tribunindonesia

Makam Mbah Kholil Langganan Pejabat Mencari Berkah

In FEATURES on 11 September 2009 at 4:04 AM

oleh Nabila M. Rahman/ Prima Sp Vardhana 

ALMARHUM Mbah Kolil Bangkalan sangat populer di kalangan para santri ataupun abangan yang ada di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai sosok Kyai dengan nama Syaichona Kholil Bin Abdul Latif, yang bijak dalam menyampaikan dakwahnya. Sehingga siapa pun yang mendengar nasehatnya dijamin isi wasiahnya akan lagsung nancep ke sanubari.

Tidak hanya itu, Mbah Kolil juga sangat membumi sebagai seseorang yang diyakini masyarakat memiliki hubungan dengan dunia gaib. Sehingga almarhum memiliki kekuatan linuwih yang dapat memerintah bangsa jin untuk membantu masyarakat atau seseorang yang berharap jabatan di pemerintahan. Kendati ada pejabat yang mampu memberi nasehat tentang dunia gaib dan kemistikan, bahkan beiau juga mampu memberikan idzim (jimat) pada para pejabat Jatim dan Indonesia yang bersedia sowan dan mohon pertolongan. Juga, masyarakat awam yang meminta jimat untuk mencari rezeki dan keselamatan dunia.

Di bulan Ramadhan 1430 Hijriah, para musafir (petualang) dari berbagai daerah banyak mendatangi Pesarean (makam) Syaichona Kholil Bin Abdul Latif di Desa Martajasah, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

“Sejak memasuki bulan suci Ramadhan 1430 H, mereka yang datang ke pesarean umumnya para musafir yang melakukan khataman Al Quran dan berzikir di pesarean itu,” kata Pengurus Kantor Pesarean Syaichona Kholil, Mohammad Rawidi Al Sambari.


Kondisi semacam itu jauh berbeda dengan sebelum bulan suci ramadhan, sebab pengunjung sebelum ramadhan adalah para peziaran dari berbagai kota di Indonesia yang datang secara rombongan.


“Bila hari biasa hanya 20 sampai 25 musafir, namun pada bulan puasa meningkat dua kali lipat menjadi 50 orang,” ungkapnya.


Aktivitas para musafir dalam mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta itu bermacam-macam. Hal itu sesuai dengan kemampuan dan kepercayaan dari masing-masing musafir itu sendiri.


“Ada yang puasa bisu (tidak berbicara) dan ada juga yang tidak tidur selama 24 jam, sehingga badannya kurus seperti orang sakit ?,” ujarnya.


Dalam berkomunikasi, musafir yang puasa bisu dengan orang lain itu memakai bahasa nonverbal atau isyarat. Mereka meyakini hanya dengan cara seperti itu bisa mendekatkan diri pada sang Kholik.


“Untuk urusan makan, bagi para musafir tidak ada masalah, ada saja rezeki dari warga setempat. Misalnya, ada warga yang punya nazar lalu menggelar tumpengan di sini dan dimakan para musafir,” ungkapnya.


Lain halnya dengan para peziarah. Sebelum bulan puasa, jumlah peziarah yang datang membeludak, bahkan naiknya sampai empat kali lipat dari hari-hari biasa.


Peziarah yang datang dapat mencapai 100 rombongan dengan setiap rombongan berkisar antara 30 hingga 50 peziarah.


Namun, memasuki minggu pertama bulan suci ramadhan jumlah peziarah yang datang ke sana menurun drastis yakni hanya belasan rombongan dalam sehari.


Para peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Pulau Madura, melainkan dari luar Madura seperti Jawa dan Sumatra.




                                                                                              Wapres Jusuf Kalla


Para peziarah yang datang umumnya membaca doa tahlil untuk Syaichona Kholil.


Salah seorang peziarah, Hj Siti Hajar, mengatakan, dirinya datang ke Pesarean Syaichona Kholil bersama keluarganya.


“Saya pergi ke pesarean karena ingin mendapatkan berkah. Saya datang ke sini bersama anak saya untuk mengirim doa pada Mbah Kholil, sebab perjuangan beliau dalam menegakkan agama Islam pantang menyerah,” katanya.


Menurut dia, dirinya sengaja berkunjung ke pesarean minggu pertama di bulan suci ramadhan, sebab pada awal bulan puasa biasanya peziarah yang datang tidak terlalu banyak, melainkan relatif sepi.


“Kami sengaja datang ke sini sekarang, karena kami mencari hari yang sepi. Jika menjelang puasa dan menjelang hari raya akan banyak peziarahnya. Saya ‘kan sudah tua sehingga tidak kuat berdesak-desakan dengan peziarah lain,” ucapnya.


Diperkirakan, peziarah akan kembali meningkat memasuki hari ke-15 di bulan ramadhan hingga H-2 Hari Raya Idul Fitri, sesuai dengan kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya.


“Setelah itu, pengunjung kembali normal dengan angka 30 hingga 50 rombongan,” ucapnya.


Salah seorang keturunan Syeh Moh Kholil, KH Imam Buchori Cholil, mengatakan, pesarean tersebut dari dulu sudah ramai dikunjungi para peziarah, mulai orang biasa, tokoh masyarakat, hingga pejabat negara.


Bahkan, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, juga pernah melakukan ziarah ke Pesarean Syaikhona Kholil, saat mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pilpres 2009.


“Peziarah yang datang ke pesarean tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, tapi pak Jusuf Kalla pernah ziarah ke sini,” ucap Imam.


Bagi para peziarah yang datang ke pesarean Syaichona Kholil diminta mematuhi segala aturan yang ada untuk menjaga kesopanan di areal pesarean.


“Bagi para peziarah diharapkan mematuhi seluruh aturan yang ada. Itu dilakukan untuk kepentingan bersama,” katanya.




                                                                                                                           Dongkrak Ekonomi


Keberadaan Pesarean Syaichona Kholil bisa mendongkrak perekonomian masyarakat setempat, karena warga sekitar bisa berjualan mulai dari makanan hingga berbagai souvenir khas Madura.


“Keuntungan yang mereka kantongi dari hasil berdagang lumayan besar. Jika ramai mereka bisa mendapatkan untung antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari,” kata seorang penjual souvenir, Maimunah.


Namun, bila sepi, penghasilan bersih yang mereka raih hanya Rp20 ribu hingga Rp30 ribu.


“Kalau seperti sekarang ya sepi. Dalam sehari, saya hanya mengantongi uang Rp20 ribu saja, tapi kalau ramai bisa mendapatkan Rp125 ribu dalam sehari,” katanya.


Menurut dia, dagangannya laku keras menjelang hari raya dan menjelang bulan puasa, sebab peziarah yang mengunjungi Pesarean Syaichona Kholil membeludak.


“Ya, cukuplah untung segitu bisa dibuat biaya anak sekolah dan untuk tambahan kebutuhan hidup sehari-hari, ” ucapnya.


Menurut cacatan Pemkab Bangkalan, Pesarean Syaichona Kholil merupakan satu dari delapan tempat wisata yang ada di wilayah yang selama ini paling banyak didatangi pengunjung.


Tempat wisata religi itu termasuk tempat wisata bersejarah, karena Syaichona Kholil sendiri merupakan tokoh ulama yang dikenal getol menyebarkan agama Islam di Madura.


Figur Syaichona Kholil dikenal sebagai ulama berpengaruh pada zamannya. Belum ada sumber resmi yang menyebutkan, kapan tokoh ulama karismatik itu dilahirkan, tapi Syaichona Kholil dikenal sebagai pemimpin ulama di Madura dan Jawa.


Bahkan, ia merupakan guru dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari asal Jombang, kakek dari mantan Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).


Dalam buku yang ditulis Mujammil Qomar, ia juga dianggap salah seorang pelopor dan memiliki andil besar beridirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU).


Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU, Syaichona Kholil Bangkalan juga dianggap sebagai bapak spiritual NU karena juga berperan dalam menumbuhkan tradisi tarekat di Madura. (bil/nta)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: