nilai spiritualnya lebih baik dari seribu bulan),” katanya. 

Dalam buku “Wali Songo” yang diterjemahkan KH Dachlan Abdul Qohar (almarhum) dan diterbitkan ustaz Ibrohim Ghozi pada Haul ke-544 Sunan Ampel (1994) disebutkan bahwa tiang penyangga masjid asli berjumlah 16 tiang dari kayu jati dengan panjang 17 meter, lebar 0,4 meter, dan tanpa sambungan.

Ketika membangun masjid itu, Sunan Ampel dibantu santri-santrinya, di antaranya Mbah Bolong yang dikenal sebagai penunjuk kiblat pada awal berdirinya Masjid Ampel. Dia dijuluki dengan “bolong” (berlubang), karena dia dikisahkan melihat Ka’bah saat melubangi tembok masjid. (vd/nta)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: