tribunindonesia

Orang Samin Memandang Pemilu

In FEATURES, NASIONAL on 20 April 2009 at 4:42 PM
FERGANATA INDRA RIATMOKO
Ilustrasi Kotak Suara

KABUT pagi baru saja luruh di sekitar kawasan hutan jati yang pohonnya
sudah tak lagi rimbun di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan
Margomulyo, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (9/4). Di perkampungan
komunitas masyarakat Samin di dusun tersebut, warga sudah mulai ramai,
sebagian di antaranya anak-anak muda yang bergerombol “nongkrong” di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari tempat pemungutan suara (TPS) 10, menunggu dimulainya pelaksanaan pemilu legislatif 2009 ini.

Sebagian lainnya, terutama para orang tua, tetap pergi bekerja ke sawah.
Sendirian, Hardjo Kardi (73), trah terakhir Samin Surosentiko, sejak
kabut masih mengelayut di dusun yang berada di tengah kawasan hutan
jati itu, sudah memberi makan ikan nila di kolam yang tidak jauh dari
rumahnya.

“Saya harus bertugas ke kantor kecamatan Margomulyo,
sebagai panitia pengawas (panwas),” kata Bambang Sutrisno (27), anak
Hardjo Kardi.

Di ruang tamu atau balai rumah kediaman Hardjo
Kardi, sejumlah kursi panjang berjajar, saling berhadap-hadapan
dilengkapi dengan sejumlah meja. Di dinding ruangan tamu itu,
sedikitnya 15 foto dengan ukuran 10 R dipajang, mulai dari foto Bupati
Bojonegoro, Suyono, Imam Soepardi, Atlan, Santoso, termasuk foto Hardjo
Kardi bersama Bupati Bojonegoro, Suyoto.

Di bagian lain di dekat
deretan jajaran kursi tamu, juga di dinding itu, tiga foto dengan
ukuran besar, salah satunya i foto dalam bentuk lukisan Samin
Surosentiko (Samin Anom), juga foto hitam putih, Surokarto Kamidin
dengan blangkon dan baju kuthung warna hitam.

Meski mengenakan
blangkon, dalam foto itu Hardjo Kardi sudah mengenakan jas warna hitam.
“Surokarto Kamidin itu ayah saya, kalau foto mbah saya, Suro Kidin,
tidak ada karena saya tidak punya,” kata Hardjo Kardi menjelaskan.

Hardjo
Kardi mengaku bangga memasang gambar Samin Surosentiko, juga Surokarto
Kamidin, karena leluhurnya tersebut dianggap pejuang yang berani
melawan penjajah kolonial Belanda. Di era Presiden, Soekarno, orang
tuanya, Surokarto Kamidin tetap dianggap pejuang karena sebagai
generasi penerus gerakan Samin Surosentiko.

Surokarto Kamidin
dengan sejumlah warga setempat yang dikenal sebagai masyarakat Samin,
pada tahun 1964 pernah nekad menemui Presiden Soekarno. Masalahnya,
sejumlah warga di Dusun Jepang, ditangkap polisi, karena mengambil kayu
jati di hutan.

Di masa penjajahan Belanda para pengikut Samin
Surosentiko, yang berada di Blora, Pati, Brebes dan Kudus, Jawa Tengah,
juga di Bojonegoro dan Lamongan, melakukan perlawanan. Yang dilakukan
di antaranya, selain tidak bersedia membayar pajak, juga menebang kayu
jati seenaknya.

Alasan mendasar komunitas masyarakat Samin
sederhana, semua alam pemiliknya adalah Tuhan, tidak ada alasan orang
lain bisa melarang dan mereka melakukan pembangkangan kepada Belanda
dengan diam.

Dari hasil pertemuan di Istana Negara Jakarta
dengan Presiden Soekarno itu, akhirnya, Surokarto Kamidin, mendapatkan
kepastian perlawanan melawan penjajah kolonial Belanda sudah berakhir,
karena Pemerintahan sudah berganti di tangan bangsa Jawa.

“Setelah itu kami tahu pemimpin di negeri ini, bangsa Jawa. Berarti juga Samin, sami-sami amin,” kata Hardjo Kardi berfilsafat.

Dalam arti lain, menurut “wong Samin”, sami-sami amin, bila setuju dianggap sah, karena mendapatkan dukungan rakyat banyak.

Ini
kata Hardjo Kardi, sebagaimana pesan Samin Surosentiko dalam ajarannya
yang masih dipegang teguh turun temurun, komunitas masyarakat Samin
diminta di belakang, kalau sudah ada Pemerintahan Jawa.

Raja Tanah Jawa

Di
masa penjajahan kolonial Belanda dari berbagai catatan yang ada, Samin
Surosentiko pada 8 November 1907 di tengah ribuan pengikutnya di sebuah
“oro-oro” (tanah lapang tanpa pepohonan) yang tidak disebutkan
lokasinya memproklamirkan diri sebagai raja tanah Jawa.

Dari
dukungan para pengikutnya di Blora juga di Bojonegoro, Samin
Surosentiko mendapatkan julukan, Panembahan Suryongalam dengan kitab
andalannya, Jamus Kalimosodo. Gerakan Samin Surosentiko tersebut, juga
berawal dari gerakan sederhana mendatangi dan berbicara dengan sejumlah
orang baik di balai desa juga tempat lainnya.

Gerakan Samin
Surosentiko mulai mengkristal sejak 7 Februari 1889 di oro-oro
Bapangan, Blora, Jawa Tengah, pada malam hari, dengan diterangi obor,
Samin Surosentiko, mengumpulkan ribuan para pengikutnya dan
mengampanyekan gerakan berdirinya kerajaan Jawa.

Hal yang sama
juga dilakukan pada 11 Juli 1901 di lapangan Panggonan, Desa Kasiman,
Kecamatan Kasiman, Bojonegoro, juga malam hari dengan penerangan obor
mengampanyekan gerakan politik, sekaligus kejatmikaan. Dari gerakan
tersebut, diperkirakan Samin Surosentiko, mampu memiliki pengikut
sekitar 1.900 KK yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, termasuk Bojonegoro. Gerakan yang semakin menguat tersebut
akhirnya, meresahkan Pemerintah kolonial Belanda, sehari setelah
memproklamiasikan sebagai raja tanah Jawa, Samin Surosentiko ditangkap
dan dibuang ke Nusakambangan.

Samin ditangkap di basis
perlawanannya di Desa Plosokediren, Kecamatan Randublatung, Blora, Jawa
Tengah. Tetapi, versi lain ada yang menyebutkan Samin Surosentiko juga
sejumlah pengikut ahlinya dibuang ke Sawahlunto, Sumatra dan meninggal
tahun 1914.

Di pembuangan, sebelum meninggal, Samin Surosentiko sempat menulis wasiat, salah satunya berjudul, “Metrum Duduk Waloh“. Wasiat itu isinya, Nagaranta,
niskala, kanduga arum hapraja mulwikang gati, gen ngaup miwah samungku,
nuriya hanggemi ilmu rukunarga tan kana blekuthu”.

Dari
berbagai upaya yang dilakukan untuk menterjemahkan wasiat itu bisa
diartikan: … sebuah negara bisa kuat bila mempunyai peranan penting
yang dapat menentukan peraturan dunia, kalaupun unsur pemerintah salah
satunya adalah kelompok yang membuktikan kebijaksanaan dan menghormati
kepercayaan para leluhurnya.

Menyangkut wasiat itu, sebagaimana
dituturkan Hardjo Karsdi, tidak terlalu sulit dimengerti, karena di
dalam membaca wasiat itu, tidak hanya mempergunakan otak, tetapi juga
harus melengkapi dengan rasa tingkat tinggi.

Hal yang sama juga
harus mempergunakan otak selain rasa, dalam memahami pitutur atau
wejangan dari peninggalan Samin Surosentiko, dalam bentuk puisi,
macopat, gancaran, juga primbon dan kepek sebagai pedoman hidup yang
masih banyak disimpan komunitas masyarakat Samin di Bojonegoro dan
Blora, Jawa Tengah yang masih tersisa.

Di antaranya dalam bentuk
buku dengan judul. “Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kesejaten, Serat
Uri-uri Pambudi dan Jati sawit. Dalam pandangan Hardjo Kardi, politik
yang berkembang sekarang jauh dari ajaran Samin Surosentiko.

Semua
harta benda yang ada, masih dianggap milik para politisi. Sesuai
kebiasaan di komunitas warga Samin, harta benda bisa dimanfaatkan siapa
saja yang membutuhkan.

Dia mencontohkan, keluarganya pernah
kehilangan dua buah TV berwarna. Kehilangan TV itu, tidak pernah
dilaporkan kepada polisi dan beberapa hari kemudian dua buah TV itu
kembali disertai surat dari pengambilnya yang isinya, TV dikembalikan
karena tidak laku dijual.

Di dalam wasiat, Metrum Duduk Waloh
tersirat, adanya “Ageman keprajan”, yang mengajarkan politik
pemerintahan, meskipun sangat sederhana. “Kalau dalam pemilu legislatif
ini semua caleg mempergunakan ajaran Samin tidak ada pertentangan
semuanya rukun,” katanya menegaskan.

Ini dibuktikan Hardjo Kardi
sendiri dalam pemilu legislatif 2009 ini, berusaha menerapkan ajaran
Samin Surosentiko yang masih diugemi (dipegang teguh) yakni tidak ikut
memilih dalam pemilu legislatif 2009 ini. Dia juga tidak mengurusi
surat pemberitahuan datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Bapak
tujuh anak 12 cucu itu, mengungkapkan, prinsipnya tidak memilih
tersebut, dengan pertimbangan sebelum tahapan kampanye dan masa
kampanye, tidak terhitung jumlah caleg dari DPR RI, DPRD Provinsi dan
DPRD Kabupaten dari berbagai daerah di Indonesia, yang menemui dirinya.

Tujuan
semua caleg tersebut hanya satu yakni meminta dukungan dan restu agar
terpilih sebagai anggota legislatif. Meskipun para caleg tersebut tidak
dari daerah pemilihan (dapil) Bojonegoro, ada juga dari daerah Jawa
Tengah, Jakarta juga Sulawesi. “Semua yang datang saya dukung, tetapi
jadi atau tidak bergantung keberuntungan,” tuturnya.

Karena
kedatangan para caleg itu, Hardjo Kardi merasa diposisikan sebagai
orang tua dan semua caleg yang datang harus diposisikan sebagai anaknya
yang harus dijaga hatinya.

“Kalau saya ikut memilih, berarti saya menimbulkan rasa “kemiren” (iri) kepada caleg lainnya, “katanya mengungkapkan.

Pandangannya,
kalau dalam pemilu dirinya diperbolehkan memilih, semua caleg yang
datang kekediamannya akan dipilih. Sesuai prinsip dasar ajaran Samin
Surosentiko yakni, “Orang hidup tidak boleh srei, dengki, dahwen,
kemiren lan siya marang sapadha-padaha urip (orang hidup tidak boleh
tamak, mendengki, seenaknya, iri dan sewenang-wenang kepada sesama
hidup).

Tidak jauh berbeda dengan gerakan politik Samin
Surosentiko, yang mengajarkan diam melawan penjajah kolonial Belanda.
Dalam pemilu legislatif 2009 ini gerakan yang dilakukan Hardjo Kardi
juga diam, tidak ikut memilih.

Tetapi, dia mengaku, tidak
berusaha memengaruhi keluarganya untuk tidak ikut memilih. Hal yang
sama pernah dilakukan ketika pilkades di Desa Margomulyo, Kecamatan
Margomulyo. Karena 10 calon kades yang bertarung datang menemui
dirinya, akhirnya Hardjo Kardi juga tidak ikut mencoblos.

Termasuk
ketika pilkada di Bojonegoro, tiga pasangan pilkada semuanya datang ke
kediamannya dan diputuskan juga tidak ikut memilih. Berbeda dengan
pilgub Jawa Timur, katanya, dirinya datang ke TPS untuk memilih.

Alasannya,
sebelum pelaksanaan pemilihan ada utusan pasangan Karsa datang ke
kediamannya dan menyampaikan pesan meminta dukungan dan restu.
Sedangkan pasangan cagub dan cawagub Jawa Timur lainnya atau timnya
tidak ada yang datang kekediamannya.

Pedomannya, menurut dia,
kalau politisi yang datang ke kediamannya lebih dari satu, termasuk
pada pilpres 2009 ini, dirinya tidak akan ikut memilih. Dirinya, tidak
akan berani membohongi dirinya sendiri karena keingginan politisi yang
datang tujuannya meminta doa restu dan dukungan sedangkan dirinya jelas
akan memberi permintaan itu.

“Saya tidak pernah melarang atau
menyuruh keluarga saya, yang jelas keluarga di sini yang berjumlah 10
orang semuanya ikut memilih dalam pemilu legislatif ini,”katanya.

Termasuk
anaknya, Bambang Sutrisno  yang juga bertugas sebagai Bendahara Panitia
Pengawas (Panwas) Pemilu Kecamatan Margomulyo, datang ke TPS 11 untuk
mencentang yang selanjutnya berangkat menjalankan tugasnya sebagai
Panwas.

Di antara puluhan pemilih lainnya, Ny Sidah istri Hardjo
Kardi, datang ke TPS, termasuk ikut mengantre bersama warga lainnya
dengan duduk di atas kursi kayu panjang ditemani anaknya, Sri Purnami
(35) dan menantunya, Novi (30), sebelum akhirnya dipanggil untuk masuk
bilik suara.

Diamnya Hardjo Kardi, juga tidak memengaruhi 299
daftar pemilih tetap (DPT) di TPS 10 dan 292 DPT di TPS 11, di Dusun
Jepang yang tingkat kehadiran untuk mempergunakan hak pilih dalam
pemilu legislatif ini mencapai 75 persen.

Menurut Bambang
Sutrisno, sepanjang pengamatan dirinya bertugas sebagai Panwas, tidak
ada satupun kejadian pelanggaran administrasi atau pelanggaran tindak
pidana pemilu di Kecamatan Margomulyo.

“Apalagi di dusun jepang
ya hampir tidak ada warga yang bersitegang untuk mempertahankan
calegnya atau parpol pilihannya, “katanya menambahkan.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.