tribunindonesia

Harga Cengkeh Melonjak, Petani Termotivasi

In NASIONAL on 3 Juli 2009 at 11:59 PM

MELONJAKNYA harga jual cengkeh kering dari Rp 48.000 menjadi Rp 51.000 per kilogram meningkatkan semangat petani di Kulon Progo untuk memanen cengkeh. Sebelumnya, cengkeh hanya menjadi sumber penghasilan sampingan selain kakao dan kopi karena harga jualnya yang rendah.

cengkeh petani 01Menurut Jemiyem (35), warga Dusun Semaken, Desa Banjararum, Kalibawang, kenaikan harga jual cengkeh kering sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu. Kenaikan harga juga terjadi untuk jenis cengkeh basah dari Rp 16.500 menjadi Rp 16.750 per kilogram.

 Dulu banyak petani yang melepas cengkeh basah karena harga jualnya tidak jauh beda dengan cengkeh kering. Namun kali ini, semua petani berlomba-lomba mengeringkan cengkeh karena selisih harganya amat mencolok, kata Jemiyem, Jumat (3/7).

 Kenaikan harga jual cengkih kebetulan bertepatan dengan musim kemarau sehingga petani tidak mengalami kesulitan saat menjemur cengkeh. Setelah dipetik dari pohon, cengkeh membutuhkan waktu sekitar empat hari untuk dapat kering benar. Cengkeh rata-rata dijemur selama 8-10 jam per hari.

 Cengkeh kering dari Kulon Progo umumnya dipasarkan kepada para pengepul di Semarang dan Kudus, Jawa Tengah. Di kedua kota ini, cengkeh digunakan sebagai bahan campuran pembuatan rokok.

 Kenaikan harga cengkeh juga memicu semangat petani untuk merawat pohon secara lebih baik berupa pemupukan dan pemangkasan teratur. Melalui cara ini, produktivitas pohon bisa naik hingga dua kali lipat untuk satu periode berbuah.

 Satu pohon cengkeh menghasilkan 2-3 kilogram buah cengkeh basah. Jika dikeringkan, bobot cengkeh akan turun menjadi hanya sepertiganya. Rata-rata petani di Kulon Progo memiliki pohon cengkeh antara 50-100 batang sehingga mampu menghasilkan 100 kilogram cengkeh kering per satu kali petik.

 Secara keseluruhan, produksi cengkeh di Kulon Progo terus naik. Menurut Data Badan P usat Statistik tahun 2006, produksinya hanya 84.870 kilogram dan tahun 2007 naik jadi 91.635 kilogram.

 Ditambahkan Suminto (64), warga Dusun Ngaliyan, Ngargosari, Samigaluh, kenaikan harga cengkeh juga mendongkrak harga jual daun dan batang muda untuk keperluan pembuatan minyak atsiri. Jika sebelumnya sampah dari pohon cengkeh ini hanya dihargai Rp 1.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 1.500 per kilogram.

 Pada saat panen cengkeh, petani juga bisa mengumpulkan daun dan batang muda hingga lima kuintal. Dengan mengumpulkan batang muda dan daun, petani juga meremajakan pohon agar bisa lebih produktif pada tahun-tahun berikutnya. 

 “Sekarang, menjual semua bagian pohon cengkeh sudah untung. Mulai dari buah, daun, dan batang, semuanya bisa menghasilkan uang. Tidak seperti dulu, buahnya saja sulit laku,” katanya.

 Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Agus Langgeng Basuki menyampaikan kegembiraannya atas kenaikan harga jual cengkeh kering. Ia mengatakan, sekarang ini menjadi momentum terbaik untuk meningkatkan kembali gairah berkebun cengkeh di kalangan petani perbukitan. Untuk itu, ia akan lebih mengintensifkan penyuluhan bagi petani.

 Selain bernilai ekonomis, tanaman cengkeh juga baik untuk menahan pergerakan tanah sehingga bukit aman dari ancaman tanah longsor. Dengan begitu, petani tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga berperan dalam melestarikan lingkungan. (vd/kom)

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: