tribunindonesia

‘RAMBO IV: IN THE SERPENT’S EYE

In FILM on 14 Februari 2008 at 3:31 PM

Resensi oleh Prima Sp Vardhana

DALAM karier Sylvester Stallone sebagai seorang sineas, ada dua film yang sangat berjasa dalam membangun sosoknya sebagai seorang sineas kaliber dunia yang berhasil masuk nominasi dan merebut Piala Oscar yang diperebutkan dalam Festival Film Academy Award di Hollywood.

Dua film itu adalah serial ROCKY yang mengupas tentang kehidupan seorang petinju juara dunia fiktif bernama Rocky Balboa. Serta film serial RAMBO yang bertutur tentang perjuangan seorang mantan perang Vietnam bernama John Rambo dalam mencari jati dirinya, baik sebagai seorang ksatria, pahlawan, dan individu warganegara AS.

Secara prestise, dua serial hasil tangan dingin pria berdarah Italia itu sangatlah luar biasa. Bagaimana tidak, kedua serial tsb tidak cuma berhasil secara bisnis. Namun, juga berhasil menjadi sebuah karya monumenal yang mengibarkan citra industri perfilman Amerika di peta dunia.

Serial film tentang perjalanan hidup petarung Rocky Balboa direnda mulai Rocky (1976), Rocky II (1979), Rocky III (1982), Rocky IV (1985), Rocky V (1990), Rocky Balboa (2006) . Sedangkan petualangan sosok John Rambo dioawali lewat First Blood (1982), Rambo (1983), Rambo: First Blood Part II (1985), Rambo III (1988), ‘RAMBO IV: IN THE SERPENT’S EYE’ (2007)

Keistimewaan Stallone dalam dua seria filmnya itu, ia mendapuk dirinya dalam empat jabatan penting yang menentukan nasib sebuah film. Jabatan-jabatan itu adalah aktor utama, sutradara, penulis skenario, dan produser.

Dengan beredarnya serial ke-4 Rambo di bioskop-bioskop di Indonesia ini, menurutt catatan situs imdb, kemonceran karier Stallone dihiasi dengan prestasinya sebagai aktor di 54 film bioskop dan televisi, sementara film ke-55 berjudul Notorius untuk tayangan televisi sedang dalam masa produksi. Ia berhasil membidani film sebagai sutradara dan produser sebanyak 9 judul film termasuk Notorius dan Poe yang tegah proses produksi, dan sebagai penulis skenario sebanyak 22 film termasuk Poe.

MENGKRITIK MYANMAR

Sedangkan dalam RAMBO IV, Stallone mengemasnya sebagai sarana kritik kemanusiaan atas peperangan yang merusak psikologis suatu bangsa. Berbeda dengan serial keduanya yang bersetig Vietnam dan Afganistan sebagai seting serial ketiganya. Dalam serial keempatnya ini seting cerita dipilihnya wilayah Burma dan Myanmar, yang menjadi arena perang saudara terpanjang di dunia. Perang yang memakan jutaan korban jiwa yang mayoritas rakyat itu sudah berlangsung puluhan tahun dan hingga kini masih berlangsung.

Dalam film ini John Rambo dikisahkan telah lama meninggalkan perang. Ia bertekad tak akan melibatkan diri dalam ‘kehidupan berdarah’. Rambo memilih menetap di belantara Thailand. Selain berprofesi menyewakan perahu, ia juga bekerja sebagai penangkap ular di hutan untuk disetorkan pada pemilik arena tontotan atraksi tari ular.

Namun keputusannya berubah, setelah bertemu dengan Michael Burnett (Paul Schulze) dan rekannya, Sarah Miller (Julie Benz). Mereka adalah missionaris dari Amerika Serikat yang ingin mengantar obat-obatan ke pedalaman Burma, serta bantuan bagi desa Karen di perbatasan Burma – Thailand yang menjadi wilayah perang saudara terpanjang didunia, yaitu konflik orang Burma dengan orang Karen yang sudah mencapai tahun ke-60.

Para misionars meminta Rambo untuk menjadi pemandu, karena dianggap paling tahu daerah tersebut, termasuk wilayah yang dihuni oleh Suku Karen, suku yang dianggap pemberontak oleh junta militer Myanmar. Kendati awalnya menolak, Rambo akhirnya menerima permohonan itu tapi setelah Sarah menjelaskan kondisi pengungsi yang sangat membutuhkan bantuan. Juga mara bahaya yang harus mereka hadapi dalam perjalanan ke perbatasan tersebut. Rambo mengantar rombongan misionaris hingga di pelabuhan tradisonal di bibir sungai yang ada di gerbang desa Suku Karen.

Ironisnya dua minggu pasca mengantar para missionaris tsb, Pastor Arthur Marsh (Ken Howard) yang mengirim kelompok missionaris itu membawa kabar rombongan Sarah hilang tak berkabar. Kemungkinan tertawan militer Burma. Permohonan Pastor Marsh itulah menjadi awal “turun gunungnya” Rambo dalam sebuah medan perang penyelamatan seperti di logi kedua dan ketiga.

Memang sebagai sebuah film, kemasan yang disuguhkan Stallone tak berbeda dengan tiga serial pendahulunya. Sosok Rambo mencorong sebagai seroang prajurit mantan Green Berret yang pilih tanding dan selalu unggul dalam sebuah peperangan gerilya.

Namun, ada suguhan lain dalam serial keempat ini. Rambo tak lagi berlaga seorang diri bak superhero di komik-komik karya DC Comic maupun Marvel. Kali ini ia melakukan misi penyelamatan dibantu tujuh tentara bayaran mantan SAR dan Green Berret.

Keunggulan lainnya, dalam film ini Stallone melakukan pewarnaan kisah dengan memasukkan cuplikan-cuplikan film dokumenter kekejaman junta militer Myanmar. Bahkan dalam beberapa adegan, ia juga memasukkan adegan pemerkosaan rame-rame para tentara Myanmar terhadap empat perawan Suku Karen. Dan, kebejatan komandan pasukan yang memiliki kegemaran memperkosa dengan mensodomi remaja pria dari suku Karen.

Karena dalam serrial Rambo, tetesan darah dan tubuh yang berantakan dihantam bom dan penangkis udara selalu tervisual. Maka, anak-anak hendaknya tak diijinkan para orang tua untuk menikmati film ini.

Susunan Kru Rambo IV
Genre : Action / Drama / Thriller
Sutradara : Sylvester Stallone
Penulis skenario : Art Monterastelli and Sylvester Stallone
Bintang : Sylvester Stallone, Julie Benz, Matthew Marsden, Matthew Marsden, Graham McTavish, Reynaldo Gallegos, Jake La Botz

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: