tribunindonesia

Selamat Tinggal Hutan Alam!

In FEATURES on 17 Maret 2008 at 9:15 PM

Pada Minggu, 16 Maret 2008, Departemen Kehutanan berusia 25 tahun. Tanggung jawab menjaga kelestarian sekaligus memanfaatkan nilai ekonomi hutan membuat departemen ini tak pernah sepi dari sorotan.

Seusai rapat kabinet terbatas di Departemen Kehutanan, Jumat (22/2), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah tetap menjaga dua fungsi hutan, yaitu fungsi kelestarian dan ekonomi.

Fungsi kelestarian ditujukan untuk mengurangi dampak bencana, tidak hanya bagi rakyat Indonesia, tetapi juga penduduk dunia.

”Kami akan mengelola semuanya itu untuk betul-betul mencapai tujuan pembangunan. Kami menyadari, usaha bidang kehutanan memberikan kontribusi pada ekonomi lokal, ekonomi daerah, termasuk lapangan kerja. Oleh karena itu, kami harus memastikan bahwa upaya (menjaga kelestarian) bisa mencapai (tujuan kesejahteraan rakyat) itu,” kata Presiden.

Dari 120 juta hektar kawasan hutan yang ada, 20,5 juta hektar di antaranya adalah hutan konversi, 33,5 juta hektar hutan lindung, dan hutan produksi seluas 63,35 juta hektar. Pemerintah mengklaim laju kerusakan hutan berkurang dari 2,3 juta hektar per tahun pada tahun 1997-2000 menjadi 1,08 juta hektar per tahun pada 2000-2006.

Dari klaim ini, kita bisa menarik napas sejenak, karena tegakan hutan yang hilang telah berkurang, dari sebelumnya setara dengan 6.301 lapangan sepak bola per hari kini menjadi 2.958,9 lapangan sepak bola per hari. Namun, aktivis lingkungan dan organisasi internasional meragukan klaim itu. Mereka memperkirakan kerusakan hutan masih 2 juta hektar per tahun.

Lalu bagaimana kita memperlakukan hutan? Terus melestarikannya dan mengoptimalkan manfaat dari sumber daya ekonomi nonkayunya atau terus mengeksploitasinya dengan dalih demi pembangunan?

Hutan tanaman

Bagi mereka yang berpikiran jangka panjang, tentu opsi pertama yang dipilih. Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali, Desember 2007, harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk tinggal landas dari eksploitasi hutan alam. Selanjutnya, industri kehutanan berbasis kayu harus mengandalkan pasokan dari hutan tanaman industri (HTI) agar tetap eksis dan menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang.

Saat ini ada tujuh industri pulp berkapasitas produksi 8,5 juta ton per tahun, yang membutuhkan 38,2 juta meter kubik kayu untuk bahan baku. Indonesia menjadi penghasil pulp nomor 12 di dunia. Sampai saat ini pemerintah masih mengizinkan industri pulp menggunakan separuh bahan baku yang dibutuhkanya dari hutan alam. Sisanya dipenuhi dari HTI.

Menteri Kehutanan MS Kaban mengatakan, izin itu berlaku sampai 2009. Mulai 1 Januari 2010 industri pulp harus sepenuhnya memakai kayu dari HTI. Tampaknya tenggat waktu itu akan sulit dipenuhi. Hal itu karena dari 9.879.607 hektar izin areal HTI yang diberikan, sampai 8 Februari 2008 baru terealisasi 3.425.342 hektar. Masih jauh dari 50 persen target!

Multitafsir hukum

Seandainya koordinasi antaraparat pemerintah berjalan baik, tentu upaya menjaga kelestarian hutan tidaklah sulit. Kasus dugaan pembalakan liar di areal HTI berizin resmi oleh Kepolisian Daerah Riau terhadap 14 perusahaan HTI di Riau, misalnya, dituding penyebab rendahnya realisasi tanam. Kondisi ini membuat dua industri pulp utama nasional, Riaupulp (RAPP) dan Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP), sejak Februari 2007 sampai Maret 2008 tidak mendapat pasokan bahan baku.

Menurut Ketua Presidium Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Mohammad Mansur, hal itu membuat potensi devisa 3 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 27,6 triliun, hilang. Menhut menegaskan, pihaknya tidak menoleransi pengusaha yang memegang izin resmi, tetapi bekerja melanggar asas. Bahkan, tahun ini Kaban akan mencabut 21 izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK/dulu dikenal sebagai hak pemanfaatan hutan) jika tidak ada pernaikan kinerja. Perusahaan-perusahaan itu kinerjanya dinilai buruk oleh lembaga penilai independen.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi mengatakan, pemerintah memang harus bertindak tegas terhadap pengusaha nakal, yang hanya ingin mengeruk keuntungan dari hutan tanpa memikirkan kelestariannya. Pencabutan izin salah satu sanksi yang mutlak ditegakkan oleh Dephut.

Restorasi hutan

Lalu, bagaimana kita memanfaatkan hutan tropis yang ada? Sebenarnya memanfaatkan nilai ekonomi nonkayu dari hutan alam Indonesia akan lebih menguntungkan. Dari keanekaragaman hayati saja, potensi ekonominya mencapai 4 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 36,8 triliun, per tahun. Belum dari nilai air, wisata alam, dan perdagangan karbon yang ngetren belakangan ini.

Langkah lembaga swadaya masyarakat Burung Indonesia, yang fokus pada konservasi burung, patut ditiru. Dengan dukungan BirdLife International dan Royal Society for the Protection of Birds (RSPB) yang berbasis di London, Burung Indonesia membentuk PT Restorasi Ekosistem (Reki), dan memohon IUPHHK ke Dephut sejak 2001.

Reki memenangi lelang IUPHHK lahan eks HPH hutan produksi di hutan Sungai Meranti-Kapas Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Setelah proses administrasi dilalui, Menhut MS Kaban menyerahkan sertifikat IUPHHK seluas 52.170 hektar untuk periode 100 tahun.

Presiden Reki Effendy A Sumardja mengatakan, pihaknya bersama Yayasan Konservasi Ekosistem Hutan Indonesia akan menanamkan modal 16,1 juta dollar AS, atau sekitar Rp 148,9 miliar pada 20 tahun pertama. Dana itu dari bantuan internasional.

Dalam operasionalnya, meskipun izin membenarkannya, Reki tidak akan memanfaatkan hasil kayu selama belum tercapai keseimbangan hayati. Restorasi ekosistem dan hutan menjadi tujuan utama Reki. ”Kami akan memanfaatkan hasil hutan nonkayu, yang memiliki nilai lebih tinggi dari sekadar kayu untuk jangka panjang,” kata Effendy.

Walaupun tak bisa serta-merta mengeruk keuntungan, untuk jangka panjang bisnis ini prospektif. Semakin terbukanya mata dunia akan pentingnya kelestarian alam akan mendongkrak harga kelestarian hutan. Peluang ini harus dimanfaatkan Indonesia, sebagai pemilik hutan tropis terbesar kedua dunia setelah Brasil. Hutan selamat, perekonomian pun tumbuh. (ma/Kmp)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: