tribunindonesia

Sakit itu karunia Tuhan

In Tak Berkategori on 28 April 2009 at 10:51 PM

oleh Prima Sp Vardhana/RNW


WANITA Belanda jarang sekali yang minta dibius kalau melahirkan. Para dokter Belanda berdiskusi apakah tidak perlu meningkatkan suntik bius untuk mengurangi rasa sakit saat melahirkan, namun banyak orang di Belanda yang menolak ide ini. Apakah budaya Belanda yang berciri Kalvinis menghalangi orang Belanda mengurangi rasa sakit? Budaya Kalvinis adalah bagian dari agama prostetan mashab Kalvinis yang dicetuskan oleh Calvijn. Ia menekan pada sikap dosa manusia dan untuk mendapat pengampunan maka manusia harus menderita. Nah, bius yang mengurangi rasa sakit tentu saja bertentangan dengan sikap ini.

ALAMI
“Rasa sakit adalah syarat yang tak terpisahkan untuk menjadi seorang ibu yang baik”, demikian tulis seorang wanita dalam salah satu koran menanggapi ide mengurangi rasa sakit dengan bius. Diskusi cukup emosional antara pro dan kontra bisa kita baca dalam koran ini. Komisi penasehat medis mengusulkan suntik bius untuk mengurangi rasa sakit harus diubah. Sampai saat ini hanya kalau dokter menganggap perlu maka sang wanita diberi suntik bius ini. Usul komisi ini membaliknya, kalau perempuan minta maka ia berhak mendapat suntik bius ini. Rasa sakit adalah fungsi penting dalam budaya Kristen, yang berakar dalam masyarakat Belanda.

TAKDIR
“Sangat sakit tuan”, demikian ungkap seorang wanita di lembaga bersalin di Amsterdam. “Saya berpikir bagaimana saya bisa mengakhirinya, tapi perempuan memang sudah ditakdirkan untuk melahirkan”. Seorang perempuan lain menambahkan: “Memang sakit, tapi kami sudah tahu sebelumnya. Jadi jangan merengek-rengek. Saya sebenarnya bangga juga,” demikian sambung wanita pertama, “memang sakit tapi toh saya jalani. ”

10 persen
Beda dengan negara-negara lain, perempuan Belanda pada umumnya bersalin di rumah. Jadi suntik bius tidak mungkin diterapkan karena dibutuhkan spesialis anastesi di rumah sakit. Beda yang besar sekali kalau dibandingkan dengan Amerika Serikat di mana 60 persen dari perempuan yang bersalin mendapat bius pati rasa ini dan di Belgia, 70 persen. Di Belanda hanya 10 persen dari perempuan yang bersalin mendapat suntik ini. Apa sebabnya?

Kita jumpai Amanda Kluveld, sejarawan Belanda yang meneliti gejala rasa sakit dalam budaya Belanda. Judulnya: Rasa sakit, kembali ke taman firdaus dan keinginan untuk keluar lagi. Ia berpendapat, orang Belanda bersikap beda dengan bangsa-bangsa lain: “Kami di Belanda tentu saja sama takutnya akan sakit, tapi kami memberi makna tertentu, orang harus menderita dulu sebelum mendapat rejeki. Jadi perempuan harus menderita dulu, sebelum bisa mendapat anak yang didambakan. Orang Belanda juga enggan menghilangkan rasa sakit karena ini tidak alami; rasa sakit dianggap alami terutama saat melahirkan. Kalau Anda ingin mengubah kenyataan ini maka ini dianggap orang Belanda aneh “.

Budaya Kalvinis
Orang Belanda memang sering menyinggung budaya Kalvinis mereka. Amanda Kluveld: “Kami sering teringat topik budaya Kalvinis ini apalagi kalau mendiskusikan tema rasa sakit. Ada kaitannya dengan dosa dan bertobat. Seakan-akan kami menerima semua dosa asal”.

Ia menyinggung pada kitab perjanjian lama yang menyebut Adam dan Hawa ketika diusir dari taman firdaus mendapat rasa sakit sebagai bagian dari hidup mereka. Dan ini diwariskan sebagai dosa asal pada manusia.

Ketika pada tahun 1846 ditemukan teknik medis pati rasa, terjadi diskusi hebat di Eropa dan Amerika sekitar etika di balik teknik mengurangi rasa sakit ini. Apakah ini sesuai dengan keinginan Tuhan? Ada yang menyimpulkan ini sesuai dengan pengampunan Tuhan terhadap manusia yang berdosa dan mengurangi rasa sakit, namun ada juga yang menganggapnya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Rupanya sikap terakhir ini yang dominan di Belanda. Bahkan juga di kalangan mereka yang tidak beragama.

Para calon ibu di lembaga bersalin di Amsterdam tetap menentang suntik bius ketika melahirkan, namun mereka tidak melarang orang lain yang meminta dibius ketika melahirkan anaknya. Seorang wanita asal Inggris menyatakan ia bisa menghormati sikap orang Belanda yang anti obat bius ini namun ia toh ke Inggris negara asalnya untuk bersalin: “Di Inggris saya yakin akan mendapat suntik pati rasa ini kalau perlu, ini pun terjadi karena saya memang memerlukannya”.

Berubah
Namun sikap orang Belanda terhadap rasa sakit juga berubah. Diskusi sekitar suntikan bius untuk bersalin adalah bagian dari perubahan ini. Demikian juga diskusi sekitar bedah plastik untuk mempercantik tubuh yang nota bene adalah ciptaan Tuhan. Dokter gigi pun sudah memberi suntikan pati rasa dengan mudah. Jadi mencap bahwa semua upaya mengurangi rasa sakit adalah bertentangan dengan kehendak Tuhan, tidak didukung secara massal lagi. (pvardhana88@gmail.com)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: