tribunindonesia

Gus Mus Ingatkan Pedoman Berpolitik Warga NU

In NASIONAL on 15 Agustus 2009 at 8:50 PM


TOKOH Nahdatul Ulama (NU), K.H. Mustafa Bisri (Gus Mus) mengingatkan seluruh warga NU untuk menerapkan sembilan pedoman berpolitik dalam menghadapi Pemilu 2009.

“Coba singkirkan sebentar saja nafsu dan kepentingan sesaat yang sedang mengkabuti pikiran serta simaklah butir-butir pedoman politik tersebut dengan tenang, pasti anda akan melihat betapa mulianya (pedoman berpolitik NU, red.),” kata Gus Mus saat dihubungi, 15 Agustus.

Gus Mus menyebutkan, sembilan pedoman berpolitik warga Nu tersebut di antaranya, berpolitik bagi NU mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Politik bagi NU, lanjut Gus Mus, adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama.

“Berpolitik bagi NU juga harus dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai peraturan dan norma-norma yang disepakati serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama,” katanya.

Gus Mus juga mengingatkan bahwa dalam pedoman berpolitik bagi warga Nu juga menyebutkan bahwa berpolitik bagi NU dengan dalih apa pun tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan.

“Sembilan butir pedoman berpolitik itu sebenarnya indah dan ternyata nasibnya sama dengan sembilan butir khitah NU. Di luar NU mendapat sambutan dan sanjungan luar biasa, tetapi di kalangan NU sendiri sekadar dibaca,” katanya.

Warga Nu, tambah Gus Mus, seolah-olah enggan dan malas menerapkan pedoman berpolitik yang telah dimiliki, sehingga kelakuan politik warga NU yang terjun di politik tidak dapat dibedakan dengan politisi lain yang tidak memiliki pedoman.

Menurut Gus Mus, jika warga NU yang tidak melek huruf dan tidak membaca pedoman berpolitik mungkin bisa dimaklumi, karena mereka belum terbiasa dengan budaya baca dan tidak tertarik dengan persoalan politik.

“Jika elit Nu yang memiliki semangat politik tidak membaca pedomannya sendiri, sama dengan elit NU yang berjalan tidak di atas khitahnya. Sebenarnya mereka awam tentang Nu atau awam tentang politik, atau justru awam tentang keduanya,” tegas Gus Mus. (fad/nta/tribunonline@gmail.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: