tribunindonesia

BPOM : Produk Susu dan Makanan Bayi di Pasaran Aman

In NASIONAL on 26 Februari 2008 at 3:05 PM

r_esakazakii21.jpgJAKARTA, SELASA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin Akib memastikan semua produk susu formula dan makanan bayi yang saat ini beredar di pasaran tidak tercemar bakteri jahat dan aman dikonsumsi.

“BPOM melakukan pemeriksaan mikrobiologi terhadap sampel produk tersebut sepanjang tahun untuk mendeteksi kemungkinan adanya cemaran mikrobiologi, kalau produk yang bersangkutan ternyata bermasalah kita panggil produsennya dan minta mereka memperbaiki produknya,” ungkapnya seperti dikutip Antara di Jakarta, Selasa (26/2).

Husniah, yang akrab disapa Ance, mengemukakan hal itu menanggapi hasil penelitian peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap 22 sampel produk susu formula untuk bayi dan 15 produk makanan bayi selama 2003-2006 yang menunjukkan bahwa 22,73 persen sampel susu formula dan 40 persen sampel makanan bayi tercemar Enterobacter Sakazakii.

Ance menjelaskan pula bahwa selain pemeriksaan terhadap cemaran mikrobiologi berupa bakteri termasuk bakteri penyebab diare (Salmonella sp, Eschericia colli dan Enterobacter sakazakii) pihaknya juga memeriksa kemungkinan adanya cemaran kapang dan mikroorganisme pathogen lain pada produk-produk tersebut.

Namun demikian, kata dia, pihaknya tidak mempublikasikan hasil pemeriksaan rutin yang dilakukan untuk memastikan keamanan produk pangan itu kepada publik.

“Kita tidak mempublikasikan karena SOPnya memang demikian, di mana-mana juga seperti itu. Lagipula kalau setiap hasil pemeriksaan dipublikasikan bisa menghabiskan lembaran koran,” katanya berkelakar.

Lebih lanjut ia menjelaskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Pangan Dunia (FAO) merekomendasikan pemeriksaan cemaran Enterobacter Sakazakii pada susu formula bubuk tahun 2005 karena sebelumnya ada laporan kejadian diare pada balita yang mengonsumsi susu tercemar Enterobacter di Jepang.

“Di Indonesia sendiri hingga saat ini belum ditemukan kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh Enterobacter sakazakii. Di sini penyebab utamanya Salmonell dan E.colli,” katanya serta menambahkan hingga saat ini E.Sakazakii baru diketahui terkait dengan kejadian diare pada balita, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungannya dengan kejadian penyakit lain.

Pada pertemuan mengenai Enterobacter Sakazakii dan mikroorganisme lain dalam susu bubuk formula bayi tahun 2004, para ahli WHO dan FAO menyebutkan data tentang industri makanan dan otoritas pengawas tingkat nasional menunjukkan bahwa Salmonella jarang ditemukan pada produk susu bubuk formula jadi dan E. Sakazakii justru lebih banyak ditemukan di lingkungan pabrik dibanding Salmonella.

Kedua lembaga internasional itu mengeluarkan beberapa rekomendasi terkait pencegahan pencemaran E.sakazakii karena meski informasi mengenai ekologi, taksonomi, keganasan dan karakteristik lain dari E. Sakazakii sangat terbatas namun sesedikit apapun keberadaan mikroorganisme itu dinilai beresiko membahayakan kesehatan bayi dan balita.

Dengan pertimbangan bahwa produk susu formula bayi mudah tercemar patogen dan E. Sakazakii adalah pathogen yang sering muncul dan membahayakan kesehatan, para ahli dari kedua lembaga internasional itu merekomendasikan agar setiap produk susu formula dilengkapi dengan informasi jelas mengenai tata cara penyiapan, penggunaan dan penyimpanannya.

Pemerintah juga diminta mendorong produsen makanan bayi untuk meningkatkan kisaran steril pada produknya, menekan konsentrasi dan prevalensi E. Sakazakii di lingkungan pabrik, menerapkan sistem pengawasan lingkungan yang ketat dan efektif serta menggunakan pemeriksaan Enterobacteriaceae sebagai salah satu indikator pengontrolan hygiene dalam alur produksi di pabrik.

Sementara itu Rektor IPB Dr.Ir.H. Herry Suhardiyanto M.Sc. seperti dikutip Radio Elshinta, Selasa (26/2) menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan pihaknya memang benar menyatakan hasil positif tercemar bakteri pada sampel-sampel yang diteliti pada 2003-2006.

Penelitian itu sendiri dibiayai oleh APBN yang didahului dengan pengajuan proposal serta diseleksi secara ketat. Sedangkan maksud dari penelitian itu, jelas Herry, adalah untuk kajian ilmiah bagi perguruan tinggi dan masyarakat.

“Mengenai masalah ini, biarlah pihak yang berwenang yang menyatakannya. Tapi bahwa bakteri ditemukan pada sampel-sampel yang dikumpulkan pada masa itu saya kira memang benar adanya,” ungkap Herry menanggapi pertanyaan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari soal siginifikansi penelitian di IPB.

Herry juga mengatakan pihaknya akan segera melakukan rapat koordinasi dengan pihak departemen terkait seperti Departemen Pertanian, Badan POM dan Departemen Kesehatan pada Kamis (28/2) mendatang untuk membahas masalah ini. (ant/ma)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: