tribunindonesia

Cikal Bakal Surabaya

In NASIONAL on 12 April 2009 at 8:40 PM

Menyambut HUT ke 716 Surabaya (1)

 

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam *)

 

Surabaya memperingati hari jadinya tiap tanggal 31 Mei. Tahun 2009 ini usianya sudah 716 tahun, dengan tanggal kelahiran ditetapkan 31 Mei 1293.

 

PENELITI dan beberapa ahli sejarah, mengungkapkan, dulu Surabaya ini adalah muara sungai dan terbentuk oleh gugusan kepulauan. Muara Sungai Kali Brantas dengan anaknya Kali Surabaya masih di Wonokromo. Sedangkan Surabaya sekarang merupakan pulau-pulau kecil yang terjadi akibat lumpur yang hanyut dari letusan Gunung Kelud. Lama-kelamaan lumpur yang terbawa arus air sungai mengakibatkan pendangkalan di muara sungai yang terletak di Selat Madura ini.

Akibat sedimen yang terus bertambah, endapan lumpur semakin meninggi, sehingga selat-selat yang terletak di antara gugus pulau-pulau kecil itu menyempit. Di antara pulau-pulau kecil itu banyak yang menyatu, sementara ada pula selat di antara pulau-pulau kecil itupun berubah menjadi anak sungai atau kali.

Kejadian yang unik itu ditopang pula dengan proses tektonik. Permukaan daratan Surabaya naik 5 sampai 8 centimeter per-abad. Sementara itu daratan atau garis pantai bertambah ke arah laut rata-rata 75 centimeter per-tahun.

 

Berkah Gunung Kelud

 

GUNUNG Kelud memiliki peran dalam kelahiran kota Surabaya

GUNUNG Kelud memiliki peran dalam kelahiran kota Surabaya

Kalaulah Gunung Kelud yang terletak di antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri tidak meletus hampir tiap 15 tahun sekali, mungkin Kota Surabaya ini tidak ada. Atau tidak seperti sekarang ini. Daratan dari Wonokromo sampai Tanjung Perak tidak akan pernah ada. Sebab, terjadinya daratan Surabaya, adalah akibat lumpur kiriman dari letusan Gunung Kelud yang dihanyutkan melalui Sungai kali Brantas.

Di zaman nenek moyang kita dulu, muara Sungai Kali Brantas itu, masih di Gunungsari, Wonokromo. Akibat kiriman lumpur dan erupsi yang terus menerus dari Gunung Kelud, maka terbentuklah atol dan pulau-pulau kecil di muara sungai, yaitu Selat Madura. Masyarakat Surabaya menyebutnya tanah oloran..

Dalam catatan sejarah, Gunung Kelud rata-rata meletus setiap 15 tahun sekali. Memang, apabila Kelud meletus, dua wilayah yang menjadi sasaran utama, yaitu Blitar dan Kediri. Tetapi, karena Sungai kali Brantas mengalir dari arah Kediri sampai ke Surabaya, maka semburan gunung yang membawa lava, lahar dan lumpur itu hanyut sampai ke muara sungai. Selain membuat pendangkalan di badan sungai, endapan terbanyak justru di muaranya Selat Madura, yaitu Surabaya dan Sidoarjo.

Data yang berhasil dicatat dari Proyek Penang-gulangan Bencana Alam Gunung Kelud, secara berturut-turut Gunung Kelud meletus tahun 1311, 1334, 1376, 1385, 1395, 1411, 1451, 1462, 1481, 1586, 1752, 1771, 1811, 1826, 1835, 1848, 1851, 1864, 1901, 1919, 1951, 1966, 1990 dan 2005.

Sebagai contoh, menurut mantan Pimpinan Proyek Induk Brantas, Ir.Roedjito, saat terjadi letusan Gunung Kelud tahun 1919, 1951 dan tahun 1966, rata-rata volume bahan erupsi sebanyak 200 juta meter kubik dan sekitar 74 juta meter kubik masuk ke Kali Brantas. Di samping pendangkalan di sepanjang sungai, juga hanyut dan mengendap di muara sungai di Surabaya dan Sidoarjo. Jadi, tiga kali letusan itu saja erupsi sudah mencapai 600 juta meter kubik yang masuk ke Sungai Kali Brantas. Ini belum termasuk letusan sebelumnya.

Letusan Gunung Kelud tahun 1990 dan 2005 juga cukup dahsyat. Tidak kurang dari duau kali letusan memuntahkan lahar 28 juta meter kubik. Lahar yang dimuntahkan itu, selain menimbun kawasan di sekitar gunung, juga mengalir terus ke sungai. Namun sejak letusan tahun 1966, Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah dibangun tanggul atau check dam sebagai kantong lahar di lereng gunung. Kendati demikian, sebagian besar tetap mengalir di lereng gunung terus ke sungai. Lahar yang berubah menjadi pasir dan lumpur itu mengalir melalui Sungai Kali Brantas hingga muara.

Akibat yang terjadi, di samping mendangkalkan permukaan sungai, mempersempit lebar sungai, yang pasti menambah endapan di muara sungai, laut di Selat Madura, yakni wilayah Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo..

Kalau dari 25 kali sejak tahun 1311 atau awal abad ke-14 saja, seperti catatan letusan Gunung Kelud itu, maka tidak kurang dari 700 juta meter kubik lahar yang dimuntahkan dan hanyut melalui sungai Kali Brantas yang bermuara di Surabaya dan Sidoarjo. Padahal Gunung Kelud itu meletus rata-rata pada kelipatan 15 tahunan. Tidak salah, jika dihitung sejak berouluh-puluh abad lalu, keberadaan daratan Surabaya berasal dari lumpur yang hanyut kemudian mengendap itu berasal dari Gunung Kelud. Sama dengan Sidoarjo yang diyakini juga terbentuk akibat hanyutan lumpur dari Gunung Kelud. Sehingga Sidoarjo dijuluki delta, yaitu daratan yang terjepit di antara sungai.

Begitulah asal-usul dan cikal-bakal kejadian daratan di muara Kali Surabaya, sehingga daerah yang semula bernama Junggaluh atau Ujunggaluh atau Hujunggaluh, kemudian berubah namanya menjadi Surabaya. Seandainya tidak ada lumpur dari lava yangmengalir dari kawah Gunung Kelud, jelas Kota Surabaya tidak. Dapat dipastikan bahwa Surabaya “lahir” dari “janin” yang berasal dari “perut” Gunung Kelud. Namun, kapankah tepatnya, janin pertama berwujud tanah oloran itu membentuk daratan yangkini bernama Kota Surabaya? Tentu bukan tanggal 31 Mei 1293. tetapi jauh, lebih seribu tahun sebelumnya. Sebab, jika dilihat catatan letusan Gunung Kelud tahun 1311, sebagian daratan Surabaya sudah ada. Desa yang bernama Junggaluh sudah disebut. Begitu pula dengan nama Surabaya, Ampel dan sebagainya,

Mengingat daratan kota Surabaya ini ada sebagai akibat lumpur yangmengendam di muara Sungai kali Brantas, maka tidaklah mengherankan, kalau sampai sekarang Surabaya berada di dataran rendah. Kota ini terletak pada ketinggian hanya 0 sampai 6 meter di atas permukaan laut. Jadi, kalau Surabaya banjir atau pasang naik mencapai bibir daratan, tidak perlu heran dan sebenarnya tidak perlu dirisaukan.

 

Kali dan Pulo

Dari gugus pulau-pulau kecil yang disebut pulo di muara sungai Kalimas yang berinduk ke sungai Kali Brantas itu, ada selat-selat yang dulu diberi nama kali. Jadi tidaklah mengherankan ada nama tempat di Surabaya ini yang disebut pulo dan kali. Di sini pola hidup dan kehidupan warga asli adalah memancing dan berburu. Rumah-rumah penduduk kampung asli Sura-baya dulunya berada di atas tiang dan di atas permukaan air, sebagaimana umumnya permukiman pantai.

Seiring dengan perkembangan ruang dan waktu, pola kehidupan berubah. Kehidupan di dunia pantai yang berubah menjadi pelabuhan itulah yang mendorong terjadinya kegiatan kemaritiman. Dunia maritim ini saling tunjang dengan perdagangan dan industri. Inilah ciri khas Surabaya pada awalnya, yang kemudian ber-kembang ke arah pendidikan, budaya dan pariwisata seperti sekarang ini.

Sebagai wilayah berada di muara sungai yang berkembang menjadi pelabuhan, keberadaannya diakui oleh pemerintah penjajah Belanda di awal abad ke 16. Evolusi menjadi kota besar mulai terjadi setelah dilakukan pemetaan wilayah oleh Muller tahun 1746. Pemetaan wilayah Surabaya itu atas perintah Gubernur Jenderal Belanda wilayah Hindia Belanda yang mendarat 11 April 1746 di utara Surabaya.

Awalnya luas kota Surabaya yang secara otonom diserahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat pembentukan kota 1 April 1906 di bawah pemerintahan walikota (burgermeester), sekitar 5.170 hektar atau 51,70 kilometer per-segi.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tahun 1945, Pemerintahan Kota Surabaya dikukuhkan dengan Undang-undang No.22 tahun 1948 dengan luas wilayah 67,20 kilometer per-segi atau 6.720 hektar.

Kemudian terjadi perluasan kota dengan penam-bahan wilayah dari lima kecamatan dari Kabupaten Surabaya (sekarang bernama Kabupaten Gresik). Luas kota bertambah 15.461,124 hektar atau 15,46 kelometer persegi, sehingga luas kota Surabaya menjadi 22.181,12 hektar atau 221,18 kilometer per-segi.

Entah apa dasarnya, setelah tahun 1965 pada keterangan dan dalam buku agenda resmi Pemerintahan Kota Surabaya terjadi perubahan luas wilayah Kota Besar Surabaya menjadi 29.178 hektar

Sejak tahun 1992, berdasarkan pemotretan udara, ternyata luas Surabaya 32.636,68 hektar.

Memang, begitulah kenyataannya, konon hingga sekarang, luas daratan kota Surabaya terus bertambah. Dinas Tatakota Pemkot Surabaya, Senin, 12 Mei 2003, pernah mengungkap pertambahan luas daratan itu disebabkan lumpur yang hanyut ke muara sungai, terutama di hilir Kali Jagir sampai daerah Wonorejo. Akibatnya, selain muara sungai menyempit, juga semakin dangkalnya laut di muara sungai, bahkan menimbulkan tanah oloran baru.

Kalau kita amati dan kita cermat melakukan jalan keliling kota, pertambahan daratan Surabaya itu, juga akibat kegiatan reklamasi pantai dan pengurukann laut. Kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini, pertama di daerah pertambakan, pembangunan perumahan di pinggir pantai serta perluasan daratan yang dilakukan pengelola Pantai Ria Kenjeran.

Kalau dalam buku agenda tahun 1980-an, luas Surabaya tertulis 29 ribu hektar. Kemudian pada tahun 1990-an dari hasil pemotretan udara, luas Kota Surabaya 32,63 ribu hektar. Namun, di tahun 2003, Kepala Dinas Tatakota Pemkot Surabaya Ir.Erlina Soemartomo (waktu itu) menyebut luas Kota Surabaya, 35 ribu hektar lebih. Kendati demikian, pada buku kerja (agenda) resmi terbitan Pemkot Surabaya tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006, luas wilayah kota Surabaya tetap dicetak 326,37 km2 atau 32,63 ribu hektar lebih.

 

Tutur Tinular

Kembali cerita tentang kapan Surabaya mulai disebut dan mulai ada, atau “lahir” , versinya macam-macam. Dalam cerita lama, seperti yang terdapat, dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Timur terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977, ada dongeng tentang Surabaya.

Selain dongeng, juga ada cerita dari cerita yang disampaikan secara berkesinambungan dari nenek moyang kepada kakek, dari kakek atau nenek kepada ayah dan ibu, kemudian dari ibu kepada anak dan cucu, terus pula kepada cicit dan buyut, begitu seterusnya sampai sekarang ini. Kalau boleh dikatakan seperti tutur tinular, yakni penuturan yang kemudian ditularkan atau disebarluaskan kepada generasi berikutnya Tentu cerita dan cerita itu sudah tidak orisinal lagi, dipoles di sana-sini, bahkan ditaburi bumbu penyedap, sehingga rasanya menjadi asyik.

Surabaya yang dulunya hutan belantara di muara sungai Kali Brantas, kemudian melahirkan sungai yang berasal dari selat-selat yang terdapat dari tanah oloran yang kemudian menjadi pulau. Sungai-sungai itu tidak kurang dari 50 sungai yang disebut kali. Mulai dari kali yang cukup besar, yakni Kali Surabaya dari Mojokerto sampai Gunungsari. Kemudian, terpecah menjadi dua kali yang agak besar, Kali Mas yang mengalir dari Wonokromo ke arah Tanjung Perak dan yang kedua Kali Wonokromo yang mengalir dari Jagir ke arah Rungkut. Ada lagi Kali Anak yang mengalir ke arah perbatasan Surabaya-Gresik. Dan, sisanya, kali-kali yang kecil, seperti: Kali Asin, Kali Sosok, Kali Pegirian, Kali Kundang, Kali Ondo, Kali Rungkut, Kali Waron, Kali Kepiting, Kali Judan, Kali Mir, Kali Dami, Kali Lom, Kali Deres, Kali Jagir, Kali Wonorejo dan masih puluhan kali lagi yang kecil-kecil.

Sebagai muara sungai besar, di muara itu mengendaplah lumpur, apalagi berulangkali lumpur letusan Gunung Kelud, hanyut ke muara dan membentuk pulau-pulau. Dari berbagai pulau yang merupakan kepulauan itu, lahirlah Surabaya. Pulau-pulau itu me-mang tidak begitu menonjol, kecuali Pulau Wonokromo dan Pulau Domas. Sedangkan yang lainnya berbentuk rawa dan danau-danau kecil yang disebut kedung, serta sebagian dijadikan tambak. Ada lagi yang masih berbentuk karang.

Maka, tidak heran kalau di seantero Kota Sura-baya saat ini nama tempat diawali dengan nama kedung, tambak dan karang. Contoh, Tambaksari, Tambakasri, Tambakoso Wilangun, Tambakbayan, Tambakjati, Tam-bakrejo, Tambakmadu, Kedungdoro, Kedungsari, Ke-dungasem, Kedung Baruk, Kedung klinter, Kedungsroko, Kedungcowek, Kedungmangu, Karangmenjangan, Ka-rangasem, Karangrejo, Karang Tembok, Karanggayam dan lain-lain.

Juga ada yang berbentuk tegal, seperti Tegalsari. Konon di Tegalsari atau daerah Surabayan inilah cikal-bakal penduduk daratan Surabaya yang kemudian ber-kembang sampai ke daerah Bubutan dan sekitar yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Adipati Surabaya.

 

Nama Kampung

Mungkin ada benarnya dan tidak terbantahkan, kalau dulu Surabaya itu memang berasal dari lumpur endapan Gunung Kelud. Sedikit demi sedikit endapat lumpur itu menjadi tanah oloran. Terbentuk pulau-pulau kecli. Lama kelamaan pulau-pulau itu melebar dan menyatu, di sela-selanya terbentuk aliran sungai menuju ke laut yang disebut kali.

Coba diamati nama-nama sebagian kampung di Kota Surabaya yang menggambarkan bahwa dulu Surabaya itu memang berasal dari tanah oloran. Sehingga, kampung itu bernama awal: kali, tambak, pulo, karang, kedung, bulak dan tembok.

Tambak, biasanya dikaitkan dengan kegiatan pantai, usaha pertambakan atau lahan di pinggir laut. Kalau sekarang ditemukan ada daerah yang bernama tambak, tetapi sudah berada di tengah kota, maka ini membuktikan, dulu itu Surabaya memang merupakan wilayah pantai sebelum daratannya makin luas.

Nah, dapat dibayangkan, kalau dulu wilayah Tambaksari, Tambak Jati, Tambak Gringsing, Tambak Madu, Tambak Windu, Tambak Laban, Tambak Bayan, Tambak Rejo dan kampung dengan nama-nama tambak lainnya itu dulu adalah pantai di Selat Madura. Seperti yang saat ini masih ada, yaitu Tambak Wedi, Tambak Oso Wilangun dan lan-lain.

Begitu pula dengan kampung yang berawal kata kali, karena di Surabaya ini asalnya banyak kali. Cikal bakal berdirinya atau terbentuknya daratan Surabaya adalah akibat endapan lumpur Sungai kali Brantas yang bermuara di Wonokromo, terus melebar ke tengah Selat Madura. Di sela-sela pulau-pulau atau pulo itu, terdapat kali-kali kecil, seperti Kalimir, Kali Anak. Kali Kundang, Kali Sosok, Kali Dami, Kali Rungkut, Kali Jagir, Kali Kepiting, Kali Lom, Kalijudan dan sebagainya. Ada kali yang lama-kelamaan menyempit, diuruk dan kalinya menjadi hilang, Misalnya Kaliasin, yang sekarang berada di pusat kota, yaitu kawasan pusat perbelanjaan dan pertokoan Plaza tunjungan di Jalan Basuki Rakhmat

Padahal dalam sejarah lama, Kaliasin itu termasuk kali yang besar di pinggir “cikal bakal Kota Surabaya”, yaitu kampung Surabayan sekarang. Kawasan ini, terletak di wilayah yang lahan kering bernama Bobot Tegal Sekar atau Bobot Tegalsari, yang sekarang bernama Tegalsari. Entah di mana kawasan yang diuruk dan ditimbuni, sehingga aliran Kalimas sebagai anak Kali Brantas yang mengalir dari Bukul atau Bungkul di Wonokromo, sampai ke daerah Pegirian tempat Sunan Ampel berada.

Dalam sejarah lama, pada peta pelabuhan atau dermaga tempat berlabuh kapal dan perahu dari pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, melewati Canggu (Mojokerto), Kelagen (Krian), Pacean atau Jagir (Wonokromo), Bukul (Bungkul), Surabaya (Surabayan atau Kaliasin), Pegirian terus ke pelabuhan Junggaluh, Hujunggaluh atau Ujung Galuh, yaitu sekitar muara Kalimas, Tanjung Perak sekarang.

Kedung dan bulak, yaitu daerah yang berawa-rawa dan semak belukar di pinggir laut. Sekarang mungkin seperti kawasan pantai dengan hutan bakau atau mangrove, seperti di kawasan Wonorejo, Rungkut. Jadi, sama dengan tambak, daerah yang berawal dengan kedung dan bulak, dulunya adalah kawasan pantai.

Dapat dbayangkan, kalau dulu Kedungdoro, Kedungsari, Kedunganyar, Kedung Sroko, Kedung Pengkol, Kedung Klinter, Kedung Baruk dan kedung-kedung lainnya yang sekarang sudah berada di tengah kota, ternyata dahulunya adalah semak belukar di pinggir pantai. Tetapi untuk kawasan bulak, memang saat ini masih berada di pinggir laut. Seperti Bulak Rukem dan Bulak Banteng.

Ada lagi perkampungan yang namanya berawal dari kata karang. Karang adalah kawasan di tengah laut atau pinggir laut yang berbatu-batu keras, yaitu batu karang. Dapat dibayangkan sekarang ini, kalau daerah Karang Rejo (di Wonokromo), Karang Menjangan, Karang Asem, Karang Pong atau dibaca Krampung (sekarang berubah menjadi Kapas Krampung) dan Karang Tembok, dulunya adalah wilayah laut atau pinggir laut.

Satu lagi yang juga perlu diamati, adalah kampung yang berawal dengan kata tembok. Tembok adalah tanggul pembatas. Tembok itu umunya dibuat dari batu yang dicampur lempung, tanah liat atau semen dan pasir. Biasa untuk batas wilayah, dapat juga sebagai tembok untuk tanggul laut. Nah, dkaitkan dengan asal-usul kejadian Kota Surabaya, maka tembok berkonotasi sama dengan tanggul laut. Tanggul untuk mencegah ombak agar tidak mengerus lahan permukiman di pinggir pantai. Maka tidaklah mengherankan, kalau dulu perkampungan atau dukuh yang dibatasi tembok itu dulunya terletak di pinggir pantai. Sekarang dukuh Tembok itu, namanya berubah menjadi Tembok Dukuh, di dekat Pasar Turi.

Dan masih banyak contoh lain, misalnya Pulo Wonokromo yang dulunya merupakan pulau kecil. Ada lagi kisah tentang Pulo Domas. Tetapi, di mana Pulo Domas itu sekarang? ***

 

*) HM Yousri Nur Raja Agam – Wartawan senior di Surabaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: