oleh Prima Sp Vardhana
PENGOPERASIAN jembatan Suramadu yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura, ternyata menimbulkan dampak ekonomi yang sangat signifikan. Terutama pada jasa penyeberangan fery Ujung-Kamal. Jumlah arus penumpang mengalami penyusutan 50 persen lebih dibanding sebelumnya, sehingga pengoperasian 17 fery perlu dilakukan pembenahan taktis yang akan menghasilkan kesetaraan pendapatan berimbang antar para pengusaha penyeleberangan.
Ide yang muncul antara lain adalah pemindahan sebagian kapal-kapal fery penyeberangan Ujung-Kamal itu di lintasan penyeberangan lain. Ironisnya pembahasan dalam penentuan solusi pemindahan operasional kapal-kapal fery tersebut di Kantor Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jln. Jatim, Surabaya masih buntu, Kamis (25/6). Sebanyak enam operator feri Ujung-Kamal belum menentukan langkah untuk memindahkan armada mereka ke lintasan penyeberangan lain.
Dari sisi bisnis, idealnya feri yang beroperasi hanya enam armada dari jumlah total 17 armada. Hal tersebut harus dilakukan mengingat tingkat keterisian (load factor ) masing-masing kapal kini tinggal 50 persen untuk penumpang, 35 persen roda dua, dan 15 persen roda empat.
Sesuai dengan pertimbangan bisnis, idealnya feri yang beroperasi tinggal sekitar enam unit dengan empat unit lainnya sebagai cadangan. Pemangkasan armada harus dilakukan karena arus penumpang semakin sepi, kata Manajer Operasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Surabaya Wildan Jazuli, sela rapat pembahasan feri Ujung-Kamal di Kantor Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Jatim, Surabaya. Read the rest of this entry »
“Harapan saya, kehadiran KT Bima 306 dapat memperkuat armada kapal tunda yang telah dimiliki PT. Pelindo III. Kehadirannya semoga dapat melancarkan peningkatan arus kunjungan kapal baik internasional maupun nasional, yang terjadi di lingkungan kerja Pelindo III sejak setahun terakhir,” kata Direktur Utama Pelindo III, Djarwo Surjanto usai meresmikan pengoperasian kapal tunda KT 306.


