tribunindonesia

Enggan Ikut MOP karena Takut Dikebiri ‘Burung’-nya

In Tak Berkategori on 28 April 2009 at 10:44 PM


SELAMA ini beredar informasi yang salah tentang alat kontrasepsi Keluarga Berencana jenis Medis Operasi Pria (MOP) atau vasektomi. Akibatnya, kontrasepsi MOP ini dihindari banyak pria karena mereka takut dikebiri ‘burung’-nya.

Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Lamongan R Hari Purwanto, ada perbedaan signifikan antara dikebiri dan penggunaan alat kontrasepsi dengan MOP. Pada Pemantapan Operasional Pelayanan KB melalui Institusi Pemerintah di Lamongan, Kamis (23/4), Hari mengklarifikasi anggapan keliru dari masyarakat soal MOP.

Dia menjelaskan, kebiri adalah pengangkatan testis, sementara MOP dilakukan dengan membuat satu atau dua sayatan kecil pada kulit scrotum (kantung buah zakar), kemudian saluran keluarnya diikat sehingga ketika keluar tidak mengandung sperma lagi. Dengan MOP, produksi hormon testoteron pria tetap berjalan seperti biasa. Sementara kebiri membuat laki-laki tidak bisa memproduksi sperma lagi. “MOP ini tidak perlu dikhawatirkan menimbulkan impotensi, semua fungsi kejantanan laki-laki masih normal dengan metode MOP,” katanya.

Hari menegaskan, MOP justru menunjukkan rasa sayang suami pada isteri karena mengambil alih tanggung jawab istri yang biasanya menggunakan alat kontrasepsi ketika pasangan sudah bersepakat untuk tidak menginginkan anak lagi. “Dengan MOP bisa tetap bikin anak tanpa harus khawatir jadi anak,” katanya.

Pemkab Lamongan berupaya meningkatkan intensitas penyuluh lapangan KB (PLKB) dalam memberikan konseling KB maupun Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) KB. “Ada anggapan KB di masa sekarang sudah menjadi kebutuhan sehingga PLKB tidak perlu jemput bola dengan memberikan konseling KB dan KIE. Namun, dengan konseling KB dan KIE justru klien KB bisa ambil keputusan setelah mendapat penjelasan dari konselor (PLKB),” papar Hari.

Dengan konseling, klien akan memiliki perasaan aman dan nyaman ketika menentukan pilihan menggunakan salah satu alat kontrasepsi KB karena tidak dihantui informasi yang tidak benar. Bagi konselor KB, hal itu dapat meningkatkan pencapaian peserta KB baru, terutama MOP dan kondom untuk peserta (akseptor) KB pria. Hal itu bisa berdampak pada menurunnya perkawinan di usia dini dan meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja (KRR).

Pada tahun 2008 lalu, dari 277.353 pasangan usia subur di Kabupaten Lamongan 219.981 menjadi peserta KB. Keikutsertaan pria sebagai peserta KB masih minim yakni sebanyak 430 orang.

Sampai April 2008 tercatat ada 2.843 perkawinan pertama penduduk wanita di Lamongan. Sebanyak 17,86 persen atau 451 dari jumlah perkawinan itu adalah wanita berusia di bawah 20 tahun. Hingga pertengahan tahun 2008 (Juni), jumlah pasangan pengantin baru di Lamongan mencapai jumlah 5.228 pasangan. Sebanyak 18,05 persen atau 944 pasangan menikah pada usia terlalu muda yakni di bawah 20 tahun.

Pada April tahun lalu peserta KB aktif tercatat 218.198 orang, sebagian besar akseptor (peserta) KB memilih KB suntik sebanyak 5.886. Peserta KB pria dengan metode vasektomi atau medis operasi pria (MOP) dengan cara mengikat saluran sperma pria hanya diikuti dua orang. “Tingkat efektivitas MOP atau vasektomi paling tinggi dibanding jenis alat kontrasepsi KB yang lain. Namun karena masih adanya kekhawatiran dan pemahaman yang salah, KB jenis ini kurang diminati,” ujar Hari.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: